Penumpang KA Turun di tahun 2012


Eko Sutrisno HP:

Penumpang KA Turun di tahun 2012

Originally posted on Es Ha Pe Blogger Jogja:

Penumpang Kereta Api tahun 2012 diprediksi turun, sedangkan moda angkutan lain diprediksi akan naik. Hal ini terjadi bukan karena minat untuk naik kereta api lebih kecil atau menurun melainkan karena peraturan baru yang mulai diterapkan yaitu tidak boleh ada penumpang berdiri di kereta api.

“Semua penumpang KA harus punya kursi, artinya semua punya tiket dan duduk di kursi masing-masing tidak berdiri atau nongkrong di restorasi”

Akibat peraturan ini banyak penumpang yang kehabisan tiket, karena jumlah kursi di semua kereta api dari tahun ke tahun tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan. Aku sendiri yang sudah pesan sejak H-90 tidak mendapat tiket sesuai yang kuharapkan, sehingga memakai kereta api sesuai yang masih ada tiketnya. Aku sengaja tidak mencari via calo, seperti yang dulu pernah kulakukan.

Gerakan moral untuk memperbaiki kinerja perkereta apian membuatku malu untuk naik kereta dengan tiket dari calo. Artinya jauh hari aku harus sudah membeli tiket, kalau ingin nyaman duduk…

View original 266 more words

Laporan mudik pak Iriyanto via milis


Dear all,

Informasi perjalanan mudik via pantura slawi :

start dari cikarang jam 2 pagi, saat ini jam 07.30 sudah sampai Brebes dg kecepatan 60-80 km/jam, melewati tol kanci lanjut tol pejagan keluar arah slawi.
Kondisi jalan pantura sudah mulus dg marka yang jelas, masuk cirebon jalan aspal baru marka belum dibuat.
Sempat antri sebentar di tol kanci gerbang ciperna.
Keluar tol pejagan pun jalan sudah cukup bagus.

Sekian dulu, nanti saya update lagi…
*salam mudik
Iriyanto

Sent from my BlackBerry®

H-3 : Jakarta – Jogja 12 jam


Secara umum perjalanan mudik ini sangat lancar,meski menjadi terhambat karena hujan yang turun cukup deras sejak keluar dari tol Cipularang. Di beberapa tempat hujan ini berhenti total, tapi selang beberapa menit kemudian kembali turun, baik gerimis, setengah deras sampai deras.

Jalan mulus tanpa hambatan tentu dari Cawang sampai Cileunyi. Setelah itu jalan tetap mulus. Nagreg masih normal alias sepi-sepi saja. Polisi terlihat berjaga-jaga di beberapa tempat strategis.

Memasuki Jawa Tengah kondisi jalan berubah total. Terlihat tidak ada pembenahan di jalur selatan wilayah Jawa Tengah. Mungkin dianggap jalan masih layak sehingga prioritas pembenahan dipusatkan ke Pantura, yang selalu sarat dengan masalah macet.

Akhirnya setelah 12 jam mengarungi jalan dengan diiringi hujan yang sangat setia, sampailah di kota Jogja dengan aman dan selamat. Ucapan terima kasih kusampaikan pada teman-teman yang selalu mengikuti perjalananku ini. Doa yang mengalir begitu banyak dari teman-teman yang sehati membuat perjalnan terasa ringan.

Di sepanjang perjalanan sempat berhenti di beberapa tempat. Antara lain di SPBU Terapi Air Hangat. Lokasinya ada di Jl. Pamoyanan Km 81 Ciawi Tasikmalaya.Cukup bayar 5.000 dan bisa mandi sepuasnya di kamar mandi. Kalau mau di kolam air hangat lebih murah lagi. Paling murah tentu kalau hanya ke toilet.

Kalau menjelang buka puasa sampai di lokasi ini, maka kita bisa langsung sambung acara mandi dengan acara buka puasa. Ada resto artistik di samping kolam. Ada juga sebuah masjid kecil yang cukup bersih.

SPBU terapi air hangat ini kalau dari arah Bandung menuju Ciamis, terletak di sebelah kiri jalan. Sebuah tempat yang layak dikunjungi para pemudak maupun pemudik.

Pemberhentian ke dua si Sumpyuh. Ada resto Pringsewu disitu. Sayangnya menu pilihanku kurang pas malam itu. Sop buntutnya keras dan gigiku gak sanggup mencabik-cabik dagingnya. Sempat main juga di stand telkomsel. Kasih kado buat driver berupa pulsa Simpati dan dapet hadiah bantal leher, peta lengkap dengan iklannya dan pijat gratis.

Peta terlengkap tentu yang dikeluarkan Jasa Marga di Pintu Tol. Meskipun penuh iklan juga, tetapi cetakannya jelas dan sangat mudah dibaca. Kualitas kertas dan cetakannya sangat prima.

Di sepanjang jalan juga terlihat banyak iklan yang saling berlomba menarik perhatian masyarakat. Hujan memang sedikit menghambat perjalanan. Meski terlihat beberapa sepeda motor tetap jalan meski hujan dan gelap. Aku tak tahu apakah itu sebuah bentuk komitment yang tinggi untuk mudik atau bentuk kenekadan yang tanpa nerpikir lebih jauh. Salah satu di antara mereka sempat mencium mobil yang kunaiki dan kemudian lari begitu saja.

Gerimis tetap jalan terus

Gerimis tetap jalan terus

Hujan deras juga bukan halangan

Hujan deras juga bukan halangan

Di tempat lain ada Toyota Kijang Inopa yang menyalip dan setelah menyalip penumpangnya langsung membuang sampah melalui jendela sebelah kiri. Tersinggungkah aku? Yah…senyum sajalah sambil geleng-geleng kepala.

Alhamdulillah, sekarang sudah sampai di Jogja dengan selamat, sementara itu berita di detik dot com menyebutkan kalau semua jalan keluar dari Jakarta sangat padat.

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (7 – Habis): Cikamurang


Tulisan ini diperuntukan bagi para pemudik yang ragu untuk menjajal Pantura dan memilih jalur alternatif: Cikarang – Cikampek – Sadang – Subang – Cikamurang – Cijelag – Kadipaten – Cirebon.

Pada H-19 saya menyusuri jalur ini secara terbaik, yaitu dari Cirebon ke Cikarang. Photo-photo yang saya ambil akan mengarah ke arah Cikarang, sesuai posisi kendaraan yang saya tumpangi. Sisi kanan pada photo, akan menjadi sisi kiri bila kita mudik ke arah kampung halaman menggunakan jalur ini.

Tidak banyak hambatan pada infrasruktur jalan dari mulai Cikarang sampai Subang, begitu pula lepas dari Subang menuju Cikamurang, jalan yang tahun lalu hancur sepanjang 1 KM di kawasan Cinangsi (3 KM arah timur Kota Subang), sekarang sudah muluuuussss dibeton.

Sebenarnya rute ini cukup asyik ditempuh, terutama buat yang suka alam dan perkebunan, apalagi saat musim buah. Dari mulai Kalijati (10 KM arah barat kota Subang) kita sudah ketemu dengan perkebunan karet yang sekarang sedang ada proyek peremajaan pohon. Di pemukiman penduduk banyak terdapat pohon rambutan dan petai. Di sekitar kota Subang kita juga akan banyak ketemu dengan Nanas Subang dan Nanas si Madu yang dipanen dari perkebunan sekitar. Lepas dari Subang kita akan ketemu dengan perkebunan Coklat di sekitaran Cibogo. Beberapa KM dari situ kita akan ketemu perkebunan Kayu Jati di mana jalan yang kita lewati menjadi bekelok-kelok, kita juga ketemu dengan kantor perhutani dan penimbunan kayu gelondongannya. Di sekitaran Bantarwaru kita akan ketemu dengan perkebunan Eucalyptus alias Kayu Putih. Saya dengar produksi minyak kayu putih dari kebun di sekitar ini menghasilkan produk dengan kualitas terbaik. Salah satu merek terkenal dan terlama minyak kayu putih mengambil bahan nya dari kebun di sini.

Kebun Eucalyptus

Meninggalkan semua perkebunan itu, barulah tantangan dimulai, di wilayah Sanca, kita akan menikmati jalan yang baru selesai diperbaiki, sebuah jalan lurus sepanjang 10 KM dengan kontur yang sedikit naik turun, saat jalan ini masih berupa jalan Aspal mulus dan sepi, kita bisa melaju dengan kecepatan di atas 120 KM/jam dengan sensasi khusus karen jalannya sempit, diapit pepohonan, dan dengan kontur yang membuat serasa kita melaju jauh lebih cepat dan melayang. Catatan: sekarang tidak dianjurkan untuk melaju lebih dari 60 KM/ Jam, karena kondisi sudah ramai, beton jalan cenderung bergelombang, sambungan cor-coran yang tidak rata, apalagi kalau ketemu dengan jembatan sungai kecil, perbedaan ketinggian jalan sangat terasa, dan sering ada orang tua pengemis di beberapa jembatan yang mengulurkan topi meminta sedekah.

Jalan Beton Lurus 10 KM

Hati – hati di beberapa pertigaan (setidaknya ada 3) yang menghubungkan Subang – Indramayu – Cijelag/Kadipaten, karena kita harus berbelok sementara lebar jalan cukup kecil dan biasanya jalan dibatasi dengan cone atau blokade kayu, yang membuat makin parah adalah adanya petugas Dishub yang mengambil pungutan pada kendaraan komersial yang lewat (sepertinya mereka yang memasang pembatas jalan).

Pertigaan

Hampir selesai dibeton

Baru setengah yang dibeton

Di sisi timur arah Cikamurang – Cikawung betonan belum selesai sehingga pelintas harus bergantian, penjaga partikelir siap membantu kelancaran lalu lintas lengkap dengan ember cash nya.

Buka tutup gantian lewat

Dan mendekati Ujung Jaya, jalan malah hilang, semoga nanti saat musim mudik, jalan ini sudah mulai diperbaiki.

Jalan rusak sepanjang beberapa puluh meter di sekitar Ujung Jaya dan belum terlihat usaha perbaikan

Sekitar 1 KM dari jalan yang rusaj ini, kita akan ketemu dengan jalan mulus yang baru diperbaiki. Di tahun-tahun yang lalu, jalan mulus ini adalah jaln yang selalu kasar aspal kerikilnya, dan yang membuat saya mengingat jalan ini adalah bahwa di sisi jalan berjajar berpuluh (ratus) pohon Asem besar, ukuran pohon bisa sebesar perut kerbau, saat musim berbuah banyak sekali buah Asem yang jatuh ke jalan. Sayang seribu sayang  seiring perbaikan jalan, pohon Asem itu sebagian ditebang habis dan sebagian di pangkas disisakan setinggi 2 meter-an, mungkin untuk menjaga jajan supaya tetap mulus, menjaga supaya tetesan air hujan yang tersisa di daun asem tidak membuat jalan selalu kasar seperti sebelumnya, sebuah pengorbanan yang tidak kecil

Setelah mencapai pertigaan jalan antara Subang-Cirebon-Sumedang (photo diambil dari arah Cirebon), maka kita akan bertemu dengan jalan yang awalnya dibangun oleh Daendels (Herman Willem Daendels), jalan Bandung – Sumedang – Cirebon. Di jalan yang sudah sangat mature ini, kondisi jalan jauh lebih baik dari jalan sebelumnya sampai Subang.

Pertigaan Cijelag menghubungkan Subang - Cirebon - Sumedang/Bandung

Semoga semua pekerjaan pembetonan bisa segera selesai, sehingga jalur ini bisa menjadi jalur alternatif yang baik bagi pemudik yang lebih memilih melakukan perjalanan yang lebih santai, tidak banyak ketemu dengan bis dan truk besar, melewati jalan kecil yang berbelok dan berkontur ditambah pemandangan pepohonan dan perkebunan.

Selamat mudik selamat.

(Selesai)

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (6): Pantura – Marka Baru


Ada yang baru saat kami melintas di H-20 dari Cikarang menuju Cirebon. Di jalur Pantura yang masuk ke wilayah kabupaten Subang, sebagian besar jalan sudah memilki median pembatas jalan, dan di atas median jalan ini, saya melihat marka yang baru saja di pasang, sepasang patok dengan 2 warna berbeda di masing-masing patok pada arah pandang yang berbeda dan dipasang dengan dua warna yang berbeda menghadap ke satu arah.

Rambu di Median Jalan

Ada ratusan pasang jumlah patok – patok rambu tersebut di tanam di atas median jalan.  Coba kita perhatikan lebih dekat. Rupanya patok tersebut memiliki dua warna yang berbeda untuk sisi depan dan belakan, dan dihadapkan berbeda warna ke arah yang sama dengan warna Kuning di sisi kiri dan warna Merah di sisi kanan. Sepertinya patok ini diwarnai dengan material fluorescent yang akan menyala terang bila terkena cahaya langsung pada keadaan gelap.

Hal ini mungkin adalah sebuah langkah koreksi dari Dishub/Lantas/PU untuk menghindarkan pengguna jalan melanggar/menabrak median jalan saat keadaan gelap atau malah menyebrang ke lajur arah berlawanan, karena median jalan cukup rendah dan kurang terlihat. Selain itu adanya beberapa ruas jalan yang belum memiliki median jalan kadang bisa menyesatkan pengguna jalan apakah ruas yang sedang dilewati memiliki median atau tidak.

Sebuah langkah yang baik untuk memastikan pengendara melihat median jalan, mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan. Sebuah refleksi dari keseriusan dan perhatian jawatan yang bertanggung jawab pada infrastruktur jalan atas keutamaan keselamatan lalu lintas, terutama di musim mudik yang akan sangat ramai nanti.

Kuning Merah dari sisi sini dan Kuning Merah juga dari sisi sana

Bravo!

(bersambung)

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (5): Rest Area Gubuk Kelapa Muda


Dalam cara pandang yang kasar dan sporadis, musim mudik, tak pelak telah selalu menggenjot transaksi mikro menjadi 100% lebih tinggi. Dana tambahan yang berputar tak lain datang dari THR yang rata-rata nilainya 1 bulan gaji bagi umumnya karyawan. Bagaimana dengan non – karyawan? tentunya juga menerima peningkatan omzet yang datang dari imbas THR itu tadi. Selain omzet yang naik dari bisnis yang sudah jalan, kadang justru usaha yang dijalankan benar-benar baru dan hanya untuk menyambut musim mudik ini.

Salah satunya adalah usaha gubuk istirahat pemudik dengan menyediakan minuman rehidrasi bagi para pemudik yang membutuhkan.

Istirahat adalah sangat penting untuk menjaga kondisi tetap prima, konsentrasi di perjalanan dan pada akhirnya akan mencegah kecelakaan. Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan roda 2, istirahat secara berkala adalah vital, karena jarak dan waktu yang ditempuh tidaklah sama dengan kebiasaan perjalanan sehari-hari dari kantor ke rumah, karena tak jarang pemudik harus menempuh lebih dari 500 KM atau lebih dari 10 jam perjalanan yang menuntut konsentrasi dan kondisi prima. Maka ketersediaan Gubuk Istirahat menjadi penolong bagi mereka, selain tentunya menjadi rizki bagi pemiliknya.

Memasuki bulan suci Ramadhan, para pengusaha gubuk istirahat mulai membangun gubuknya. Mencari di lokasi yang strategis, biasanya di kawasan yang jarang rumah penduduknya, di pinggiran pesawahan atau kebun, yang menyediakan lahan yang cukup luas untuk parkir kendaraan, utamanya roda dua. Jumlah gubuk istirahat ini, dalam pengamatan saya bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan yang tersebar sepanjang jalur mudik.

Gubuk yang baru didirikan H-20

Gubuk yang sudah mulai beroperasi di H-20

Bila anda melewati kawasan Indramayu menuju Palimanan, maka dari mulai Lohbener (Celeng) sampai Kertasmaya, akan sering juga didapati gubuk penjual buah mangga dan ikan asin. Gubuk-gubuk ini memang bukan gubuk dadakan,  mereka buka sepanjang tahun, terutama saat musim buah mangga datang.

Mangga yang dijajakan tidak lagi hanya mangga Indramayu (lokal: Cengkir), atau mangga Arumanis, namun sekarang dilengkapi dengan primadona baru varietas mangga budidaya yaitu mangga Gedong Ginchu.

Mangga Gedong Ginchu yang sekarang menjadi favorit

Sayangnya, musim mudik kali ini, sepertinya kurang bertepatan dengan musim mangga, sehingga harga mangga masih belum bisa murah, dan para pemudik harus berpikir 2 kali bila mau membeli mangga dalam jumlah banyak untuk dibawa sebagai tambahan oleh-oleh untuk keluarga yang dituju.

Selamat mudik selamat.

(bersambung)

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (4): Pantura – Pasar Tumpah


Kegiatan pasar tradisional di daerah biasanya sudah mulai aktif sejak Dinihari, sangat ramai pada pagi hari, dan mulai mencair ketika hari menjelang siang. Namun hati-hati dengan pasar sandang, mereka kadang ramai hingga menjelang sore bila tepat pada ‘hari pasar’ di tempat itu.

Sepanjang jalur mudik Cikampek – Cirebon, ada beberapa pasar yang rawan bikin macet, yaitu: Pasar Ciasem, Patrol, kemudian Tegalgubug (bila memilih jalur Palimanan) dan Pasar Karangampel juga Celancang (bila memilih jalur pesisir).

Pasar Ciasem, Subang

Pasar dan Terminal bayangan Patrol, Indramayu

Selain kegiatan pasar, di Patrol, lalu lintas juga terhambat becak dan antrian kendaraan umum jenis ‘elf’ yang menunggu penumpang menuju Indramayu.

Terminal bayangan Elf di pasar Patrol, Indramayu

Di Patrol, sudah sering terjadi kecelakaan, hal ini bisa dimungkinkan karena sebelum titik ini dari arah Jakarta jalan begitu lebar dan mulus, kemudian pas di tepi barat pasar ini ada jembatan kecil yang membuat jalan agak meninggi sehingga kemungkinan pelintas yang sedang ngebut luput untuk memperhatikan kerumunan di jalanan yang hendak dilaluinya. Dalam keadaan macet, sepertinya titik ini malah lebih aman.

Selanjutnya pasar Tegalgubug, Cirebon. Pasar ini adalah pasar sandang yang sangat sibuk pada hari pasar. Hari pasar dari pasar ini ada 2 kali dalam 1 minggu, yaitu hari Selasa dan hari Sabtu. Setiap hari pasar, keramaian sudah dimulai sejak jam 22:00 malam sebelumnya, dan akan mulai mencair menjelang tengah hari.

Lapak K5 di pasar Tegalgubug yang sedang tidak dipakai dan dirapikan

Di hari pasar tersebut, dapat dipastikan lalu lintas akan macet sepanjang lebih dari 1 kilometer, Dishub setempat sudah siaga untuk selalu mengalihkan lalulintas berputar menembus jalan desa yang sempit untuk mengurangi kemacetan. Hal itu dilakukan setiap hari pasar, bukan hanya saat ramai pemudik melintas.

Pada hari pasar, maka pinggiran jalan akan penuh dengan bangku dan lapak pedagang K5, setengah badan jalan akan penuh dengan becak mengangkut berkarung-karung pakaian. Berhati-hatilah bila anda berencana melewati pasar ini pada hari Selasa atau Sabtu.

Di jalur pesisir, bila pemudik memilih jalur Indramayu – Karangampel – Cirebon, maka pasar Karangampel di Karangampel, Indramayu dan Pasar Celancang di Cirebon akan membuat lalulintas macet setiap pagi hari.

(bersambung)

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (3): Pantura – Pos Amal Jariyah


Seri yang ini juga bukan mengenai tips n trik di jalur pantura, namun tetap ada hubungan keselamatan dan kelancaran berkendara selama mudik melalui jalur pantura.

Seperti sudah saya informasikan sebelumnya, saya pernah melewati jalur Cikampek – Indramayu ini dengan menyetir sendiri kendaraan yang dibawa lebih dari 100 kali (kayak supir bis aja ya hehehe), dan dari sekian ratus kali saya lewat, hampir dipastikan ada pemandangan seperti di bawah ini bila kita lewat masih agak siang.

Coba perhatikan:

Yap betul, mereka menutup salah 1 dari 2 lajur yang tersedia di masing-masing arah. Tak jarang saya harus menginjak rem sekuat tenaga untuk memperlambat kendaraan yang sedang asyik melaju kencang dan tiba-tiba di depan sana kita ketemu dengan blokade seperti itu, dan kita harus segera berpindah ke lajur yang ‘dibolehkan’.

Hemat saya, ini sangat berbahaya, baik bagi kita pengendara, maupun mereka yang berdiri di tengah jalan.

Harapan saya, menjelang lebaran dan sesudahnya, Dishub dan Polri suah mau membersihkan jalur dari kehadiran mereka, sehingga bahaya rem mendadak, pindah lajur dan menabrak bisa dihilangkan.

Saya tidak tahu apakah kegiatan seperti ini di-sah-kan menurut peraturan lalu-lintas/ perhubungan? kemudian benarkah secara agama apa yang mereka lakukan? benarkah semua uang yang terkumpul disalurkan kepada proyek yang menjadi proposal mereka meminta pungutan kepada pelintas? saya tidak begitu paham.

Faktanya, pos amal sodakoh (tertulis demikian) pada photo kedua telah memulai aktipitasnya sejak awal tahun 2004 saat saya memulai perjalanan seminggu sekali antara Cikarang – Indramayu selama hampir 2 tahun. Kalau dihitung hingga saat ini, maka mereka sudah ada di situ setidaknya hampir (atau mungkin lebih dari) 7 tahun!

Untuk para pemudik yang melakukan perjalanan agak jauh dari hari H, ada kemungkinan jalur belum steril dari kehadiran pos seperti itu, maka berhati-hatilah bila misalnya sedang memacu kendaraan, siapa tahu beberapa puluh meter di depan lajur anda ditutup untuk dialihkan ke lajur penerimaan sumbangan.

(bersambung)

Nagreg terus bebenah


Sampai saat ini Ngagrek masih selalu menjadi momok para pemudik.

Dari hasil pantauan tim dari Koran Tempo (berita dimuat di koranTempo tanggal 29 Agustus 2010), kondisi jalan masih belum sempurna. Masih ada beberapa ratus meter yang belum selesai diaspal, yaitu pada kondisi jalan yang masih belum stabil.

Kita semua tentu berharap semua jalan alternatif di sekitar Ngagrek dapat berfungsi dengan baik saat mudik nanti. Meskipun Owner Proyek dan pelaksana Proyek (PT Hutama Karya) berjanji akan menyelesaikan jalan itu pada H-10, tapi tidak ada salahnya kita bantu dengan doa kita. Semoga jalan itu bisa dilewati dengan baik pas hari H-10. Amin.

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (1): Pantura


Tepatnya Jalur Mudik Cikarang – Palimanan, karena saya tidak sempat merapat ke Cirebon nya.

Tulisan ini akan terdiri dari beberapa bagian berisi pantauan pada H-20 untuk 2 pilihan jalur dari setidaknya 4 pilihan yang tersedia, yaitu: Cikarang – Tol – Cikampek – Pamanukan – Lohbener – Palimanan, dan Cikarang – Tol – Cikampek – Sadang – Kalijati – Subang – Cikamurang – Cijelag – Kadipaten – Palimanan.

Berikut hasil pantauan H-20 tersebut:

Cikarang – Tol – Cikampek

Tidak ada hambatan berarti pada kondisi infrastruktur jal Tol, hanya ada sedikit pekerjaan perbaikan penguatan sisi bahu jalan di KM 40 dan penebalan aspal lajur paling kanan di KM 70, sisi arah Jakarta juga sisi paling kanannya sedang ditebalkan. Mudah2an bisa selesai dalam minggu ini dan saat H-7 bisa sudah rampung semua.

Penguatan Tebing Bahu Jalan

Penebalan Lajur Paling Kanan

Cikampek – Pamanukan – Lohbener (Indramayu)

Jalur yang dulu dikenal juga sebagai Jalur Maut ini sekarang sudah jauh lebih beradab, median jalan sudah di bangun di lebih dari 80% total panjang jalur. Sebelumnya sebagian panjang jalur ini tanpa median, sehingga acapkali terjadi kecelakaan dikarenakan kendaraan dengan kecepatan tinggi mendahului kendaraan di depannya dan mengambil jalur dari arah yang berlawanan. Kendaraan kecil sering harus turun dari badan jalan untuk menghindarai tabrakan.

Kilometer Pertama Pantura dari Simpang Jomin

Sedikit pekerjaan touch up terlihat di beberapa titik, photo di bawah diambil di sekitaran Sukamandi menjelang gedung Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Penambalan Aspal Jalan di Sukamandi

Pengisian retakan beton dengan aspal

Sebagian ruas jalan terlihat baru saja selesai, baik yang diaspal maupun dibeton, photo di bawah adalah ruas sekitar Ciasem sebelum Pamanukan, areal di mana biasanya truk pasir arah Jakarta menepi untuk beristirahat dan menurunkan sebagian pasirnya. Sebelumnya ruas ini tanpa pembatas jalur dan kondisi jalan sering berlubang karena sering basah oleh air yang terbawa bersama pasir yang diangkut truk-truk besar menuju Jakarta dsk.

Aspal dan Beton

Dari Pamanukan hingga ke Lohbener hampir bisa dikatakan tidak ada hambatan berarti pada kondisi infrastruktur jalan.

Lohbener – Palimanan (Cirebon)

Dari Lohbener (Celeng – Indramayu) pelintas dihadapkan pada 2 pilihan jalur menuju Cirebon, yaitu lurus melewati kota Indramayu – Balongan – Karangampel – Klayan – Pesisir yaitu jalur yang menyusuri pantai timur Indramayu dan Cirebon, atau belok kanan menuju Jatibarang, dari Jatibarang kembali bisa diambil 2 pilihan yaitu belok kiri ke arah Karangampel atau lurus menuju Palimanan yang sesampainya di Palimanan bisa memilih jalan Tol Palimanan – Kanci – Pejagan, atau lewat jalur propinsi melintas lingkar selatan kota Cirebon.

Bila mengambil pilihan  menuju Palimanan, maka sesaat setelah melewati tapal batas Kabupaten Indramayu dan Cirebon, sekitar 5 KM sebelum pasar Tegal Gubug, terlihat masih ada pekerjaan besar perbaikan jalan di lajur arah Jakarta sehingga tidak bisa dilewati, otomatis jalur arah Cirebon difungsingkan menjadi jalur 2 arah dengan masing-masing hanya 1 lajur, ada kemungkinan pekerjaan tersebut belum akan selesai saat H-5 ataupun H+5, jadi silahkan pantau keadaan aktual nanti sebelum memutuskan untuk melewatinya.

Pada photo di bawah terlihat jalur arah Jakarta sedang digali cukup dalam untuk diganti lapisan aspal nya

Perbaikan besar sekitar Tegal Gubug

Selepas ruas tersebut, kondisi jalan lumayan baik, namun akan cukup banyak keramaian yang mungkin dapat menjadi hambatan kelancaran lalu lintas. Gerbang tol Palimanan berada sekitar 12 KM dari ruas ini.

(bersambung)

Previous Older Entries

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

for better education

Make education as the most important part in our life ..

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's photo blog & flash fiction

berbagi foto, belajar menulis fiksi

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda

ketika Noktah Ini Terangkai menjadi nAda

sekedar jejak kecil anak manusia

KAYA ala KIYOSAKI

Dalam website ini saya akan sharing PROSES men-CIPTAKAN (sumber) INCOME baru, yaitu INCOME dari INTERNET. Semoga bermanfaat........

rafabenz

Just another WordPress.com weblog

Apa Aja Boleh

Just another WordPress.com weblog

The Komodo Diaries

stories in and around Komodo National Park

Wisatanya Ari Perwira

Just another WordPress.com weblog

Azcomycotina's Blog

Just another WordPress.com site

Asuransi Prudential Bandung

Jadilah Nasabah Prudential Untuk Masa Depan Terjamin

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 8.943 pengikut lainnya.