Kisah Mudik 2010 (2): Terhalang Banjir dan Derita Macet Sepanjang Malam
16 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Dari Garut, kendaraan kami melaju kencang menyusuri pebukitan yang teduh namun minim penerangan lampu jalan. Pak Heru mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dibelakang, Alya terbatuk-batuk tak bisa tidur. Rupanya radang tenggorokannya sejak kemarin belum sembuh juga. Mungkin karena udara dingin menyebabkan alergi batuknya kambuh. Di Singaparna, kami mampir sejenak di apotik Kimia Farma membeli obat batuk untuk Alya.
Setelah minum obat, Alya tertidur pulas. Rizky memilih untuk tidur di pangkuan saya, di kursi depan samping Pak Heru. Jalanan yang meliak-liuk tak urung membuat saya mengantuk. Sudah pukul 20.30 malam saat itu. Saya pamit mau tidur sebentar ke Pak Heru yang masih terus waspada mengemudikan mobil.
Saya terbangun ketika malam mendekati pucuknya. Kami lantas singgah sejenak di Rest Area SPBU Jatilawang Wangon yang luas. Di tempat parkir kendaraan terlihat begitu padat, kami agak susah mencari tempat parkir.
Kami lalu turun dan masuk ke area restoran untuk minum teh hangat. Saya dan istri menuju ke Mushalla SPBU Jatilawang untuk menunaikan sholat Isya.
Kami terkejut, lantai Mushalla sudah penuh orang yang tidur tergeletak. Nampaknya mereka kebanyakan adalah pemudik sepeda motor yang letih dan ingin beristirahat. Dengan susah payah, sambil “nyempil-nyempil” kami berhasil menunaikan sholat Isya.
Setelah minum teh, kami melanjutkan perjalanan. Yogya masih 160 km lagi. Kalau dihitung-hitung sih, bisa ditempuh –bila kondisi normal hanya 3-4 jam saja. Saya agak tenang, sebentar lagi kami akan sampai. Tapi lagi-lagi dugaan saya meleset. Hanya sekitar 2 km dari tempat kami beristirahat tadi, mobil kami terjebak macet sangat panjang. Ternyata didepan kami ada banjir sedalam kurang lebih satu meter di daerah Sumpiuh. Lagi-lagi saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan Pak Heru menggaruk-garuk jenggotnya.
“Aduuh…bagaimana ini ya?” saya mengeluh tak sabar. Pak Heru angkat bahu. Sama bingungnya.
“Kita coba jalan memutar bagaimana pak? Tapi agak jauh,” kata Pak Heru menyodorkan alternatif.
“Yuk, kita memutar saja, walaupun jauh, apa boleh buat,” saya memutuskan.
Mobil kami akhirnya memutar arah dan melewati jalan memutar yang saya tak tahu kemana. Menurut pak Heru sih arah ke Wonosobo, tapi nanti tetap akan turun dan ketemu di titik pangkal banjir di Sumpiuh tadi.
Jalan alternatif memutar yang kami tempuh lumayan lancar. Beberapa kendaraan mengikuti dibelakang kami. Alhasil, sekitar 2 jam kemudian (karena sempat nyasar, pak Heru lupa jalannya), kami tiba di titik pangkal kemacetan tadi. Syukurlah, banjir sudah surut. Meskipun begitu, tetap saja, kami terjebak macet panjang (walau tak terlalu parah seperti sebelumnya). Setidaknya kami “parkir gratis” dijalan karena macet sekitar 2 jam.
“Sepertinya, kita bakal tiba di Yogya besok pagi deh Mas kalau begini situasinya,” kata Pak Heru seraya tersenyum kecut.
“Ya, beginilah resikonya, pak. Kita hadapi dan nikmati saja,” seperti biasa istri saya menimpali dari belakang dengan nada bijak.
Saya menggigit bibir. Handphone yang saya pegang sudah “tewas” kehabisan daya baterai sejak tadi. Saya tak bisa update status dan mengecek status teman-teman @pulkam lainnya di Twitter.
Dan, begitulah, dengan susah payah, kami akhirnya masuk di perbatasan Yogya sekitar pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk tidak berpuasa hari itu, karena badan begitu letih digeber macet panjang dan perjalanan yang sangat melelahkan. Kami mampir sejenak untuk sarapan di Restoran Ambar Ketawang, kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah mertua saya di Kuncen, Tegaltirto, Kecamatan Berbah Sleman.
Pukul 09.00 pagi, tanggal 9 September 2010, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Rasa letih langsung hilang menyaksikan sambutan hangat ayah dan ibu mertua serta adik ipar saya, Ahmad di beranda rumah.
Bersambung…
Kisah Mudik 2010 (1) : Menikmati Perjalanan Dengan Tabah dan Ceria
16 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Ujian kesabaran benar-benar kami sekeluarga alami dalam perjalanan mudik Lebaran 2010 ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta, tanggal 8 September 2010 lalu. Kami menempuh waktu 24 jam untuk mencapai Kota Gudeg tersebut dari kediaman kami di Cikarang (“normal”-nya hanya dibutuhkan kurang lebih 11 jam dari Cikarang menuju Yogya). Berangkat dari Cikarang, jam 08.00 pagi tanggal 8 September 2010 dan baru tiba di tempat tujuan keesokan harinya jam 09.00 pagi. Sungguh sangat melelahkan.
Rombongan kami ada 5 orang. Selain saya, istri dan kedua anak saya (Rizky dan Alya), juga ikut Nia, keponakan perempuan saya (anak kakak ipar, yang kebetulan baru dapat cuti dari kantornya mulai hari itu). Kami menumpang mobil sewaan Toyota Rush yang dikendarai oleh Pak Heru. Sejak “lepas landas” dari Cikarang, kendaraan mulai “memadat” di sekujur jalan tol Jakarta-Cikampek.
Saya terus melakukan update status di Twitter @pulkam untuk berbagi kabar kepada kawan-kawan pemudik lain, meski terkadang harus berebutan dengan Rizky yang ingin main game di Handphone saya. Kami memutuskan lewat Jalur Selatan, setelah dapat informasi bahwa jalur Pantura, sangat rentan kemacetan. “Kalaupun macet di Nagreg, kita masih “sedikit terhibur” oleh teduh dan rindangnya pepohonan disana,” kata Pak Heru.
Memasuki tol Cipularang, kami sempat tersendat oleh antrian kendaraan, namun untunglah beberapa saat kemudian, kamipun bisa bergerak dan kendaraan bisa dipacu hingga mendekati tol Cileunyi. Didepan tol Cileunyi, tanda-tanda “keadaan bakal memburuk” mulai terlihat. Macet terjadi hingga sekitar 4 km menjelang pintu tol. Kami baru mencapai pintu tol sekitar setengah jam kemudian. Dibelakang, anak-anak masih tetap ceria sembari menyantap ayam KFC yang kami beli di rest area tol Karawang Timur tadi. Kursi tengah mobil yang kami pakai ini memang sengaja dikeluarkan dan disitu dihamparkan tikar kasur dan bantal agar kedua anak saya bisa tidur selonjoran. Kursi belakang tetap dibiarkan untuk tempat duduk istri saya dan Nia.
Memasuki wilayah Nagreg, setelah mampir sebentar Sholat Dhuhur di rest area sebuah SPBU, antrian makin panjang. Laju kendaraan berjalan sangat pelan. Saya mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Pak Heru juga mulai garuk-garuk jenggotnya. Rasa kesal mulai melanda.
“Pelajaran sabar dimulai, pokoknya tetap tenang,” kata Istri saya dibangku belakang.
“Iya bu, perjalanan masih panjang, dan kita mesti punya stok sabar yang banyak ya?” sahut Pak Heru sambil tersenyum pahit.
Saya hanya manggut-manggut prihatin seraya memasang status terbaru di Twitter untuk @pulkam soal kemacetan ini.
Sekitar 2 jam lebih kendaraan kami beringsut, hingga akhirnya mencapai persimpangan Tasikmalaya dan Garut pada jalan turunan Nagreg. Sejumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor ikut “meramaikan” kemacetan yang terjadi. Sembari mengelus dada prihatin saya melihat seorang pemudik sepeda motor membawa sang anak diboncengan dan terpaksa dibaringkan diatas pangkuan sang istri karena si anak tertidur dan letih.
“Kasihan banget ya anaknya,” komentar si sulung Rizky saat saya mengabadikan adegan tersebut lewat kamera digital yang saya bawa.
“Seharusnya,” kata Pak Heru,”Pemerintah mesti bikin satu bagian khusus di Departemen Perhubungan khusus yang melayani mudik tahunan ini. Sama dengan ritual haji yang dilaksanakan tiap tahun, mudik yang juga rutin diadakan tiap tahun ini, mesti ditangani secara khusus dan serius karena ini menyangkut hak rakyat juga mendapatkan keamanan dan kenyamanan transportasi pulang ke kampung halaman”.
Saya mengangguk setuju. Kami berdua lantas berdiskusi panjang soal “wacana” bagian khusus mudik di Dephub itu.
“Kalau tidak seperti itu,” lanjut Pak Heru lagi,”kondisinya akan begini terus, mulai dari macet panjang, susahnya mendapat tiket transportasi mudik, hingga meningkatnya kecelakaan di jalan raya khususnya yang dialami pemudik bersepeda motor. Kalau ada transportasi massal yang nyaman dan bisa melayani pemudik serta dikelola profesional oleh bagian spesial mudik tersebut, tentu ritual mudik ini menjadi lebih menyenangkan”.
Diskusi kami tertunda sejenak, ketika akan memutuskan apakah kita akan lewat Tasikmalaya atau Garut ketika melihat antrian panjang kendaraan di depan, pada jalan turunan Nagreg.
“Bagaimana nih Mas? Kalau kita terus lewat Tasikmalaya, kita akan hadapi macet panjang seperti yang ada didepan, kalau lewat Garut relatif kosong dan lancar meski sedikit lebih jauh,” tanya Pak Heru.
Saya menghela nafas panjang.
“Kita lewat Garut aja pak Heru, moga-moga saja lancar sampai didepan,” saya memutuskan, akhirnya.
Dan begitulah, kami akhirnya lewat Garut.
Pada awalnya, jalan yang kami lewati lancar. Dalam hati saya berdoa semoga terus begini sampai ke Garut.
Sayangnya, perkiraan salah. Hanya kurang lebih 2 km dari persimpangan Tasikmalaya – Garut di Nagreg, mobil kami terpaksa terhenti karena antrian panjang kendaraan di depan. Saya menepuk jidat dengan dongkol. Pak Heru menggigit bibir. “Ya, sudah mari kita hadapi dan nikmati saja,” kata beliau, lagi-lagi sembari tersenyum pahit.
Saya mengangguk pasrah.
Dan begitulah, kendaraan kami beringsut pelan dan beberapa kali berhenti karena kendaraan didepan kami tidak bergerak. Hampir 3 jam lebih kami terjebak disana. Memasuki kawasan Leles, kemacetan mulai terurai. Tapi situasi lain kembali terjadi. Hujan deras tiba-tiba turun dan membuat Pak Heru mesti hati-hati mengendarai karena terhalang pandangan oleh lebatnya hujan dan licinnya jalan.
Perjalanan kami lancar hingga akhirnya kami memutuskan untuk sholat maghrib dan buka puasa di Restorant Cibiuk yang asri beberapa kilometer sebelum Garut.
Suasana Restoran yang ditata rapi dan eksotik ini membuat rasa “Be-Te” kami dihadang kemacetan tadi sedikit terhibur.
Karena suasana dingin, saya memilih memesan Nasi Goreng Ayam, sementara anak-anak makan sate sedangkan istri saya bersama Nia memilih menyantap Nasi Timbel.
Wah, sungguh nikmat sekali menyantap makanan di Restorant Cibiuk ini yang konon terkenal dengan sambelnya yang “nendang”.
Keringat mengucur saat sajian nasi goreng yang saya pesan langsung licin tandas.
Anak-anak terlihat lahap menyantap makanan mereka. Alya juga menyukai hidangan otak-otak bakar yang jadi menu khas restoran itu. Pak Heru memesan Nasi Goreng Kambing. “Supaya tetap melek nanti nyupirnya,” selorohnya.
Di Restorant ini, saya juga menyempatkan diri membeli oleh-oleh makanan ringan berupa Lanting (semacam krupuk ketela batang kecil berpilin) dan Kerupuk Kulit.
Seusai maghrib, kami kemudian melanjutkan perjalanan.
Meski hujan sudah reda, tapi udara kian terasa makin dingin menggigit.Mobil kami melaju menembus pekat malam, memasuki Kota Garut.
Bersambung..
Fotografi Perjalanan
14 Agu 2010 1 Komentar
Bagi kebanyakan orang, perjalanan dapat menjadi peluang terbaik untuk mendapatkan foto-foto yang hebat. Berikut beberapa tip untuk membantu anda mendapatkan hasil maskimal dari fotografi perjalanan anda.
- Jika Anda merencanakan sebuahperjalanan dan ingin mengambil beberapa foto hebat saat anda berada di sana, sedikit perencanaan awal sering menghasilkan perbedan antara album foto yang mengecewakan dan yang hebat. Selain itu juga ada beberapa teknik berbeda yang dapat digunakan untuk membantu mendapatkan hasil maksimal dari waktu anda yang terbatas.
- Rencanakan membawa tas aksesoris – bukan masalah jika anda tidak memiliki tas aksesoris kamera khusus, tergantung pada ukuran kamera dan aksesoris anda, sebuah tas punggung kecil juga bisa digunakan. Satu yang harus dibawa adalah satu atau dua baterai ekstra – anda tentu tidak ingin terjebak di lokasi entah berantah, dengan objek sempurna di depan anda, dan anda mendapati baterai anda mati – kebanyakan perjalanan hanya menyediakan peluang terbatas untuk mendapatkan opsi foto tertentu, sehingga manfaatkanlah sepenuhnya waktu yang anda miliki.
- Aksesori lain yang harus disiapkan adalah ruang penyimpanan foto ekstra – baik sebuah atau dua kartu memori tambahan, atau men-download foto saat di perjalanan untuk menambah ruang memori sisa. Hal mengecewakan terjadi saat mengambil foto, ternyata anda tidak memiliki sisa memori, dan terpaksa harus menghapus sebuah memori untuk mendapatkan target lain.
- Aksesori fotografi perjalanan lainnya adalah tripod. Banyak perusahaan menual tripod portabel kecil yang dapat ditaruh di sebuah tas kamera. Tripod sangat bernilai saat mengambil target yang memerlukan kondisi sangat tenang, gambar dengan cahaya rendah, atau mengambil foto teman dan keluarga bersama-sama.
- Ada baiknya juga menyegarkan kembali kemampuan fotografi anda sebelum melakukan perjalanan, berbagai website fotografi seperti Digital Photography Tipsmenyediakan nasihat dan tips untuk membantu meningkatkan kemampuan mengambil gambar anda, semakin sering anda berlatih sebelumnya, semakin bagus foto perjalanan yang anda hasilkan.
- Teknik yang berbeda juga dapat digunakan saat melakukan perjalanan untuk menghasilkan foto terbaik. Salah satu teknik yang mudah dilakukan dengan foto digital adalah dengan melakukan beberapa pengambilan gambar untuk target yang sama. Sepanjang anda memiliki ruang penyimpanan yang cukup, ambil lebih dari satu foto untuk target yang sama, daripada anda menyesal kemudian di rumah dengan mengatakan “Seandainya saya pindah ke kanan sedikit”, atau menyadari kemudian bahwa mata salah satu target tertutup.
- Ketika mengambil foto landscape, atau objek, atau landmark, satu teknik yang bagus adalah memulai dengan mengambil foto dari sudut terluas kamera anda, dan kemudian zoom in lebih dekat hingga anda mendapatkan frame yang anda inginkan.
- Juga coba mengambil dari tempat yang berbeda untuk sebuah target, dan gunakan sudut yang berbeda untuk komposisi itu. Hal ini membuat anda memiliki berbagai komposisi, mengingat anda tidak punya banyak peluang untuk mengulanginya dan mengambil gambar yang sama.
- Satu hal terakhir yang perlu diingat adalah bahwa Anda tidak dapat mengulangi waktu. Mengambil foto adalah cara terbaik untuk menyimpan memori, namun jangan lupa untuk menikmati perjalanan itu sendiri. Ini terdengar seperti nasihat sederhana, namun banyak fotografer yang terlalu bersemangat mendapati diri mereka terjebak untuk mendapatkan foto sempurna sehingga mereka kehilangan liburan itu sendiri, dan mereka kahirnya luput menikmat perjalanan itu (serta kehilangan waktu-waktu bersama keluarga atau teman perjalanan). Oleh karena itu jangan lupa bawa kamera, menghirup mawar, dan menikmati perjalanan. Jika anda luput dari foto yang sempurna, anda masih dapat membeli sebuah kartu pos!
Dikutip dari sini
Bepergian Ketika Hamil
14 Agu 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in tips
Sebuah Tips Bagus yang saya kutip dari Link ini
Adalah hal yang aman untuk terbang saat hamil. NHS (badan kesehatan nasional Inggris) mengatakan wanita yang mengalami kehamilan normal dapat bepergian, namun ada risiko deep vein thrombosis (VT) dan anda harus mengecek ke dokter anda sebelum bepergian.
Disarankan untuk tidak terbang saat kehamilan sebelum 12 minggu atau setelah 28 minggu. Ketika risiko meningkat, penerbangan memerlukan surat dari dokter anda bahwa anda aman untuk bepergian dan memastikan perkiraan kelahiran.
Setiap penerbangan memiliki aturan sendiri, sehingga penting untuk memberitahu agen perjalanan saat memesan tiket bahwa anda hamil dan untuk mengecek bahwa anda masih aman untuk terbang. Jika anda memesan melalui online, cek situs web penerbangan. Penerbangan khusus cenderung untuk membiarkan wanita terbang hingga kehamilan 34 minggu.
Sebelum Terbang
Telepon penerbangan lebih awal untuk memesan kursi penyekat (bulkhead), yaitu partisi yang memisahkan sebuah pesawat dalam beberapa bagian, misalnya antara kelas eknomi dan kelas bisnis.
Saat check in (datang lebih awal, karena anda akan bersaing dengan keluarga yang membawa anak-anak yang juga menginginkan kursi penyekat itu), jelaskan bahwa anda hamil dan tanyakanlah kemungkinan tiket anda diupgrade, atau memiliki kursi yang memiliki ruang lapang dekat anda.
Sebagai wanita hamil yang relatif berisiko tinggi, banyak asuransi yang tidak menanggung jika wanita hamil yang bepergian memiliki jadwal kepulangan kurang delapan minggu dari perkiraan jadwal kelahiran.
Saat di udara …
- Gunakan kaos kaki DVT (deep vein thrombosis).
- Pakai sandal atau sepatu pijat dengan pengikat jika kaki anda bengkak
- Bangun dan berjalanlah di sekitar kabin setiap dua jam atau lebih.
- Bawa pelindung mata dan sumbat telinga dan gunakan pakaian yang nyaman dan longgar.
- Istirahat sebanyak mungkin.
- Wanita hamil sangat rentan terhadap dehidrasi, sehingga bawalah buah-buahan kaya vitamin, seperti anggur, plums, jeruk atau apricots kering. Pastikan Anda membawa dua liter air putih.
- Hindari kopi dan teh, yang dapat meningkatkan risiko DVT.
- Bawa banyak makanan ringan.
- Coba gunakan kosmetik alami. Bayi anda akan menyerap apa pun yang anda lakukan. Wanita hamil lebih rentan terhadap sakit perjalanan dan wrist bands mungkin membantu anda.
Di tempat liburan
Bawa salinan catatan medis, asuransi, juga daftar nama orang-orang yang dihubungi dalam kondisi darurat. Dapatkan daftar lokasi rumah sakit lokal dari kedutaan atau badan pariwisata.
Kulit anda lebih sensitif selama kehamilan, oleh karena itu gunakan pelindung matahari yang lebih kuat daripada yang biasanya.
Hindari menyelam dan olahraga air saat hamil.
Di atas semuanya, bersantai dan nikmati liburan bebas popok tersebut. Jika anda senang, bayi anda akan ikut senang.
Mudik Ceria Bersama Idola Cilik, Peter Pan dan Dian Piesesha
12 Agu 2010 1 Komentar
Catatan:
Ini adalah catatan mudik saya ke Yogya 2 tahun lalu, seperti yang sudah saya posting diblog saya. Saya re-post lagi kesini untuk berbagi pengalaman mudik. Semoga bermanfaat..
=======================================================
Pagi belum sempurna benar melingkupi hari ketika kami sekeluarga bersiap mudik keYogya pada hari Senin (29/9). Kedua anak saya, Alya dan Rizky sudah siap dan sangat antusias menjajal pengalaman baru dengan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman ibu mereka dengan mobil. Biasanya kami menggunakan moda transportasi pesawat udara atau kereta api untuk pulang ke Yogya. Sejak pukul 04.00 pagi, mobil Daihatsu Xenia yang kami sewa sudah tiba didepan rumah. Pakde, demikian sapaan akrab kami buat Pak Sopir yang kebetulan juga berasal dari Yogya itu, membantu kami menaikkan barang-barang keatas mobil.
Setelah memastikan kondisi rumah sudah dalam kondisi yang relatif aman untuk ditinggalkan, kami bersiap berangkat. Saya menyempatkan diri menemui Pak Juki, satpam yang menjaga kawasan perumahan kami untuk menitipkan rumah serta memberikan zakat lebaran sekedarnya.
Tepat pukul 05.00 pagi, kami berangkat. Lagu “Idola Cilik” yang mengalun lantang dari tape mobil. Alya dengan riang mengikuti lagu tersebut sambil melenggak-lenggokkan badannya. Sementara Rizky memilih melanjutkan Tidurnya kembali di tempat duduk belakang. Mobil melaju mulus memasuki tol Cikampek. Atas saran Pakde dan juga setelah melihat berita di Televisi yang menyatakan kawasan Pantura macet parah, kami memilih untuk melewati jalur selatan yang tidak terlalu macet, lebih dekat tapi jalannya berlika-liku naik turun gunung.
Jalan tol Cikampek sangat sepi, tidak terlalu banyak kendaraan pemudik melalui jalan disana. Saya menduga puncak arus mudik telah terjadi sejak Sabtu-Minggu (27-28 September 2008) sehingga pada hari kami melakukan perjalanan mudik, jalanan relatif lengang. Kami singgah sejenak di area istirahat Karawang Timur untuk mengisi bensin sekalian membeli sarapan buat anak-anak di Kentucky Fried Chicken. Tangki bensin diisi penuh agar tidak perlu khawatir kehabisan jika sekiranya terjebak macet ditengah jalan, Pakde yang kini berusia 50 tahun, bapak dari 3 anak dan sudah memiliki satu orang cucu ini sangat piawai mengendarai. Beliau yang sebelum menjadi supir mobil rental itu pernah menjadi supir truk serta supir kendaraan perusahaan. Dalam waktu singkat dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam, tol Cipularang “dilibas”. Rizky dan Alya tertidur pulas selama perjalanan setelah sebelumnya menyantap sarapan ayam goreng KFC. Para “Idola Cilik” telah “turun panggung” dan digantikan dengan alunan suara melankolis Penyanyi idola istri saya Dian Piesesha.











