Pantai Misteri di Yogya “PARANG TRITIS”
30 Des 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Tempat Wisata Tag:Bantul, Jogjakarta, Pantai, Parang Tritis, turis, wisata, Yogyakarta
“Yuk ke Paris!”
“Paris? Jauh Banget?”
“Hehehehe… ini seperti kata Jerman yang artinya jejer kauman. Kalau Paris ya pasti Parang Tritis!”
Bagi orang Yogya, maka Paris memang dikenal sebagai kependekan dari wisata Pantai Parang Tritis. Inilah pantai legendaris di Yogyakarta, karena penuh dengan cerita legenda yang misterius dari berbagai sumber. Tokoh Ratu Laut Selatan selalu dihubungkan dengan lokasi ini, sebagai pintu masuk kerajaan Laut Selatan yang dipimpin oleh seorang Ratu Cantik tapi sangat menakutkan.
Nyi Roro Kidul, sebuah nama seram yang membuat kita langsung membayangkan sebuah wajah yang cantik, anggun tapi penuh dengan tebaran ancaman maut di sekelilingnya.
Bagi yang takut dengan tebaran ancaman maut itu, memang sebaiknya tidak usah datang mengunjungi Paris. Lebih baik memilih lokasi wisata yang lain, misalnya Candi Prambanan, Borobudur ataupun Ketep Pass yang dingin sejuk di samping Gunung Merapi.
Pantai Paris mempunyai keunikan yang membuat wisatawan, domestik maupun asing, selalu ingin datang lagi ke lokasi ini. Yang pertama tentu ombaknya yang sangat menawan, ditambah tebing bukit yang membuat kita merasa sedikit aneh ketika merasakan deburan ombak di dekat bukit karang itu. Suasananya sangat menghanyutkan.
Cuaca yang panas juga tidak begitu terasa di pantai ini. Sangat beda dengan pantai Samas yang letaknya bersebelahan dengan Paris. Disamping ombak pantai Samas lebih ganas, cuaca panas juga terasa menyengat di Samas.
Pemandian air hangat juga tersedia di Parang Wedang. Sudah dibuatkan beberapa kamar mandi yang disitu kita bisa mandi sepuasnya dengan air panas yang asli dari sumbernya.
Pas disamping terminal utama ada sebuah kolam renang yang airnya sangat jernih dan tawar (bukan air asin). Kalau kita mau sedikit bercapek naik bukit, maka dari kolam renang ini kita bisa naik sedikit ke puncak bukit dan merasakan indahnya suasana di bukit itu. Jaman dahulu, konon ceritanya, Pangeran Diponegoro suka sekali duduk di atas bukit itu memandang ombak pantai yang selalu berkejaran tak kenal berhenti.
Sultan Yogyakarta memang selalu dikaitkan dengan sang Penguasa Laut Selatan, begitu juga sang Pangeran Diponegoro, pangeran kecintaan warga Yogyakarta. Sekarang sudah banyak bangunan di bukit itu, sehingga sedikit mengurangi suasana eksotis di bukit, tetapi bagi yang bisa mengabaikannya, maka suasana di bukit itu pasti akan tetap nyaman dinikmati.
Seperti tempat wisata di Yogya yang lain, maka kuda Bendi dan Kuda tunggang jinak juga ada di lokasi. Biaya sewanya sama dengan yang ada di Prambanan, 20.000 sekali putaran. Bedanya, kalau di Prambanan, kudanya sebagian adalah kuda dari Kopeng, maka di Paris, kudanya dari warga Bantul sendiri.
Kuda di Paris terlihat lebih besar dan lebih gagah dibanding kuda di Prambanan.
Sambil naik kuda, maka pemilik kuda akan bercerita tentang apa saja yang kita sukai, terutama tentang Paris, baik di jaman ini maupun di jaman dulu. Cerita-cerita mistis bisa keluar kalau memang kita menginginkannya.
Disamping itu, sang pawang kuda ini juga berjalan di samping kita sambil memberi pelajaran singkat tentang cara mengendalikan kuda. Mulai dari cara belok, ke kanan, ke kiri, berhenti, maju lagi, setengah berlari dan segala macam yang ingin kita tahu tentang kuda. Jika kita berani dan bisa, maka kekang akan diberikan pada kita 100%
Kalau sudah memegang kekang kuda, maka rasanya kita jadi pahlawan berkuda di jaman dulu. Berjalan santai di samping deburan ombak pantai Selatan dan berpapasan atau mendahului para pejalan kaki yang ada di sepanjang bibir laut selatan.
Souvenir di Paris juga kelihatannya sudah dipasok oleh beberapa pedagang yang juga memasok di seluruh lokasi Wisata Yogya. Harganya sama dan seragam. Selisih akan kita dapat kalau kita memang penduduk Yogya asli dan terus menawar sampai harga dasarnya. Aku sendiri memilih tidak menawar, karena harganya memang sudah murah dan hitung-hitung berderma untuk mereka yang mau merawat lokasi pantai yang indah ini.
Pulang dari Parang Tritis, kalau suka buah-buahan, terutama buah Naga, bisa mampir di dekat pintu masuk Parang Tritis. Kalau dari arah Paris, maka kebun ini ada di sebelah kiri. Silahkan petik sendiri dan bayar langsung dengan harga yang sangat murah. Sebaiknya juga ditawar, tapi kalau tidak dikasih ya sudah, harganya sudah sangat murah. Hanya 20.000 per kg.
Selamat berlibur di tempat wisata kota Yogyakarta Berhati Nyaman. Salam sehati
Prambanan yang semakin Asri : Wajib dikunjungi
29 Des 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Tempat Wisata Tag:Candi, Hindu, Jawa Tengah, Prambanan, Trans Jogja, wisata, Yogyakarta
“Ke Yogya tidak mampir ke Prambanan dan tidak bikin foto disana, maka tidak usah cerita tentang Yogya deh. Pasti dianggap HOAX !:-)”
Prambanan yang semakin asri memang terus mempesona Wisatawan asing/domestik yang datang ke Jawa Tengah maupun Daerah Istimewa Jogjakarta. Pengunjung terus memadati lokasi ini di saat musim liburan. Para pedagang souvenir, makanan dan para penjual jasapun bisa bernafas lega saat musim liburan. Senyum para pedagangpun bisa berkembang dengan ikhlas.
Saat ini setelah dipugar dan dirawat dengan baik, Prambanan memang makin cantik, asri dan teratur. Kita tidak perlu takut kejaran para penjual jasa. Mereka dengan tertib menawarkan dagangannya tanpa memaksakan kehendak. Memang tidak perlu ada pemaksaan disini, karena semua barang yang ditawarkan sungguh murah dan berkualitas.
Satu kaos katun ditawarkan dengan harga 35 ribu per buah, sementara kaos yang lebih rendah kualitasnya ditawarkan hanya 15 ribu per kaos. Dengan harga seperti itu, rasanya tidak tega jadinya untuk menawar.
Naik kuda juga 20 ribu per putaran dan cukup bayar 50 ribu untuk tiga ekor kuda. Lumayan juga untuk nampang di seputaran Candi Prambanan meskipun kudanya kecil-kecil,
Di lokasi Candi utama, ada buku sejarah tentang Prambanan yang dijual sangat murah, hanya 2.000 rupiah per buku. Jangan-jangan aslinya gratis ya untuk pengunjung?
Prambanan sebuah candi Hindu dengan sebuah kisah legendaris Roro Jonggrang, memang menarik untuk dikunjungi. Para traveller yang sekaligus penggemar fotografi, tentu tidak terasa sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil gambar Candi dari berbagai sudut.
Seperti tidak pernah puas dengan hasil jepretannya, mereka terus mengambil gambar candi Prambanan, baik dari jauh maupun dari dekat. Mulai dari yang berkamera di ponsel masing-maisng, atau kamera saku sampai para profesional yang menyandang camera dengan lensa tele di atas 300 mm.
Hari ini aku ke Prambanan naik taksi sekeluarga dan pulangnya naik Bus Trans Jogjakarta yang nyaman. Biaya naik taksi dari Kuncen sekitar 100 ribu rupiah. Biaya becak dari Candi ke Halte TJ (Trans Jogja) sepuluh ribu per becak dan biaya naik TJ 3.000 rupiah per kepala.
Sambil nunggu di halte TJ, sempat makan nasi uduk Lele goreng. Rasanya enak, gurih dan harganya sangat murah juga. Pas selesai makan langsung bayar karcis TJ dan naik bus 1A. Di Bandara Adi Sucipto ganti bis 1B dan di Halte bis Taman Pintar Jogjakarta ganti lagi dnegan bis 2B. Sampailah di Halte depan SMA Negeri 1.
Sungguh bis TJ yang nyaman, apalagi saat dari Prambanan ke Bandara Adi Sucipto. Penumpangnya hanya kami sekeluarga. AC-nya sangat memadai dan tempat duduknya juga sangat empuk. Untuk bis 1B kursinya agak sedikit lebih keras dan terasa lebih nyaman naik bis 1A.
Malam itupun kita bisa tidur nyenyak. Besok pagi, sehabis subuh mau nyoba ke Paris (Parang Tritis) untuk menikmati wisata Pantai. Pasti tidak kalah indahnya dibanding Prambanan.
Laporan mudik pak Iriyanto via milis
25 Agu 2011 4 Komentar
in lalu lintas Tag:blackberry, info, Pantura
Dear all,
Informasi perjalanan mudik via pantura slawi :
start dari cikarang jam 2 pagi, saat ini jam 07.30 sudah sampai Brebes dg kecepatan 60-80 km/jam, melewati tol kanci lanjut tol pejagan keluar arah slawi.
Kondisi jalan pantura sudah mulus dg marka yang jelas, masuk cirebon jalan aspal baru marka belum dibuat.
Sempat antri sebentar di tol kanci gerbang ciperna.
Keluar tol pejagan pun jalan sudah cukup bagus.
Sekian dulu, nanti saya update lagi…
*salam mudik
Iriyanto
Sent from my BlackBerry®
Mudik tak perlu tips lagi, sudah ada lengkap di Gadget
24 Agu 2011 2 Komentar
in tips Tag:arus balik, foursquare, gadget, google maps, mudik, tips, waze
Tahun ini terlihat persiapan tim pemantau pemudik tidak seheboh tahun lalu. Mungkin para pemudik sudah lebih canggih teknologinya, sehingga para pemantau pemudik cukup menyediakan berita secukupnya saja. Lebih nyaman untuk memantau akun twitter rekan mereka yang sedang mudik dibanding membaca berita di TV.
Para pemudik yang sudah berbekal waze, maps (Gugel) atau aplikasi social media yang diciptakan untuk para traveller pasti sudah merasa tidak perlu lagi tips mudik yang kadang kala sudah kadaluwarsa. Lihat saja kalau kita search peta mudik 2011, masih saja ketemu peta mudik tahun-tahun lalu.

Peta Jakarta di Waze
Hal tersebut terjadi karena peta mudik sudah ada di gadget masing-masing. Aplikasi 4Sqr juga dipastikan akan membuat para pemudik merasa begitu dekat. Mereka yang berteman di 4Sqr akan dengan befgitu cepat mengetahui posisi teman, lengkap dengan kondisi terkini yang dialami sang teman.
Update besar-besaran akan dilakukan oleh waze, bila para wazer mengaktifkan record jalan baru di gadget mereka. Akan muncul gambar tandem roller, di layar monitor, yang membuka jalan baru (peta baru) dan server waze akan mencatatnya dalam data base mereka.

Foursquare di gadget Ipad
Bagi yang belum mau mengaktifkan gadget mereka dengan aplikasi socmed versi android atau iOS, silahkan nikmati tips di bawah ini.
Ini tipsnya bila ingin setelah mudik masih bisa tersenyum.
- Pastikan kita memilih hari arus balik tidak pada saat puncak arus balik
- Pastikan saat kita sampai di rumah lagi waktunya bukan tengah malam. Usahakan pagi atau siang hari.
- Pastikan hari kembali dari mudik bukan sehari sebelum masuk kerja ,tapi minimal dua hari sebelum masuk kerja lagi, sehingga ada kesempatan untuk tidak “jetlag”.
- Bawa oleh-oleh semampu kita untuk tetangga kita. Bisa dihidang saat ada tetangga datang atau kita antar sambil bersilaturahmi dengan tetangga.
- Cek kondisi mobil di bengkel resmi (kecuali anda mempunyai bengkel amatir yang sangat meyakinkan).
- Cek spooring kaki-2 (kalau handling mobil gak enak/lari ke kiri/kanan)
- Cek balancing roda (kalau naik mobil seperti naik kuda padahal jalan mulus)
- No.2&3 tidak harus dilakukan kalau handling masih mantap.
- Kempesin semua ban,ganti dengan nitrogen (lebih tahan panas)
- Bawa bohlam lampu besar cadangan, pilih yang murah aja sekitar 10rb-an.
- Kalau ada tembakau di rumah jangan dibuang, ini untuk kondisi darurat, bila AC mati dan terjebak hujan (oleskan pada kaca bagian dalam). Bisa juga dengan memakai shampo.
- Siapkan uang receh yg banyak.
- Silahkan membawa perlengkapan standard; tools kit, dongkrak, ban serep, kotak P3K, segi 3 pengaman (bukan CD), kunci roda, senter, syukur2 punya pompa electric [sambung dengan colokan listrik]. Ember dan beberapa biji air aqua 1 literan [untuk diminum dan siapa tahu radiator tiba-tiba ngadat dan minta minum terus]
- Cek kondisi tubuh. Tanya pada diri sendiri, seberapa kuat kita sanggup menyetir. Kalau tidak yakin sebaiknya pakai sopir profesional (tarif berkisar 150-200 ribu/hari), atau cari co pilot.
- Beri briefing pada seluruh peserta mudik, bahwa selama perjalanan wajib pasang muka senyum, karena muka masam tidak bermanfaat dan muka dengan senyum dapat menghilangkan penat di jalan.
- Bagi yang mengikuti milis, segera lapor untuk menonaktifkan kenaggotaan untuk sementara atau minta terima rangkuman imil harian (1 imil satu hari)
- Meskipun masih bulan puasa, ada baiknya bawa makanan yang terjamin gizi dan kebersihannya, karena saat mudik banyak warung yang tidak sempat nyuci piring dengan baik [akibat kelarisan]. Warung yang terjamin kebersihannya tapi kurang bergizi adalah fast food fried chicken.
- Atur tumpukan barang mulai dari yang paling tidak diperlukan di jalan sampai yang sewaktu-waktu diperlukan di jalan.
- Pilih SPBU yang besar untuk ke toilet, jadi kalau ngisi bensin jangan penuh-penuh biar bisa mbagi rejeki ke beberapa pom bensin [ini saran tanpa dasar tapi logis lho..!:-)]. SPBU yang kurekomendasikan adalahSPBU Candimas.
- Jangan pernah merasa benar meskipun anda memang berada di jalan yang benar. Risikonya ditabrak orang yang salah jalan, sehingga nggak sampai ke kampung malah masuk rumah sakit. Mengalah setahun sekali banyak pahalanya. Amin.
- Menyalip rombongan truk/bus dari kiri kadang bisa membebaskan diri dari stress [karena truk/bisnya jalan bak kura-kura lapar], tapi risiko perlu diperhitungkan masak-masak [lihat item no 16]
- Menjelang lebaran, hampir semua majalah (terutama majalah gadget) menyediakan tips untuk mudik. Segera ambil bagian petanya, karena hal sepele ini kadang-kadang diperlukan di jalan.
- Pastikan HaPe dalam kondisi full charge. Bila membawa beberapa HaPe, cukup salah satu atau salah dua yang dihidupkan. Bila dianggap perlu beli kartu perdana beberapa biji [dari beberapa operator], sehingga selalu dapat sinyal dimanapun berada.
- Pastikan pamit dengan pak RT dan Satpam, sehingga mereka tahu kalau kita sudah tidak di rumah lagi. Tinggalkan nomor hape yang bisa dihubungi. Syukur-syukur bisa ninggalin sangu buat satpam.
- Pilih waktu berangkat sesuai kebiasan anda menyetir, atau kebiasaan sopir menyetir. Berangkat pagi dapat menikmati perjalanan, tetapi lambat. Berangkat malem lebih cepat tapi ada bahaya ngantuk. Bila bingung, sholat dulu, minta petunjuk pada Tuhan.
- Sebelum berangkat, pastikan lagi semua kabel listrik sudah tercabut dari colokannya [lemari es, tivi, setrikaan, radio, dll]. Regulator tabung gas sudah dilepas dari tabungnya. Semua pintu sudah terkunci. Taruh sandal beberapa biji di depan pintu [mengesankan ada orang di dalam]. Bila memungkinkan pasang lampu sensor [malam nyala dan siang mati].
- Bila berlangganan koran, pastikan sudah bilang sama agen agar tidak mengirim koran sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
- Bawa ID Card [KTP, SIM, STNK] yang berlaku [pasport gak usah dibawa gak papa]
- Berdoa sebelum berangkat. Berdoa sepanjang jalan dan bersyukur bila sudah sampai dengan selamat.
- Bagi yang membawa anak kecil, pastikan semua keperluan dan kebiasaan anak sudah kita pahami, sehingga kita sudah punya jadwal kapan berhenti dan apa saja yang perlu dibawa untuk mengatasi kerewelan anak.
- Bagi pengguna Android, Blackberry, Ipad, silahkan menjalankan aplikasi waze untuk memantau perjalanan. Bisa juga dengan fasilitas Google Maps.
Bagi pemudik dengan sepeda motor, ada beberapa contekan dari bengkel AHM. Ini tipsnya :
- Pastikan kondisi badan sehat. Lakukan pemanasan fisik dan persiapan mental/emosi.
- Gunakan perlengkapan standard [helm full/half face, sarung tangan, jaket berwarna terang]
- Siapkan perlengkapan standard [kunci pas/busi, tang, obeng min-plus, lap dan peta mudik]
- Masukkan dulu ke bengkel resmi, untuk pemeriksaan lengkap [bensin, fuel meter, aki, kelistrikan, oli, ban, trantai, rem, kebocoran oli, lampu, kaca spion dan klakson]
- Istirahat setiap 1-1,5 jam perjalanan. Cari tempat yang bersih untuk ISHOMA [pom bensin besar, warung fast food, dll] hindari warung yang terlalu laris [nyucinya sering kelupaan], jadi bagi-bagi rejeki ke warung yang kurang laris [tapi bersih dan murah]
- Cukup dua orang untuk satu sepeda motor, jangan emmaksakan diri untuk mengajak anak kecil
- Berhenti jika ingin menerima talipon [HaPe]
- Tidak salah membawa jas hujan
- Saat jalan beriringan, jaga jarak aman dan hindari ngobrol dengan pengendara lain. Kalau nggak kepaksa, jangan nyalip deh [apalagi dari sisi kiri]
- Di jalan bergelombang, pakai posisi off roader [pantat diangkat sedikit, sehingga kaki ikut menjadi peredam kejut]
- Pastikan HaPe dalam kondisi full charge. Bila membawa beberapa HaPe, cukup salah satu atau salah dua yang dihidupkan. Bila dianggap perlu beli kartu perdana beberapa biji [dari beberapa operator], sehingga selalu dapat sinyal dimanapun berada. Jangan lupa bawa chargernya.
- Ini yang sulit; bawa barang secukupnya, sesuaikan dengan kemampuan motor atau risiko motor tak terkendali akan menimpa anda.
- Sabar dan jauhkan emosi sesaat, patuhi rambu-rambu lalin. Biarkan orang lain tidak patuh, tapi anda HARUS PATUH ! [ngerti nggak??!?? He..he..he.. kok malah aku yang emosi...!:-)]
- Pastikan pamit dengan pak RT dan Satpam, sehingga mereka tahu kalau kita sudah tidak di rumah lagi. Tinggalkan nomor hape yang bisa dihubungi. Syukur-syukur bisa ninggalin sangu buat satpam.
- Sebelum berangkat, pastikan lagi semua kabel listrik sudah tercabut dari colokannya [lemari es, tivi, setrikaan, radio, dll]. Regulator tabung gas sudah dilepas dari tabungnya. Semua pintu sudah terkunci. Taruh sandal beberapa biji di depan pintu [mengesankan ada orang di dalam]. Bila memungkinkan pasang lampu sensor [malam nyala dan siang mati].
- Bila berlangganan koran, pastikan sudah bilang sama agen agar tidak mengirim koran sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
- Bawa ID Card [KTP, SIM, STNK] yang berlaku
- Bagi yang ikut milis, segera lapor untuk menonaktifkan keanggotaan untuk sementara atau minta terima rangkuman imil harian (1 imil satu hari)
- Berdoalah sebelum melakukan perjalanan.
- Bersyukur di setiap saat.
Mari berbagi tips mudik. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.
Salam SEHATI
+++
Foto dari internet
Artikel dari Kompasiana
Mampukah kita mencintai istri kita tanpa syarat..
12 Agu 2011 4 Komentar
in Uncategorized Tag:kisah nyata, selingan
Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo (?), Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal Dan Investment, Beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia
Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.
Silahkan baca Dan dihayati.
*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* – - – sebuah perenungan
Buat para suami baca ya….. Istri & calon istri juga boleh..
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah Senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi Dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah Istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap Hari Pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Ru tini tas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal is bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu Hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ‘ Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak Ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak……. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu’ . Dengan air Mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya ‘sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian’..
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.’Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. .tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.’
Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk Mata ibu Suyatno.. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi Nara sumber Dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno “Kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2… Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita. ’Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam
Perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, Pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, Dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati Dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta Kita bersama..Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari Penggantinya apalagi dia sakit,,,’
BILA ANDA MERASA BAHAN RENUNGAN INI SANGAT BERMANFAAT BAGI
ANDA DAN BAGI ORANG LAIN,
MOHON KIRIM EMAIL INI KE TEMAN, FAMILY DAN KERABAT ANDA LAINNYA
SEMOGA BERMANFAAT
Monumen Yogya Kembali
06 Jan 2011 2 Komentar
in Tempat Wisata Tag:History, Indonesia, monjali, monumen, Museum, yogya kembali, Yogyakarta
Ke Yogya?
Jangan lupa mampir ke Monjali alias Monumen Jogja kembali. Monumen/museum Jogja Kembali terletak di sebelah utara kota Yogyakarta, tepatnya di pinggir Ring Road utara, tepat di sebelah timur perempatan jalan Magelang dengan Ring Road utara.
Monumen yang indah ini ternyata memang sangat layak untuk dikunjungi, terutama mereka yang cinta akan Indonesia dan ingn mengharagai pahlawannya. Di museum ini serasa kita berhadapan langsung dengan peristiwa Yogya kembali beberapa puluh tahun silam.
Tidak hanya suara merdu yang menjelaskan suasana saat itu tetapi penampilan patung-patung yang sangat mirip aslinya membuat suasana makin terbentuk. Kita bisa melihat patung presiden Soekarno yang legendaris, Sudirman yang kharismatik maupun Sultan HB IX yang penuh wibawa meskipun wajahnya terlihat sangat muda.
Bagi penduduk kota Yogyakarta tentu lebih berkesan lagi, karena bisa melihat suasana stasiun tugu, hotel tugu di masa puluhan tahun lalu dalam bentuk yang sangat mirip Pemeliharaan ruangan oleh para “janitor” juga membuat kaca yang membatasi penonton dan ruangan patung seolah tanpa kaca pembatas.
Setelah puas menyaksikan beberapa ragkaian peristiwa di sekitar tahun 1949 itu, maka ada satu ruangan lagi yang perlu dilihat, itulah ruang sunyi, ruang untuk berdoa. Sayangnya ruang ini jadi kurang bermakna karena banyaknya pengunjung yang berbicara di ruangan itu. Gema yang terpantulkan oleh dinding ruangan membuat ruangan itu kelihatannya tidak akan pernah sunyi akan suara.
Di lantai 1, di bawah ruangan patung, kita dapat melihat secara langsung tandu yang sangat lengendaris, yang dipakai Sang Jenderal Besar Sudirman. Itulah tandu darurat yang sebenarnya adalah sebuah kursi rotan biasa yang diikat dengan beberapa kayu tambahan agar yang duduk di kursi itu dapat menikmati perjalanan tanpa terganggu cuaca panas dan jalan yang berbatu.
Bila hujan tiba, tentu Pak Dirman tetap akan kehujanan dan kita bisa membayangkan betapa patriotiknya para pejuang kita di jaman dulu. Sudirman memang fenomenal dan kharismanya tetap tidak luntur sampai saat ini.
Banyak sekali barang-barang tempoe doeloe yang ada di museum ini dan semuanya dipajang dengan komposisi dan posisi yang cukup nyaman untuk dilihat. Yang sudah lupa pada wujud senthir (lampu minyak) jaman dulu, bisa melihatnya di museum ini.
Cindera mata yang murah meriah juga ada di museum ini, sehingga sangat memadai untuk oleh-oleh teman-teman yang tidak bisa diajak ikut serta. Soal kualitas memang tidak bisa dibandingkan dengan barang yang bermerk, tetapi sebagai ujud cindera mata sudah cukup memadai.
Kuliner yang ada di museum ini juga beraneka ragam dan dikemas dengan model stand-stand mini di berbagai pojok ruangan, di pinggir kolam maupun yang di luar lokasi museum. Yang berada di sekitar museum hampir semuanya berupa makanan ringan sampai makanan semi berat. Di luar pagar museum barulah kita bis amenikmati makanan berat dengan berbagai macam seleranya.
Lebih ke timur sedikit ada resto besar yang mempunyai tempat parkir cukup luas, sehingga museum ini sangat cocok untuk mereka yang berasal dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Yang tidak nyaman duduk di bawah tenda dengan naungan pohon rindang, bisa memilih makan di resto besar di dekat museum. Bagi yang ingin berhemat bisa masuk ke tenda dan makan sepuasnya dengan biaya yang khas Yogya, murah meriah.
Permainan di museum ini dulu cukup lengkap, ada balon udara, ATF, dll, tapi saat ini kedua mainan ini sudah tidak terlihat di museum ini. Yang masih bisa dinikmati oleh para pengunjung adalah olah raga air (kapal kayuh), flying fox, sepeda tandem dan becak.
Pengunjung dipacu adrenalinnya dengan menaiki menara yang cukup tinggi sebelum dapat meluncur dengan santai melalui kolam dan pintu masuk museum.
Becak mini yang disewa 15.000 untuk dua kali putaran juga terlihat laris manis digemari para pengunjung. Tidak terlihat becak nganggur di lokasi parkirnya. Begitu selesai disewa, sudah ada penyewa lain yang antri untuk mencoba nikmatnya naik becak. Jadi ingat kaset Basiyo mBecak yang sangat fenomenal di tahun 70-an dulu.
Kalau ada kekurangan di museum ini, maka adalah panasnya lokasi saat matahari berada di atas kepala kita. Mungkin bisa dipikirkan tambahan shelter pelindung untuk mereka yang ingin menyaksikan keluarganya bermain becak, flying fox atau sekedar jajan makanan kecil.
Kisah Mudik 2010 (2): Terhalang Banjir dan Derita Macet Sepanjang Malam
16 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Dari Garut, kendaraan kami melaju kencang menyusuri pebukitan yang teduh namun minim penerangan lampu jalan. Pak Heru mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dibelakang, Alya terbatuk-batuk tak bisa tidur. Rupanya radang tenggorokannya sejak kemarin belum sembuh juga. Mungkin karena udara dingin menyebabkan alergi batuknya kambuh. Di Singaparna, kami mampir sejenak di apotik Kimia Farma membeli obat batuk untuk Alya.
Setelah minum obat, Alya tertidur pulas. Rizky memilih untuk tidur di pangkuan saya, di kursi depan samping Pak Heru. Jalanan yang meliak-liuk tak urung membuat saya mengantuk. Sudah pukul 20.30 malam saat itu. Saya pamit mau tidur sebentar ke Pak Heru yang masih terus waspada mengemudikan mobil.
Saya terbangun ketika malam mendekati pucuknya. Kami lantas singgah sejenak di Rest Area SPBU Jatilawang Wangon yang luas. Di tempat parkir kendaraan terlihat begitu padat, kami agak susah mencari tempat parkir.
Kami lalu turun dan masuk ke area restoran untuk minum teh hangat. Saya dan istri menuju ke Mushalla SPBU Jatilawang untuk menunaikan sholat Isya.
Kami terkejut, lantai Mushalla sudah penuh orang yang tidur tergeletak. Nampaknya mereka kebanyakan adalah pemudik sepeda motor yang letih dan ingin beristirahat. Dengan susah payah, sambil “nyempil-nyempil” kami berhasil menunaikan sholat Isya.
Setelah minum teh, kami melanjutkan perjalanan. Yogya masih 160 km lagi. Kalau dihitung-hitung sih, bisa ditempuh –bila kondisi normal hanya 3-4 jam saja. Saya agak tenang, sebentar lagi kami akan sampai. Tapi lagi-lagi dugaan saya meleset. Hanya sekitar 2 km dari tempat kami beristirahat tadi, mobil kami terjebak macet sangat panjang. Ternyata didepan kami ada banjir sedalam kurang lebih satu meter di daerah Sumpiuh. Lagi-lagi saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan Pak Heru menggaruk-garuk jenggotnya.
“Aduuh…bagaimana ini ya?” saya mengeluh tak sabar. Pak Heru angkat bahu. Sama bingungnya.
“Kita coba jalan memutar bagaimana pak? Tapi agak jauh,” kata Pak Heru menyodorkan alternatif.
“Yuk, kita memutar saja, walaupun jauh, apa boleh buat,” saya memutuskan.
Mobil kami akhirnya memutar arah dan melewati jalan memutar yang saya tak tahu kemana. Menurut pak Heru sih arah ke Wonosobo, tapi nanti tetap akan turun dan ketemu di titik pangkal banjir di Sumpiuh tadi.
Jalan alternatif memutar yang kami tempuh lumayan lancar. Beberapa kendaraan mengikuti dibelakang kami. Alhasil, sekitar 2 jam kemudian (karena sempat nyasar, pak Heru lupa jalannya), kami tiba di titik pangkal kemacetan tadi. Syukurlah, banjir sudah surut. Meskipun begitu, tetap saja, kami terjebak macet panjang (walau tak terlalu parah seperti sebelumnya). Setidaknya kami “parkir gratis” dijalan karena macet sekitar 2 jam.
“Sepertinya, kita bakal tiba di Yogya besok pagi deh Mas kalau begini situasinya,” kata Pak Heru seraya tersenyum kecut.
“Ya, beginilah resikonya, pak. Kita hadapi dan nikmati saja,” seperti biasa istri saya menimpali dari belakang dengan nada bijak.
Saya menggigit bibir. Handphone yang saya pegang sudah “tewas” kehabisan daya baterai sejak tadi. Saya tak bisa update status dan mengecek status teman-teman @pulkam lainnya di Twitter.
Dan, begitulah, dengan susah payah, kami akhirnya masuk di perbatasan Yogya sekitar pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk tidak berpuasa hari itu, karena badan begitu letih digeber macet panjang dan perjalanan yang sangat melelahkan. Kami mampir sejenak untuk sarapan di Restoran Ambar Ketawang, kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah mertua saya di Kuncen, Tegaltirto, Kecamatan Berbah Sleman.
Pukul 09.00 pagi, tanggal 9 September 2010, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Rasa letih langsung hilang menyaksikan sambutan hangat ayah dan ibu mertua serta adik ipar saya, Ahmad di beranda rumah.
Bersambung…
Kisah Mudik 2010 (1) : Menikmati Perjalanan Dengan Tabah dan Ceria
16 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Ujian kesabaran benar-benar kami sekeluarga alami dalam perjalanan mudik Lebaran 2010 ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta, tanggal 8 September 2010 lalu. Kami menempuh waktu 24 jam untuk mencapai Kota Gudeg tersebut dari kediaman kami di Cikarang (“normal”-nya hanya dibutuhkan kurang lebih 11 jam dari Cikarang menuju Yogya). Berangkat dari Cikarang, jam 08.00 pagi tanggal 8 September 2010 dan baru tiba di tempat tujuan keesokan harinya jam 09.00 pagi. Sungguh sangat melelahkan.
Rombongan kami ada 5 orang. Selain saya, istri dan kedua anak saya (Rizky dan Alya), juga ikut Nia, keponakan perempuan saya (anak kakak ipar, yang kebetulan baru dapat cuti dari kantornya mulai hari itu). Kami menumpang mobil sewaan Toyota Rush yang dikendarai oleh Pak Heru. Sejak “lepas landas” dari Cikarang, kendaraan mulai “memadat” di sekujur jalan tol Jakarta-Cikampek.
Saya terus melakukan update status di Twitter @pulkam untuk berbagi kabar kepada kawan-kawan pemudik lain, meski terkadang harus berebutan dengan Rizky yang ingin main game di Handphone saya. Kami memutuskan lewat Jalur Selatan, setelah dapat informasi bahwa jalur Pantura, sangat rentan kemacetan. “Kalaupun macet di Nagreg, kita masih “sedikit terhibur” oleh teduh dan rindangnya pepohonan disana,” kata Pak Heru.
Memasuki tol Cipularang, kami sempat tersendat oleh antrian kendaraan, namun untunglah beberapa saat kemudian, kamipun bisa bergerak dan kendaraan bisa dipacu hingga mendekati tol Cileunyi. Didepan tol Cileunyi, tanda-tanda “keadaan bakal memburuk” mulai terlihat. Macet terjadi hingga sekitar 4 km menjelang pintu tol. Kami baru mencapai pintu tol sekitar setengah jam kemudian. Dibelakang, anak-anak masih tetap ceria sembari menyantap ayam KFC yang kami beli di rest area tol Karawang Timur tadi. Kursi tengah mobil yang kami pakai ini memang sengaja dikeluarkan dan disitu dihamparkan tikar kasur dan bantal agar kedua anak saya bisa tidur selonjoran. Kursi belakang tetap dibiarkan untuk tempat duduk istri saya dan Nia.
Memasuki wilayah Nagreg, setelah mampir sebentar Sholat Dhuhur di rest area sebuah SPBU, antrian makin panjang. Laju kendaraan berjalan sangat pelan. Saya mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Pak Heru juga mulai garuk-garuk jenggotnya. Rasa kesal mulai melanda.
“Pelajaran sabar dimulai, pokoknya tetap tenang,” kata Istri saya dibangku belakang.
“Iya bu, perjalanan masih panjang, dan kita mesti punya stok sabar yang banyak ya?” sahut Pak Heru sambil tersenyum pahit.
Saya hanya manggut-manggut prihatin seraya memasang status terbaru di Twitter untuk @pulkam soal kemacetan ini.
Sekitar 2 jam lebih kendaraan kami beringsut, hingga akhirnya mencapai persimpangan Tasikmalaya dan Garut pada jalan turunan Nagreg. Sejumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor ikut “meramaikan” kemacetan yang terjadi. Sembari mengelus dada prihatin saya melihat seorang pemudik sepeda motor membawa sang anak diboncengan dan terpaksa dibaringkan diatas pangkuan sang istri karena si anak tertidur dan letih.
“Kasihan banget ya anaknya,” komentar si sulung Rizky saat saya mengabadikan adegan tersebut lewat kamera digital yang saya bawa.
“Seharusnya,” kata Pak Heru,”Pemerintah mesti bikin satu bagian khusus di Departemen Perhubungan khusus yang melayani mudik tahunan ini. Sama dengan ritual haji yang dilaksanakan tiap tahun, mudik yang juga rutin diadakan tiap tahun ini, mesti ditangani secara khusus dan serius karena ini menyangkut hak rakyat juga mendapatkan keamanan dan kenyamanan transportasi pulang ke kampung halaman”.
Saya mengangguk setuju. Kami berdua lantas berdiskusi panjang soal “wacana” bagian khusus mudik di Dephub itu.
“Kalau tidak seperti itu,” lanjut Pak Heru lagi,”kondisinya akan begini terus, mulai dari macet panjang, susahnya mendapat tiket transportasi mudik, hingga meningkatnya kecelakaan di jalan raya khususnya yang dialami pemudik bersepeda motor. Kalau ada transportasi massal yang nyaman dan bisa melayani pemudik serta dikelola profesional oleh bagian spesial mudik tersebut, tentu ritual mudik ini menjadi lebih menyenangkan”.
Diskusi kami tertunda sejenak, ketika akan memutuskan apakah kita akan lewat Tasikmalaya atau Garut ketika melihat antrian panjang kendaraan di depan, pada jalan turunan Nagreg.
“Bagaimana nih Mas? Kalau kita terus lewat Tasikmalaya, kita akan hadapi macet panjang seperti yang ada didepan, kalau lewat Garut relatif kosong dan lancar meski sedikit lebih jauh,” tanya Pak Heru.
Saya menghela nafas panjang.
“Kita lewat Garut aja pak Heru, moga-moga saja lancar sampai didepan,” saya memutuskan, akhirnya.
Dan begitulah, kami akhirnya lewat Garut.
Pada awalnya, jalan yang kami lewati lancar. Dalam hati saya berdoa semoga terus begini sampai ke Garut.
Sayangnya, perkiraan salah. Hanya kurang lebih 2 km dari persimpangan Tasikmalaya – Garut di Nagreg, mobil kami terpaksa terhenti karena antrian panjang kendaraan di depan. Saya menepuk jidat dengan dongkol. Pak Heru menggigit bibir. “Ya, sudah mari kita hadapi dan nikmati saja,” kata beliau, lagi-lagi sembari tersenyum pahit.
Saya mengangguk pasrah.
Dan begitulah, kendaraan kami beringsut pelan dan beberapa kali berhenti karena kendaraan didepan kami tidak bergerak. Hampir 3 jam lebih kami terjebak disana. Memasuki kawasan Leles, kemacetan mulai terurai. Tapi situasi lain kembali terjadi. Hujan deras tiba-tiba turun dan membuat Pak Heru mesti hati-hati mengendarai karena terhalang pandangan oleh lebatnya hujan dan licinnya jalan.
Perjalanan kami lancar hingga akhirnya kami memutuskan untuk sholat maghrib dan buka puasa di Restorant Cibiuk yang asri beberapa kilometer sebelum Garut.
Suasana Restoran yang ditata rapi dan eksotik ini membuat rasa “Be-Te” kami dihadang kemacetan tadi sedikit terhibur.
Karena suasana dingin, saya memilih memesan Nasi Goreng Ayam, sementara anak-anak makan sate sedangkan istri saya bersama Nia memilih menyantap Nasi Timbel.
Wah, sungguh nikmat sekali menyantap makanan di Restorant Cibiuk ini yang konon terkenal dengan sambelnya yang “nendang”.
Keringat mengucur saat sajian nasi goreng yang saya pesan langsung licin tandas.
Anak-anak terlihat lahap menyantap makanan mereka. Alya juga menyukai hidangan otak-otak bakar yang jadi menu khas restoran itu. Pak Heru memesan Nasi Goreng Kambing. “Supaya tetap melek nanti nyupirnya,” selorohnya.
Di Restorant ini, saya juga menyempatkan diri membeli oleh-oleh makanan ringan berupa Lanting (semacam krupuk ketela batang kecil berpilin) dan Kerupuk Kulit.
Seusai maghrib, kami kemudian melanjutkan perjalanan.
Meski hujan sudah reda, tapi udara kian terasa makin dingin menggigit.Mobil kami melaju menembus pekat malam, memasuki Kota Garut.
Bersambung..
H-3 : Jakarta – Jogja 12 jam
07 Sep 2010 8 Komentar
in kuliner, lalu lintas, SPBU, Tempat Wisata Tag:Bandung, h-3, jakarta, jogja, mudik, Pantura
Secara umum perjalanan mudik ini sangat lancar,meski menjadi terhambat karena hujan yang turun cukup deras sejak keluar dari tol Cipularang. Di beberapa tempat hujan ini berhenti total, tapi selang beberapa menit kemudian kembali turun, baik gerimis, setengah deras sampai deras.
Jalan mulus tanpa hambatan tentu dari Cawang sampai Cileunyi. Setelah itu jalan tetap mulus. Nagreg masih normal alias sepi-sepi saja. Polisi terlihat berjaga-jaga di beberapa tempat strategis.
Memasuki Jawa Tengah kondisi jalan berubah total. Terlihat tidak ada pembenahan di jalur selatan wilayah Jawa Tengah. Mungkin dianggap jalan masih layak sehingga prioritas pembenahan dipusatkan ke Pantura, yang selalu sarat dengan masalah macet.
Akhirnya setelah 12 jam mengarungi jalan dengan diiringi hujan yang sangat setia, sampailah di kota Jogja dengan aman dan selamat. Ucapan terima kasih kusampaikan pada teman-teman yang selalu mengikuti perjalananku ini. Doa yang mengalir begitu banyak dari teman-teman yang sehati membuat perjalnan terasa ringan.
Di sepanjang perjalanan sempat berhenti di beberapa tempat. Antara lain di SPBU Terapi Air Hangat. Lokasinya ada di Jl. Pamoyanan Km 81 Ciawi Tasikmalaya.Cukup bayar 5.000 dan bisa mandi sepuasnya di kamar mandi. Kalau mau di kolam air hangat lebih murah lagi. Paling murah tentu kalau hanya ke toilet.
Kalau menjelang buka puasa sampai di lokasi ini, maka kita bisa langsung sambung acara mandi dengan acara buka puasa. Ada resto artistik di samping kolam. Ada juga sebuah masjid kecil yang cukup bersih.
SPBU terapi air hangat ini kalau dari arah Bandung menuju Ciamis, terletak di sebelah kiri jalan. Sebuah tempat yang layak dikunjungi para pemudak maupun pemudik.
Pemberhentian ke dua si Sumpyuh. Ada resto Pringsewu disitu. Sayangnya menu pilihanku kurang pas malam itu. Sop buntutnya keras dan gigiku gak sanggup mencabik-cabik dagingnya. Sempat main juga di stand telkomsel. Kasih kado buat driver berupa pulsa Simpati dan dapet hadiah bantal leher, peta lengkap dengan iklannya dan pijat gratis.
Peta terlengkap tentu yang dikeluarkan Jasa Marga di Pintu Tol. Meskipun penuh iklan juga, tetapi cetakannya jelas dan sangat mudah dibaca. Kualitas kertas dan cetakannya sangat prima.
Di sepanjang jalan juga terlihat banyak iklan yang saling berlomba menarik perhatian masyarakat. Hujan memang sedikit menghambat perjalanan. Meski terlihat beberapa sepeda motor tetap jalan meski hujan dan gelap. Aku tak tahu apakah itu sebuah bentuk komitment yang tinggi untuk mudik atau bentuk kenekadan yang tanpa nerpikir lebih jauh. Salah satu di antara mereka sempat mencium mobil yang kunaiki dan kemudian lari begitu saja.
Di tempat lain ada Toyota Kijang Inopa yang menyalip dan setelah menyalip penumpangnya langsung membuang sampah melalui jendela sebelah kiri. Tersinggungkah aku? Yah…senyum sajalah sambil geleng-geleng kepala.
Alhamdulillah, sekarang sudah sampai di Jogja dengan selamat, sementara itu berita di detik dot com menyebutkan kalau semua jalan keluar dari Jakarta sangat padat.
Road Transport & Traffic Management Center (RTTMC)
06 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in tips Tag:Center, lalu lintas, Management, Road, RTTMC, Traffic, Transport
Road Transport & Traffic Management Center (RTTMC)
☐ Layanan INFO MUDIK LEBARAN Kementerian Perhubungan
FITURE:
☑ Info Lalulintas terkini
☑ Peta mudik terbaru,
☑ 40an CCTV Real Time
☑ Info lokasi yang mungkin Anda butuhkan saat mudik,
☑ SMS pengaduan, dll.,
Download Launcher Mobile Web RTTMC:
☑ HP Blackberry:
http://bit.ly/OTA2-RTTMC
☑ HP berbasis Symbian S60v3/up (Nokia, Samsung, Sony Ericsson, dll):
http://bit.ly/symbian-RTTMC
☑ HP berbasis Windows Mobile, Android, iPhone:
http://bit.ly/J2ME-iphone-android-RTTMC
Atau langsung arahkan browser HP Anda ke Mobile Web RTTMC:
http://rttmc-hubdat.web.id/
http://www.rttmc-hubdat.web.id/rttmcnew/
Info lebih lanjut, untuk sementara ini silahkan bergabung ke:
FACEBOOK: Info Mudik Lebaran
YAHOOGROUPS: rttmc-hubdat@yahoogroups.com
© RTTMC 2010
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN, Ditjen Perhubungan Darat
____________________________
NOTE: Mhn bantu sebarluaskan
Semoga bermanfaat
+++
Bila kita klik icon RTTMC (kanan paling bawah), maka muncul tampilan sebagai berikut :
Entah karena banyaknya pengakses atau kurang lebarnya bandwith, maka situs ini jadi agak susah diakses.









































