Kisah Mudik 2010 (2): Terhalang Banjir dan Derita Macet Sepanjang Malam
16 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Dari Garut, kendaraan kami melaju kencang menyusuri pebukitan yang teduh namun minim penerangan lampu jalan. Pak Heru mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dibelakang, Alya terbatuk-batuk tak bisa tidur. Rupanya radang tenggorokannya sejak kemarin belum sembuh juga. Mungkin karena udara dingin menyebabkan alergi batuknya kambuh. Di Singaparna, kami mampir sejenak di apotik Kimia Farma membeli obat batuk untuk Alya.
Setelah minum obat, Alya tertidur pulas. Rizky memilih untuk tidur di pangkuan saya, di kursi depan samping Pak Heru. Jalanan yang meliak-liuk tak urung membuat saya mengantuk. Sudah pukul 20.30 malam saat itu. Saya pamit mau tidur sebentar ke Pak Heru yang masih terus waspada mengemudikan mobil.
Saya terbangun ketika malam mendekati pucuknya. Kami lantas singgah sejenak di Rest Area SPBU Jatilawang Wangon yang luas. Di tempat parkir kendaraan terlihat begitu padat, kami agak susah mencari tempat parkir.
Kami lalu turun dan masuk ke area restoran untuk minum teh hangat. Saya dan istri menuju ke Mushalla SPBU Jatilawang untuk menunaikan sholat Isya.
Kami terkejut, lantai Mushalla sudah penuh orang yang tidur tergeletak. Nampaknya mereka kebanyakan adalah pemudik sepeda motor yang letih dan ingin beristirahat. Dengan susah payah, sambil “nyempil-nyempil” kami berhasil menunaikan sholat Isya.
Setelah minum teh, kami melanjutkan perjalanan. Yogya masih 160 km lagi. Kalau dihitung-hitung sih, bisa ditempuh –bila kondisi normal hanya 3-4 jam saja. Saya agak tenang, sebentar lagi kami akan sampai. Tapi lagi-lagi dugaan saya meleset. Hanya sekitar 2 km dari tempat kami beristirahat tadi, mobil kami terjebak macet sangat panjang. Ternyata didepan kami ada banjir sedalam kurang lebih satu meter di daerah Sumpiuh. Lagi-lagi saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan Pak Heru menggaruk-garuk jenggotnya.
“Aduuh…bagaimana ini ya?” saya mengeluh tak sabar. Pak Heru angkat bahu. Sama bingungnya.
“Kita coba jalan memutar bagaimana pak? Tapi agak jauh,” kata Pak Heru menyodorkan alternatif.
“Yuk, kita memutar saja, walaupun jauh, apa boleh buat,” saya memutuskan.
Mobil kami akhirnya memutar arah dan melewati jalan memutar yang saya tak tahu kemana. Menurut pak Heru sih arah ke Wonosobo, tapi nanti tetap akan turun dan ketemu di titik pangkal banjir di Sumpiuh tadi.
Jalan alternatif memutar yang kami tempuh lumayan lancar. Beberapa kendaraan mengikuti dibelakang kami. Alhasil, sekitar 2 jam kemudian (karena sempat nyasar, pak Heru lupa jalannya), kami tiba di titik pangkal kemacetan tadi. Syukurlah, banjir sudah surut. Meskipun begitu, tetap saja, kami terjebak macet panjang (walau tak terlalu parah seperti sebelumnya). Setidaknya kami “parkir gratis” dijalan karena macet sekitar 2 jam.
“Sepertinya, kita bakal tiba di Yogya besok pagi deh Mas kalau begini situasinya,” kata Pak Heru seraya tersenyum kecut.
“Ya, beginilah resikonya, pak. Kita hadapi dan nikmati saja,” seperti biasa istri saya menimpali dari belakang dengan nada bijak.
Saya menggigit bibir. Handphone yang saya pegang sudah “tewas” kehabisan daya baterai sejak tadi. Saya tak bisa update status dan mengecek status teman-teman @pulkam lainnya di Twitter.
Dan, begitulah, dengan susah payah, kami akhirnya masuk di perbatasan Yogya sekitar pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk tidak berpuasa hari itu, karena badan begitu letih digeber macet panjang dan perjalanan yang sangat melelahkan. Kami mampir sejenak untuk sarapan di Restoran Ambar Ketawang, kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah mertua saya di Kuncen, Tegaltirto, Kecamatan Berbah Sleman.
Pukul 09.00 pagi, tanggal 9 September 2010, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Rasa letih langsung hilang menyaksikan sambutan hangat ayah dan ibu mertua serta adik ipar saya, Ahmad di beranda rumah.
Bersambung…
Kisah Mudik 2010 (1) : Menikmati Perjalanan Dengan Tabah dan Ceria
16 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Ujian kesabaran benar-benar kami sekeluarga alami dalam perjalanan mudik Lebaran 2010 ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta, tanggal 8 September 2010 lalu. Kami menempuh waktu 24 jam untuk mencapai Kota Gudeg tersebut dari kediaman kami di Cikarang (“normal”-nya hanya dibutuhkan kurang lebih 11 jam dari Cikarang menuju Yogya). Berangkat dari Cikarang, jam 08.00 pagi tanggal 8 September 2010 dan baru tiba di tempat tujuan keesokan harinya jam 09.00 pagi. Sungguh sangat melelahkan.
Rombongan kami ada 5 orang. Selain saya, istri dan kedua anak saya (Rizky dan Alya), juga ikut Nia, keponakan perempuan saya (anak kakak ipar, yang kebetulan baru dapat cuti dari kantornya mulai hari itu). Kami menumpang mobil sewaan Toyota Rush yang dikendarai oleh Pak Heru. Sejak “lepas landas” dari Cikarang, kendaraan mulai “memadat” di sekujur jalan tol Jakarta-Cikampek.
Saya terus melakukan update status di Twitter @pulkam untuk berbagi kabar kepada kawan-kawan pemudik lain, meski terkadang harus berebutan dengan Rizky yang ingin main game di Handphone saya. Kami memutuskan lewat Jalur Selatan, setelah dapat informasi bahwa jalur Pantura, sangat rentan kemacetan. “Kalaupun macet di Nagreg, kita masih “sedikit terhibur” oleh teduh dan rindangnya pepohonan disana,” kata Pak Heru.
Memasuki tol Cipularang, kami sempat tersendat oleh antrian kendaraan, namun untunglah beberapa saat kemudian, kamipun bisa bergerak dan kendaraan bisa dipacu hingga mendekati tol Cileunyi. Didepan tol Cileunyi, tanda-tanda “keadaan bakal memburuk” mulai terlihat. Macet terjadi hingga sekitar 4 km menjelang pintu tol. Kami baru mencapai pintu tol sekitar setengah jam kemudian. Dibelakang, anak-anak masih tetap ceria sembari menyantap ayam KFC yang kami beli di rest area tol Karawang Timur tadi. Kursi tengah mobil yang kami pakai ini memang sengaja dikeluarkan dan disitu dihamparkan tikar kasur dan bantal agar kedua anak saya bisa tidur selonjoran. Kursi belakang tetap dibiarkan untuk tempat duduk istri saya dan Nia.
Memasuki wilayah Nagreg, setelah mampir sebentar Sholat Dhuhur di rest area sebuah SPBU, antrian makin panjang. Laju kendaraan berjalan sangat pelan. Saya mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Pak Heru juga mulai garuk-garuk jenggotnya. Rasa kesal mulai melanda.
“Pelajaran sabar dimulai, pokoknya tetap tenang,” kata Istri saya dibangku belakang.
“Iya bu, perjalanan masih panjang, dan kita mesti punya stok sabar yang banyak ya?” sahut Pak Heru sambil tersenyum pahit.
Saya hanya manggut-manggut prihatin seraya memasang status terbaru di Twitter untuk @pulkam soal kemacetan ini.
Sekitar 2 jam lebih kendaraan kami beringsut, hingga akhirnya mencapai persimpangan Tasikmalaya dan Garut pada jalan turunan Nagreg. Sejumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor ikut “meramaikan” kemacetan yang terjadi. Sembari mengelus dada prihatin saya melihat seorang pemudik sepeda motor membawa sang anak diboncengan dan terpaksa dibaringkan diatas pangkuan sang istri karena si anak tertidur dan letih.
“Kasihan banget ya anaknya,” komentar si sulung Rizky saat saya mengabadikan adegan tersebut lewat kamera digital yang saya bawa.
“Seharusnya,” kata Pak Heru,”Pemerintah mesti bikin satu bagian khusus di Departemen Perhubungan khusus yang melayani mudik tahunan ini. Sama dengan ritual haji yang dilaksanakan tiap tahun, mudik yang juga rutin diadakan tiap tahun ini, mesti ditangani secara khusus dan serius karena ini menyangkut hak rakyat juga mendapatkan keamanan dan kenyamanan transportasi pulang ke kampung halaman”.
Saya mengangguk setuju. Kami berdua lantas berdiskusi panjang soal “wacana” bagian khusus mudik di Dephub itu.
“Kalau tidak seperti itu,” lanjut Pak Heru lagi,”kondisinya akan begini terus, mulai dari macet panjang, susahnya mendapat tiket transportasi mudik, hingga meningkatnya kecelakaan di jalan raya khususnya yang dialami pemudik bersepeda motor. Kalau ada transportasi massal yang nyaman dan bisa melayani pemudik serta dikelola profesional oleh bagian spesial mudik tersebut, tentu ritual mudik ini menjadi lebih menyenangkan”.
Diskusi kami tertunda sejenak, ketika akan memutuskan apakah kita akan lewat Tasikmalaya atau Garut ketika melihat antrian panjang kendaraan di depan, pada jalan turunan Nagreg.
“Bagaimana nih Mas? Kalau kita terus lewat Tasikmalaya, kita akan hadapi macet panjang seperti yang ada didepan, kalau lewat Garut relatif kosong dan lancar meski sedikit lebih jauh,” tanya Pak Heru.
Saya menghela nafas panjang.
“Kita lewat Garut aja pak Heru, moga-moga saja lancar sampai didepan,” saya memutuskan, akhirnya.
Dan begitulah, kami akhirnya lewat Garut.
Pada awalnya, jalan yang kami lewati lancar. Dalam hati saya berdoa semoga terus begini sampai ke Garut.
Sayangnya, perkiraan salah. Hanya kurang lebih 2 km dari persimpangan Tasikmalaya – Garut di Nagreg, mobil kami terpaksa terhenti karena antrian panjang kendaraan di depan. Saya menepuk jidat dengan dongkol. Pak Heru menggigit bibir. “Ya, sudah mari kita hadapi dan nikmati saja,” kata beliau, lagi-lagi sembari tersenyum pahit.
Saya mengangguk pasrah.
Dan begitulah, kendaraan kami beringsut pelan dan beberapa kali berhenti karena kendaraan didepan kami tidak bergerak. Hampir 3 jam lebih kami terjebak disana. Memasuki kawasan Leles, kemacetan mulai terurai. Tapi situasi lain kembali terjadi. Hujan deras tiba-tiba turun dan membuat Pak Heru mesti hati-hati mengendarai karena terhalang pandangan oleh lebatnya hujan dan licinnya jalan.
Perjalanan kami lancar hingga akhirnya kami memutuskan untuk sholat maghrib dan buka puasa di Restorant Cibiuk yang asri beberapa kilometer sebelum Garut.
Suasana Restoran yang ditata rapi dan eksotik ini membuat rasa “Be-Te” kami dihadang kemacetan tadi sedikit terhibur.
Karena suasana dingin, saya memilih memesan Nasi Goreng Ayam, sementara anak-anak makan sate sedangkan istri saya bersama Nia memilih menyantap Nasi Timbel.
Wah, sungguh nikmat sekali menyantap makanan di Restorant Cibiuk ini yang konon terkenal dengan sambelnya yang “nendang”.
Keringat mengucur saat sajian nasi goreng yang saya pesan langsung licin tandas.
Anak-anak terlihat lahap menyantap makanan mereka. Alya juga menyukai hidangan otak-otak bakar yang jadi menu khas restoran itu. Pak Heru memesan Nasi Goreng Kambing. “Supaya tetap melek nanti nyupirnya,” selorohnya.
Di Restorant ini, saya juga menyempatkan diri membeli oleh-oleh makanan ringan berupa Lanting (semacam krupuk ketela batang kecil berpilin) dan Kerupuk Kulit.
Seusai maghrib, kami kemudian melanjutkan perjalanan.
Meski hujan sudah reda, tapi udara kian terasa makin dingin menggigit.Mobil kami melaju menembus pekat malam, memasuki Kota Garut.
Bersambung..
H-3 : Jakarta – Jogja 12 jam
07 Sep 2010 8 Komentar
in kuliner, lalu lintas, SPBU, Tempat Wisata Tag:Bandung, h-3, jakarta, jogja, mudik, Pantura
Secara umum perjalanan mudik ini sangat lancar,meski menjadi terhambat karena hujan yang turun cukup deras sejak keluar dari tol Cipularang. Di beberapa tempat hujan ini berhenti total, tapi selang beberapa menit kemudian kembali turun, baik gerimis, setengah deras sampai deras.
Jalan mulus tanpa hambatan tentu dari Cawang sampai Cileunyi. Setelah itu jalan tetap mulus. Nagreg masih normal alias sepi-sepi saja. Polisi terlihat berjaga-jaga di beberapa tempat strategis.
Memasuki Jawa Tengah kondisi jalan berubah total. Terlihat tidak ada pembenahan di jalur selatan wilayah Jawa Tengah. Mungkin dianggap jalan masih layak sehingga prioritas pembenahan dipusatkan ke Pantura, yang selalu sarat dengan masalah macet.
Akhirnya setelah 12 jam mengarungi jalan dengan diiringi hujan yang sangat setia, sampailah di kota Jogja dengan aman dan selamat. Ucapan terima kasih kusampaikan pada teman-teman yang selalu mengikuti perjalananku ini. Doa yang mengalir begitu banyak dari teman-teman yang sehati membuat perjalnan terasa ringan.
Di sepanjang perjalanan sempat berhenti di beberapa tempat. Antara lain di SPBU Terapi Air Hangat. Lokasinya ada di Jl. Pamoyanan Km 81 Ciawi Tasikmalaya.Cukup bayar 5.000 dan bisa mandi sepuasnya di kamar mandi. Kalau mau di kolam air hangat lebih murah lagi. Paling murah tentu kalau hanya ke toilet.
Kalau menjelang buka puasa sampai di lokasi ini, maka kita bisa langsung sambung acara mandi dengan acara buka puasa. Ada resto artistik di samping kolam. Ada juga sebuah masjid kecil yang cukup bersih.
SPBU terapi air hangat ini kalau dari arah Bandung menuju Ciamis, terletak di sebelah kiri jalan. Sebuah tempat yang layak dikunjungi para pemudak maupun pemudik.
Pemberhentian ke dua si Sumpyuh. Ada resto Pringsewu disitu. Sayangnya menu pilihanku kurang pas malam itu. Sop buntutnya keras dan gigiku gak sanggup mencabik-cabik dagingnya. Sempat main juga di stand telkomsel. Kasih kado buat driver berupa pulsa Simpati dan dapet hadiah bantal leher, peta lengkap dengan iklannya dan pijat gratis.
Peta terlengkap tentu yang dikeluarkan Jasa Marga di Pintu Tol. Meskipun penuh iklan juga, tetapi cetakannya jelas dan sangat mudah dibaca. Kualitas kertas dan cetakannya sangat prima.
Di sepanjang jalan juga terlihat banyak iklan yang saling berlomba menarik perhatian masyarakat. Hujan memang sedikit menghambat perjalanan. Meski terlihat beberapa sepeda motor tetap jalan meski hujan dan gelap. Aku tak tahu apakah itu sebuah bentuk komitment yang tinggi untuk mudik atau bentuk kenekadan yang tanpa nerpikir lebih jauh. Salah satu di antara mereka sempat mencium mobil yang kunaiki dan kemudian lari begitu saja.
Di tempat lain ada Toyota Kijang Inopa yang menyalip dan setelah menyalip penumpangnya langsung membuang sampah melalui jendela sebelah kiri. Tersinggungkah aku? Yah…senyum sajalah sambil geleng-geleng kepala.
Alhamdulillah, sekarang sudah sampai di Jogja dengan selamat, sementara itu berita di detik dot com menyebutkan kalau semua jalan keluar dari Jakarta sangat padat.
Road Transport & Traffic Management Center (RTTMC)
06 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in tips Tag:Center, lalu lintas, Management, Road, RTTMC, Traffic, Transport
Road Transport & Traffic Management Center (RTTMC)
☐ Layanan INFO MUDIK LEBARAN Kementerian Perhubungan
FITURE:
☑ Info Lalulintas terkini
☑ Peta mudik terbaru,
☑ 40an CCTV Real Time
☑ Info lokasi yang mungkin Anda butuhkan saat mudik,
☑ SMS pengaduan, dll.,
Download Launcher Mobile Web RTTMC:
☑ HP Blackberry:
http://bit.ly/OTA2-RTTMC
☑ HP berbasis Symbian S60v3/up (Nokia, Samsung, Sony Ericsson, dll):
http://bit.ly/symbian-RTTMC
☑ HP berbasis Windows Mobile, Android, iPhone:
http://bit.ly/J2ME-iphone-android-RTTMC
Atau langsung arahkan browser HP Anda ke Mobile Web RTTMC:
http://rttmc-hubdat.web.id/
http://www.rttmc-hubdat.web.id/rttmcnew/
Info lebih lanjut, untuk sementara ini silahkan bergabung ke:
FACEBOOK: Info Mudik Lebaran
YAHOOGROUPS: rttmc-hubdat@yahoogroups.com
© RTTMC 2010
KEMENTERIAN PERHUBUNGAN, Ditjen Perhubungan Darat
____________________________
NOTE: Mhn bantu sebarluaskan
Semoga bermanfaat
+++
Bila kita klik icon RTTMC (kanan paling bawah), maka muncul tampilan sebagai berikut :
Entah karena banyaknya pengakses atau kurang lebarnya bandwith, maka situs ini jadi agak susah diakses.
21 Kuliner Jogja Pilihan Kuliner Online
05 Sep 2010 3 Komentar
in kuliner
21 Kuliner Jogja Pilihan Kuliner Online
by: Sulastama
Buat Rekans yang akan berwisata kuliner di Jogja,
Berikut ini 21 lokasi tempat wisata kuliner di Jogja yang siap menguji kecerdasan lidah Anda. Rata-rata makanan Jogja uenak dan harganya affordable.
1. Sega Geneng , Dusun Nengahan, Panggung Harjo, Sewon, Bantul, telpon 085292095550
Warung sego nggeneng adalah warung makan yang menyajikan gudeg klasik dengan areh yang tidak kental dan sayuran hijaunya menggunakan daun pepaya yang tidak pahit. Sambalnya berupa sambal kacang tholo yang dimasak pedas dengan menggunakan rambak (krecek ndeso). Sedangkan lauknya berupa tahu, tempe, telur, rempelo ati, yang dimasak dengan bumbu besengek dan mangut lele.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/06/28/ketika-gudeg-dan-mangut-bersatu-di-sego-nggeneng-mbah-marto/
2. Jejamuran Resto, Jejamuran, Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, 55512 telpon 0274 868170
Jejamuran resto adalah sebuah rumah makan dengan keunggulan penggunaan bahan baku utama jamur yang dipadukan dengan menu tradisional. Bahan baku jamur mengandung berbagai macam asam amino, mineral, vitamin dan senyawa bioaktif yang baik bagi kesehatan, jamur juga telah terbukti menaikkan system kekebalan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kandungan lemak dalam tubuh, menghambat partumbuhan tumor, antiinflmasi dan antimikroba.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/02/tongseng-dan-sate-jamur-di-jejamuran-2/
3. Gubug Makan Mang Engking, Jamur, Sendangrejo, Minggir, Sleman, Flexi: 0274-7489732, HP: 085868020045
Warung makan Gubug Mang Engking adalah rumah makan yang sangat terkenal sebagai spesialis masakan udang galah di Yogyakarta. Sebagai menu andalan, sekilo udang bakar madu disajikan dalam 8 tusuk sate udang yang masing-masing terdiri dari 5 ekor udang. Sedangkan menu udang yang lain adalah udang goreng, asam manis, saos tiram dan udang rebus, yang dibagi dalam ukuran udang super [sekilo terdiri dari 12 ekor] dan udang udang standart [sekilo terdiri dari 30 ekor].
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/05/25/merayakan-ulang-tahun-di-gubug-mang-engking/
4. Sate Karang Pak Prapto , Sate Karang Pak Prapto, Jl. Nyi Pembayun, Lapangan Karang Kota Gede Telp. (0274)7807371 / 4436701
Sate Karang merupakan salah satu ikon kuliner Kota Gede. Disebut Sate Karang karena lokasi penjualannya di Lapangan Karang, Kota Gede. Sate ini dibuat dari daging sapi yang dibumbui saus kacang lalu disajikan bersama lontong dan kuah lodeh. Sate Karang mulai berjualan sejak tahun 1948, dijajakan berkeliling oleh Pak Karyo Semito, ayah Pak Prapto.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/09/29/mengudap-nyamlengnya-sate-karang-pak-prapto/
5. Sate Klatak Wedus Mas Barry, Pasar Jejeran Wonokromo Bantul Telpon 081328800165
Mas Barry merupakan generasi ketiga yang berjualan sate klatak. Sebelumnya, ayahnya Wakidi, juga berjualan di sini. Wakidi meneruskan usaha ayahnya yang bernama Ambyah yang membuka usaha ini pada tahun 1946.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/02/sate-klatak-wedus-mas-barry/
6. Sate Goreng Ringin Kronggahan, Warung Sate Kambing Pak Tris , Kronggahan, Mlati, Sleman, Telpon 02746415148
Warung sate kambing Pak Tris Kronggahan dirintis oleh Pak Sutrisno Hadipandoyo pada tahun 1978, dan sejak tahun 1980 mulai berjualan sate goreng, sebelumnya masih berjualan sate bakar seperti warung sate yang lainnya. Sedangkan keahlian memasak sate merupakan warisan turun temurun dari mBah Wongsoredjo yang merupakan kakek Pak Sutrisno.
http://kulineronline.net/2010/04/09/sate-goreng-ringin-kronggahan/
7. Sate Samirono, Jln Colombo 105/ 38, Samirono, Caturtunggal, telpon 0274 541288/ 541287
Sate Samirono lokasinya yang di dekat kampus UGM dan memiliki cita rasa sate samirono yang sudah melegenda. Menurut beberapa teman, sate kambing samirono merupakan sate terenak di Jogja.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/07/22/sate-samirono/
8. Sate Kambing Pak Karto, Pasar Tempel, Jl. Magelang Lumbungharjo Tempel 081328133606 dan Pasar Tempel Sleman.
Warung sate Pak Karto ada dua tempat, satu di pasar tempel, satu lagi di tepi jalan Jogja Magelang km 18.Citarasa tongseng Pak Karto cukup terkenal di seputaran Turi – Tempel, dan merupakan salah satu menu favoritku kalau mudik ke Jogja. Rasa tongseng Pak Karto paling enak untuk se Jogja, kalau sate tetap sate Samirono.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/01/menikmati-sate-kambing-pak-karto-pasar-tempel-sleman/
9. Soto Sulung Pak Malik Stasiun Tugu Yogya, Soto Sulung Pertama di Jogja kompleks Parkir Stasiun Tugu bagian Selatan
Perintis Soto Sulung Stasiun Tugu adalah Pak Malik sejak tahun 1968. Dan sejak bulan Agustus 1970, mereka resmi berjualan soto di kompleks Stasiun Tugu sampai sekarang. Saya sudah cukup lama menjadi pelanggan soto sulung ini, yang rasa sotonya paling nyamleng selama ini menurut saya.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/01/menikmati-soto-sulung-stasiun-tugu-yogya/
10. Gudeg Bu Hj Amad, Utara Gedung Pusat UGM (Utara Selokan Mataram) Karangasem CT II/ 05, Yogyakarta, Telpon 0274-520049
Gudeg mBarek dirintis oleh Bu Amad pada tahun 1950-an, di sebelah Utara Geografi UGM. Dan sejak tahun 1998 menempati tempat yang sekarang, sebuah rumah megah berlantai dua yang cukup apik, bersih dan tertata rapi, di mBarek sebelah utara Selokan Mataram.
11. Gudeg Yogya Yu Djum, Jln Wijilan no 31, Yogyakarta
Gudeg Yu Djum terletak di jalan Wijilan no 31. Gudeg Yu Djum ini berdiri pada tahun 1946, beberapa tahun setelah Gudeg Bu Slamet [gudeg pertama di Wijilan, 1942]. Waktu pertama kali berdiri, warung gudeg ini bernama Warung Gudeg Ibu Djuwariah.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/07/23/gudeg-yogya-yu-djum/
12. Gudeg Permata Bu Pujo, Jln Gadjah Mada, barat Bioskop Permata, Yogyakarta
Warung ini buka setiap hari kecuali hari minggu, sejak jam 21.00-01.00. Jenis makanan yang tersedia gudeg basah dengan rasa gurih, tidak terlalu manis. Sambal kreceknya pedas. Ayamnya boleh memilih a.l kepala, sayap, gendhing, paha, ati ampela dan telur. Minumnya teh dan jeruk, panas dan es.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/04/03/lesehan-di-gudeg-permata-bu-pujo/
13. Bebek Goreng Cak Koting, Warung Makan Cak Koting Bu Meti Jl. Dr. Sutomo “Depan Bioskop Mataram Yogyakarta, Telp : 0274.566.773
Cak Koting adalah satu satu ikon kuliner di Jogja dengan menu special bebek, ada bebek goreng dan bebek bakar. Menu lain yang tersedia antara lain burung dara goreng, lele goreng, sayur lombok hijau dan tahu/tempe penyet.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/01/menikmati-bebek-goreng-cak-koting/
14. Bakmi mBah Mo, Dusun Code, Bantul, Telpon 0274-7486989 HP 081548557743
Bakmi mBah Mo dirintis oleh Atmo Wiyono sejak tahun 1986, mulai ramai tahun 1990, bertahap. Bu Mujiyah meneruskan usahanya setelah mBah Mo meninggal. Bakmi mBah Mo tidak membuka cabang di kota lain.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/05/26/ngantri-40-demi-sepiring-bakmi-goreng-mbah-mo/
15. Bakmi Kadin, Jln Bintaran Kulon 3-6, Belakang Kantor Kadinda DIY, Jogja Telpon 0274-373396
Bakmi Kadin, merupakan salah satu legenda kuliner di Jogja. Warung Bakmi ini didirikan oleh Haji Karto pada tahun 1947 dan saat ini diteruskan oleh anaknya Rohadi. Nama kadin dipakai karena lokasi warung bakmi ini di jln Bintaran Kulon 3-6 persis terletak di belakang kantor Kadin DIY.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/07/22/bakmi-kadin/
16. Bakmi Jawa Pak Geno, Jl. Parangtritis, Pasar Prawirotaman, Yogyakarta Handphone : 081328576550
Bakmi Geno adalah salah satu legenda bakmi jawa di Jogja, mulai berjualan pada tahun 1952 dan sejak September 1988 digantikan oleh anak tertuanya Pak Harjo Geno karena Pak Geno meninggal dunia. Salah satu pelanggan Pak Geno adalah Pak Harto, presiden RI yang kedua.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/09/29/napak-tilas-pak-harto-di-bakmi-geno/
17. Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan, Warung Bakmi Pak Rebo, Jalan Brigjen Katamso 167, selatan SD Kintelan, Yogyakarta telpon 0274-417442
Bakmi Pak Rebo dirintis oleh Pak Rebo pada tahun 1945 dan berjualan di depan SD Kintelan. Pak Rebo merupakan kakak ipar dari Pak Atmo Wiyono perintis bakmi mBah Mo. Sejak beliau meninggal usahanya diteruskan istrinya. Istri Pak Rebo dibantu dengan beberapa orang kerabatnya kemudian memindahkan tempat jualannya di tempat permanen di selatan SD Kintelan sampai saat ini.
http://kulineronline.net/2010/03/04/menikmati-bakmi-jawa-pak-rebo-kintelan/
18. Bakmi Jawa mBah Hadi Terban, Utara Pom Bensin Terban (Ex Terminal Terban), Jln C Simanjuntak, Terban, Yogyakarta, Telpon 08122737778 / 08122721670
Bakmi di sini dimasak satu persatu menggunakan anglo berbahan bakar arang. Penggunaan anglo dan cara memasak satu persatu ini diyakini untuk menjaga citarasa bakmi Jawa, meskipun membuat calon pembeli mesti menunggu agak lama. Bakmi mbah Hadi mengoperasikan dua anglo yang masing-masing dioperasikan oleh 2 orang, satu orang khusus mengipasi anglo dan lainnya meracik bahan bakmi dan memasaknya.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/13/menikmati-bakmi-jawa-mbah-hadi-terban/
19. Mangut Lele Bu Is Jetis, RM Mangut Lele Bu Is, Jln Imogiri Barat km 12, Bulus, Sumberagung, Jetis, Bantul. Telpon 087839175888
Warung mangut Bu Is mulai berjualan tahun 1979. Menu utama di warung ini ada mangut lele dan lele goreng yang disajikan bersama dengan urap/ trancam, sambal gongso dan sambal terasi. Urap/ trancamnya terdiri dari daun papaya, bayam, kecambah, ket imun dan daun puyang yang ditemani bumbu parutan kelapa dengan cabai dan gula jawa.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/13/mangut-lele-bu-is-jetis/
20. Mangut Welut di Pasar Godean, Seberang Gerbang Pasar Godean, Jln Godean Km 15 Yogyakarta
Warung mangut welut ini menyajikan mangut welut dengan bumbu mangut yang lebih pedas karena menggunakan laos. Sedangkan menu tambahan lainnya berupa gudeg, sayur daun singkong, sambal krecek, lele goring, lauk pauk baceman, telur, wader dan krupuk. Minumannya hanya menyediakan teh. Jam buka warung dari jam 6 sore sampai 10 malam.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/03/31/menikmati-mangut-welut-di-pasar-godean/
21. Brongkos Warung Ijo Bu Padmo – Pasar Tempel, bawah Jembatan Krasak , Tempel, Sleman.
Warung Ijo Bu Padmo, meskipun tempatnya nyempil di Pasar Tempel dan di bawah jembatan Krasak [sekitar 20 km dari Jogja arah Magelang, layak untuk dikunjungi karena citarasa brongkosnya yang nyamleng, harganya yang reasonable dan menmpunyai sejarah yang panjang dalam memanjakan lidah pecinta brongkos.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/02/brongkos-warung-ijo/
tomo
Lima Tempat Wisata Kuliner di Solo
03 Sep 2010 2 Komentar
in kuliner Tag:bebek Bio, Bebek Goreng, Bebek Goreng H Slamet, Bestik Harjo, Dawet Bu Watik, Dawet Selasih, Galabo, Kartosuro, Kuliner Solo, Pasar Gede, Sate Bejo, Sega Liwet, solo, Timlo, Timlo Balong, Timlo Sastro
Buat Rekans yang akan mudik ke Solo,
Berikut ini 5 lokasi tempat wisata kuliner di Solo yang siap menguji kecerdasan lidah Anda. Rata-rata makanan Solo uenak dan harganya affordable.
1. RM Timlo Sastro, Jln Pasar Gede Timur 1-2, Balong, Solo telpon 0271654820
Timlo Balong dirintis pertama kali oleh Pak Sastro yang mulai berjualan pada tahun 1948 dengan menggelar dagangan di perempatan Pasar Gede. Dan sejak tahun 1958 pindah ke tempat yang sekarang di jln Pasar Gede Timur 1-2 Balong. Pada tahun 2002, timlo balong membuka satu- satunya cabang di jalan Dr Supomo Solo, dan sampai saat ini belum membuka cabang di kota lain karena khawatir rasanya akan berubah.
Selengkapnya ada di http://kulineronline.net/2010/01/13/nyamlengnya-timlo-sastro-balong-solo/
2. Gudeg Cakar Bu Kasno, Jln Wolter Monginsidi (depan GKJ Maryoyudan) Solo
Gudeg Bu Kasno atau juga dikenal gudeg Margoyudan terletak di jalan Wolter Monginsidi depan GKJ Margoyudan. Bu Kasmorejo (Bu Kasno) – 65 tahun- berjualan gudeg sejak tahun 1970 bersama dengan karyawan yang masih kerabatnya.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/12/sarapan-kepagian-di-gudeg-cakar-bu-kusno-margoyudan/
3. GALABO, sebelah timur bundaran Gladag, JL. Mayor Sunaryo depan Beteng Trade Center dan Pusat Grosir Solo.
Galabo merupakan singkatan dari Gladag Langen Bogan. Galabo diresmikan pada hari Minggu 13 April 2008, sebagai salah satu tempat wisata kuliner malam hari di kota Solo. Lokasi ini berada di sebelah timur bundaran Gladag, tepatnya di jalan Mayor Sunaryo di depan Pusat Grosir Solo dan Beteng Trade Center.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/12/menikmati-makan-malam-di-galabo-solo/
4. Dawet Selasih Bu Watik, Pasar Gede, Solo
Dawet Bu Watik, merupakan salah satu dawet selasih yang sudah lama berjualan di Pasar Gede. Bu Watik, meneruskan usaha ini dari Ibunya [mBah Mantri] sejak 15 tahun yang lalu. mBah Mantri meninggal 1 bulan yang lalu. Dalam sehari, dawet Bu Watik habis 50-60 mangkok perhari kalau sepi sekali, sedangkan kalau ramai bisa sampai 1000 mangkok. Salah satu Manten Presiden RI, Bu Mega pernah menikmati dawet ini ketika sedang berkampanye di Solo.
Selengkapnya silahkan baca di
http://kulineronline.net/2010/01/12/melepas-dahaga-dengan-dawet-selasih-bu-watik/
5. Warung Bebek Goreng H.Slamet Sedahromo Lor RT 01 RW 07, Kartasuro, Sukoharjo
Warung bebek goreng Pak Slamet terletak di Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro. Pak Slamet mulai berjualan bebek goreng pada tahun 1986 di pinggir jalan Solo-Jogja, dan sejak tahun 1992 pindah ke dalam kampung Sedahromo Lor karena terkena pelebaran jalan.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/12/nyamlengnya-bebek-goreng-h-slamet-kartosuro/
salam,
tomo
http://kulineronline.net
Peta Mudik dari PC Media
02 Sep 2010 6 Komentar
in tips Tag:bali, jakarta, jawa, mudik, peta, sumatera
Dalam edisi 10/2010 majalah PC Media tidak hanya mengeluarkan Antivirus PCMAV 4.0 Ragnarok 2 yang sakti, tetapi juga memberikan hadiah Peta Mudik gratis pada para pembacanya.
Bagi yang tertarik mengunduh dipersilahkan milih peta di bawah ini :
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (7 – Habis): Cikamurang
02 Sep 2010 1 Komentar
in lalu lintas, tips Tag:Cijelag, Cikamurang, mudik, Subang
Tulisan ini diperuntukan bagi para pemudik yang ragu untuk menjajal Pantura dan memilih jalur alternatif: Cikarang – Cikampek – Sadang – Subang – Cikamurang – Cijelag – Kadipaten – Cirebon.
Pada H-19 saya menyusuri jalur ini secara terbaik, yaitu dari Cirebon ke Cikarang. Photo-photo yang saya ambil akan mengarah ke arah Cikarang, sesuai posisi kendaraan yang saya tumpangi. Sisi kanan pada photo, akan menjadi sisi kiri bila kita mudik ke arah kampung halaman menggunakan jalur ini.
Tidak banyak hambatan pada infrasruktur jalan dari mulai Cikarang sampai Subang, begitu pula lepas dari Subang menuju Cikamurang, jalan yang tahun lalu hancur sepanjang 1 KM di kawasan Cinangsi (3 KM arah timur Kota Subang), sekarang sudah muluuuussss dibeton.
Sebenarnya rute ini cukup asyik ditempuh, terutama buat yang suka alam dan perkebunan, apalagi saat musim buah. Dari mulai Kalijati (10 KM arah barat kota Subang) kita sudah ketemu dengan perkebunan karet yang sekarang sedang ada proyek peremajaan pohon. Di pemukiman penduduk banyak terdapat pohon rambutan dan petai. Di sekitar kota Subang kita juga akan banyak ketemu dengan Nanas Subang dan Nanas si Madu yang dipanen dari perkebunan sekitar. Lepas dari Subang kita akan ketemu dengan perkebunan Coklat di sekitaran Cibogo. Beberapa KM dari situ kita akan ketemu perkebunan Kayu Jati di mana jalan yang kita lewati menjadi bekelok-kelok, kita juga ketemu dengan kantor perhutani dan penimbunan kayu gelondongannya. Di sekitaran Bantarwaru kita akan ketemu dengan perkebunan Eucalyptus alias Kayu Putih. Saya dengar produksi minyak kayu putih dari kebun di sekitar ini menghasilkan produk dengan kualitas terbaik. Salah satu merek terkenal dan terlama minyak kayu putih mengambil bahan nya dari kebun di sini.
Meninggalkan semua perkebunan itu, barulah tantangan dimulai, di wilayah Sanca, kita akan menikmati jalan yang baru selesai diperbaiki, sebuah jalan lurus sepanjang 10 KM dengan kontur yang sedikit naik turun, saat jalan ini masih berupa jalan Aspal mulus dan sepi, kita bisa melaju dengan kecepatan di atas 120 KM/jam dengan sensasi khusus karen jalannya sempit, diapit pepohonan, dan dengan kontur yang membuat serasa kita melaju jauh lebih cepat dan melayang. Catatan: sekarang tidak dianjurkan untuk melaju lebih dari 60 KM/ Jam, karena kondisi sudah ramai, beton jalan cenderung bergelombang, sambungan cor-coran yang tidak rata, apalagi kalau ketemu dengan jembatan sungai kecil, perbedaan ketinggian jalan sangat terasa, dan sering ada orang tua pengemis di beberapa jembatan yang mengulurkan topi meminta sedekah.
Hati – hati di beberapa pertigaan (setidaknya ada 3) yang menghubungkan Subang – Indramayu – Cijelag/Kadipaten, karena kita harus berbelok sementara lebar jalan cukup kecil dan biasanya jalan dibatasi dengan cone atau blokade kayu, yang membuat makin parah adalah adanya petugas Dishub yang mengambil pungutan pada kendaraan komersial yang lewat (sepertinya mereka yang memasang pembatas jalan).
Di sisi timur arah Cikamurang – Cikawung betonan belum selesai sehingga pelintas harus bergantian, penjaga partikelir siap membantu kelancaran lalu lintas lengkap dengan ember cash nya.
Dan mendekati Ujung Jaya, jalan malah hilang, semoga nanti saat musim mudik, jalan ini sudah mulai diperbaiki.
Sekitar 1 KM dari jalan yang rusaj ini, kita akan ketemu dengan jalan mulus yang baru diperbaiki. Di tahun-tahun yang lalu, jalan mulus ini adalah jaln yang selalu kasar aspal kerikilnya, dan yang membuat saya mengingat jalan ini adalah bahwa di sisi jalan berjajar berpuluh (ratus) pohon Asem besar, ukuran pohon bisa sebesar perut kerbau, saat musim berbuah banyak sekali buah Asem yang jatuh ke jalan. Sayang seribu sayang seiring perbaikan jalan, pohon Asem itu sebagian ditebang habis dan sebagian di pangkas disisakan setinggi 2 meter-an, mungkin untuk menjaga jajan supaya tetap mulus, menjaga supaya tetesan air hujan yang tersisa di daun asem tidak membuat jalan selalu kasar seperti sebelumnya, sebuah pengorbanan yang tidak kecil
Setelah mencapai pertigaan jalan antara Subang-Cirebon-Sumedang (photo diambil dari arah Cirebon), maka kita akan bertemu dengan jalan yang awalnya dibangun oleh Daendels (Herman Willem Daendels), jalan Bandung – Sumedang – Cirebon. Di jalan yang sudah sangat mature ini, kondisi jalan jauh lebih baik dari jalan sebelumnya sampai Subang.
Semoga semua pekerjaan pembetonan bisa segera selesai, sehingga jalur ini bisa menjadi jalur alternatif yang baik bagi pemudik yang lebih memilih melakukan perjalanan yang lebih santai, tidak banyak ketemu dengan bis dan truk besar, melewati jalan kecil yang berbelok dan berkontur ditambah pemandangan pepohonan dan perkebunan.
Selamat mudik selamat.
(Selesai)
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (6): Pantura – Marka Baru
02 Sep 2010 1 Komentar
in lalu lintas Tag:mudik, Pantura, Rambu
Ada yang baru saat kami melintas di H-20 dari Cikarang menuju Cirebon. Di jalur Pantura yang masuk ke wilayah kabupaten Subang, sebagian besar jalan sudah memilki median pembatas jalan, dan di atas median jalan ini, saya melihat marka yang baru saja di pasang, sepasang patok dengan 2 warna berbeda di masing-masing patok pada arah pandang yang berbeda dan dipasang dengan dua warna yang berbeda menghadap ke satu arah.
Ada ratusan pasang jumlah patok – patok rambu tersebut di tanam di atas median jalan. Coba kita perhatikan lebih dekat. Rupanya patok tersebut memiliki dua warna yang berbeda untuk sisi depan dan belakan, dan dihadapkan berbeda warna ke arah yang sama dengan warna Kuning di sisi kiri dan warna Merah di sisi kanan. Sepertinya patok ini diwarnai dengan material fluorescent yang akan menyala terang bila terkena cahaya langsung pada keadaan gelap.
Hal ini mungkin adalah sebuah langkah koreksi dari Dishub/Lantas/PU untuk menghindarkan pengguna jalan melanggar/menabrak median jalan saat keadaan gelap atau malah menyebrang ke lajur arah berlawanan, karena median jalan cukup rendah dan kurang terlihat. Selain itu adanya beberapa ruas jalan yang belum memiliki median jalan kadang bisa menyesatkan pengguna jalan apakah ruas yang sedang dilewati memiliki median atau tidak.
Sebuah langkah yang baik untuk memastikan pengendara melihat median jalan, mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan. Sebuah refleksi dari keseriusan dan perhatian jawatan yang bertanggung jawab pada infrastruktur jalan atas keutamaan keselamatan lalu lintas, terutama di musim mudik yang akan sangat ramai nanti.
Bravo!
(bersambung)
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (5): Rest Area Gubuk Kelapa Muda
02 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in kuliner, lalu lintas, Oleh-oleh, tips Tag:kuliner, mudik
Dalam cara pandang yang kasar dan sporadis, musim mudik, tak pelak telah selalu menggenjot transaksi mikro menjadi 100% lebih tinggi. Dana tambahan yang berputar tak lain datang dari THR yang rata-rata nilainya 1 bulan gaji bagi umumnya karyawan. Bagaimana dengan non – karyawan? tentunya juga menerima peningkatan omzet yang datang dari imbas THR itu tadi. Selain omzet yang naik dari bisnis yang sudah jalan, kadang justru usaha yang dijalankan benar-benar baru dan hanya untuk menyambut musim mudik ini.
Salah satunya adalah usaha gubuk istirahat pemudik dengan menyediakan minuman rehidrasi bagi para pemudik yang membutuhkan.
Istirahat adalah sangat penting untuk menjaga kondisi tetap prima, konsentrasi di perjalanan dan pada akhirnya akan mencegah kecelakaan. Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan roda 2, istirahat secara berkala adalah vital, karena jarak dan waktu yang ditempuh tidaklah sama dengan kebiasaan perjalanan sehari-hari dari kantor ke rumah, karena tak jarang pemudik harus menempuh lebih dari 500 KM atau lebih dari 10 jam perjalanan yang menuntut konsentrasi dan kondisi prima. Maka ketersediaan Gubuk Istirahat menjadi penolong bagi mereka, selain tentunya menjadi rizki bagi pemiliknya.
Memasuki bulan suci Ramadhan, para pengusaha gubuk istirahat mulai membangun gubuknya. Mencari di lokasi yang strategis, biasanya di kawasan yang jarang rumah penduduknya, di pinggiran pesawahan atau kebun, yang menyediakan lahan yang cukup luas untuk parkir kendaraan, utamanya roda dua. Jumlah gubuk istirahat ini, dalam pengamatan saya bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan yang tersebar sepanjang jalur mudik.
Bila anda melewati kawasan Indramayu menuju Palimanan, maka dari mulai Lohbener (Celeng) sampai Kertasmaya, akan sering juga didapati gubuk penjual buah mangga dan ikan asin. Gubuk-gubuk ini memang bukan gubuk dadakan, mereka buka sepanjang tahun, terutama saat musim buah mangga datang.
Mangga yang dijajakan tidak lagi hanya mangga Indramayu (lokal: Cengkir), atau mangga Arumanis, namun sekarang dilengkapi dengan primadona baru varietas mangga budidaya yaitu mangga Gedong Ginchu.
Sayangnya, musim mudik kali ini, sepertinya kurang bertepatan dengan musim mangga, sehingga harga mangga masih belum bisa murah, dan para pemudik harus berpikir 2 kali bila mau membeli mangga dalam jumlah banyak untuk dibawa sebagai tambahan oleh-oleh untuk keluarga yang dituju.
Selamat mudik selamat.
(bersambung)



































