21 Kuliner Jogja Pilihan Kuliner Online
05 Sep 2010 3 Komentar
in kuliner
21 Kuliner Jogja Pilihan Kuliner Online
by: Sulastama
Buat Rekans yang akan berwisata kuliner di Jogja,
Berikut ini 21 lokasi tempat wisata kuliner di Jogja yang siap menguji kecerdasan lidah Anda. Rata-rata makanan Jogja uenak dan harganya affordable.
1. Sega Geneng , Dusun Nengahan, Panggung Harjo, Sewon, Bantul, telpon 085292095550
Warung sego nggeneng adalah warung makan yang menyajikan gudeg klasik dengan areh yang tidak kental dan sayuran hijaunya menggunakan daun pepaya yang tidak pahit. Sambalnya berupa sambal kacang tholo yang dimasak pedas dengan menggunakan rambak (krecek ndeso). Sedangkan lauknya berupa tahu, tempe, telur, rempelo ati, yang dimasak dengan bumbu besengek dan mangut lele.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/06/28/ketika-gudeg-dan-mangut-bersatu-di-sego-nggeneng-mbah-marto/
2. Jejamuran Resto, Jejamuran, Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, 55512 telpon 0274 868170
Jejamuran resto adalah sebuah rumah makan dengan keunggulan penggunaan bahan baku utama jamur yang dipadukan dengan menu tradisional. Bahan baku jamur mengandung berbagai macam asam amino, mineral, vitamin dan senyawa bioaktif yang baik bagi kesehatan, jamur juga telah terbukti menaikkan system kekebalan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kandungan lemak dalam tubuh, menghambat partumbuhan tumor, antiinflmasi dan antimikroba.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/02/tongseng-dan-sate-jamur-di-jejamuran-2/
3. Gubug Makan Mang Engking, Jamur, Sendangrejo, Minggir, Sleman, Flexi: 0274-7489732, HP: 085868020045
Warung makan Gubug Mang Engking adalah rumah makan yang sangat terkenal sebagai spesialis masakan udang galah di Yogyakarta. Sebagai menu andalan, sekilo udang bakar madu disajikan dalam 8 tusuk sate udang yang masing-masing terdiri dari 5 ekor udang. Sedangkan menu udang yang lain adalah udang goreng, asam manis, saos tiram dan udang rebus, yang dibagi dalam ukuran udang super [sekilo terdiri dari 12 ekor] dan udang udang standart [sekilo terdiri dari 30 ekor].
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/05/25/merayakan-ulang-tahun-di-gubug-mang-engking/
4. Sate Karang Pak Prapto , Sate Karang Pak Prapto, Jl. Nyi Pembayun, Lapangan Karang Kota Gede Telp. (0274)7807371 / 4436701
Sate Karang merupakan salah satu ikon kuliner Kota Gede. Disebut Sate Karang karena lokasi penjualannya di Lapangan Karang, Kota Gede. Sate ini dibuat dari daging sapi yang dibumbui saus kacang lalu disajikan bersama lontong dan kuah lodeh. Sate Karang mulai berjualan sejak tahun 1948, dijajakan berkeliling oleh Pak Karyo Semito, ayah Pak Prapto.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/09/29/mengudap-nyamlengnya-sate-karang-pak-prapto/
5. Sate Klatak Wedus Mas Barry, Pasar Jejeran Wonokromo Bantul Telpon 081328800165
Mas Barry merupakan generasi ketiga yang berjualan sate klatak. Sebelumnya, ayahnya Wakidi, juga berjualan di sini. Wakidi meneruskan usaha ayahnya yang bernama Ambyah yang membuka usaha ini pada tahun 1946.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/02/sate-klatak-wedus-mas-barry/
6. Sate Goreng Ringin Kronggahan, Warung Sate Kambing Pak Tris , Kronggahan, Mlati, Sleman, Telpon 02746415148
Warung sate kambing Pak Tris Kronggahan dirintis oleh Pak Sutrisno Hadipandoyo pada tahun 1978, dan sejak tahun 1980 mulai berjualan sate goreng, sebelumnya masih berjualan sate bakar seperti warung sate yang lainnya. Sedangkan keahlian memasak sate merupakan warisan turun temurun dari mBah Wongsoredjo yang merupakan kakek Pak Sutrisno.
http://kulineronline.net/2010/04/09/sate-goreng-ringin-kronggahan/
7. Sate Samirono, Jln Colombo 105/ 38, Samirono, Caturtunggal, telpon 0274 541288/ 541287
Sate Samirono lokasinya yang di dekat kampus UGM dan memiliki cita rasa sate samirono yang sudah melegenda. Menurut beberapa teman, sate kambing samirono merupakan sate terenak di Jogja.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/07/22/sate-samirono/
8. Sate Kambing Pak Karto, Pasar Tempel, Jl. Magelang Lumbungharjo Tempel 081328133606 dan Pasar Tempel Sleman.
Warung sate Pak Karto ada dua tempat, satu di pasar tempel, satu lagi di tepi jalan Jogja Magelang km 18.Citarasa tongseng Pak Karto cukup terkenal di seputaran Turi – Tempel, dan merupakan salah satu menu favoritku kalau mudik ke Jogja. Rasa tongseng Pak Karto paling enak untuk se Jogja, kalau sate tetap sate Samirono.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/01/menikmati-sate-kambing-pak-karto-pasar-tempel-sleman/
9. Soto Sulung Pak Malik Stasiun Tugu Yogya, Soto Sulung Pertama di Jogja kompleks Parkir Stasiun Tugu bagian Selatan
Perintis Soto Sulung Stasiun Tugu adalah Pak Malik sejak tahun 1968. Dan sejak bulan Agustus 1970, mereka resmi berjualan soto di kompleks Stasiun Tugu sampai sekarang. Saya sudah cukup lama menjadi pelanggan soto sulung ini, yang rasa sotonya paling nyamleng selama ini menurut saya.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/01/menikmati-soto-sulung-stasiun-tugu-yogya/
10. Gudeg Bu Hj Amad, Utara Gedung Pusat UGM (Utara Selokan Mataram) Karangasem CT II/ 05, Yogyakarta, Telpon 0274-520049
Gudeg mBarek dirintis oleh Bu Amad pada tahun 1950-an, di sebelah Utara Geografi UGM. Dan sejak tahun 1998 menempati tempat yang sekarang, sebuah rumah megah berlantai dua yang cukup apik, bersih dan tertata rapi, di mBarek sebelah utara Selokan Mataram.
11. Gudeg Yogya Yu Djum, Jln Wijilan no 31, Yogyakarta
Gudeg Yu Djum terletak di jalan Wijilan no 31. Gudeg Yu Djum ini berdiri pada tahun 1946, beberapa tahun setelah Gudeg Bu Slamet [gudeg pertama di Wijilan, 1942]. Waktu pertama kali berdiri, warung gudeg ini bernama Warung Gudeg Ibu Djuwariah.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/07/23/gudeg-yogya-yu-djum/
12. Gudeg Permata Bu Pujo, Jln Gadjah Mada, barat Bioskop Permata, Yogyakarta
Warung ini buka setiap hari kecuali hari minggu, sejak jam 21.00-01.00. Jenis makanan yang tersedia gudeg basah dengan rasa gurih, tidak terlalu manis. Sambal kreceknya pedas. Ayamnya boleh memilih a.l kepala, sayap, gendhing, paha, ati ampela dan telur. Minumnya teh dan jeruk, panas dan es.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/04/03/lesehan-di-gudeg-permata-bu-pujo/
13. Bebek Goreng Cak Koting, Warung Makan Cak Koting Bu Meti Jl. Dr. Sutomo “Depan Bioskop Mataram Yogyakarta, Telp : 0274.566.773
Cak Koting adalah satu satu ikon kuliner di Jogja dengan menu special bebek, ada bebek goreng dan bebek bakar. Menu lain yang tersedia antara lain burung dara goreng, lele goreng, sayur lombok hijau dan tahu/tempe penyet.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/01/menikmati-bebek-goreng-cak-koting/
14. Bakmi mBah Mo, Dusun Code, Bantul, Telpon 0274-7486989 HP 081548557743
Bakmi mBah Mo dirintis oleh Atmo Wiyono sejak tahun 1986, mulai ramai tahun 1990, bertahap. Bu Mujiyah meneruskan usahanya setelah mBah Mo meninggal. Bakmi mBah Mo tidak membuka cabang di kota lain.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/05/26/ngantri-40-demi-sepiring-bakmi-goreng-mbah-mo/
15. Bakmi Kadin, Jln Bintaran Kulon 3-6, Belakang Kantor Kadinda DIY, Jogja Telpon 0274-373396
Bakmi Kadin, merupakan salah satu legenda kuliner di Jogja. Warung Bakmi ini didirikan oleh Haji Karto pada tahun 1947 dan saat ini diteruskan oleh anaknya Rohadi. Nama kadin dipakai karena lokasi warung bakmi ini di jln Bintaran Kulon 3-6 persis terletak di belakang kantor Kadin DIY.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/07/22/bakmi-kadin/
16. Bakmi Jawa Pak Geno, Jl. Parangtritis, Pasar Prawirotaman, Yogyakarta Handphone : 081328576550
Bakmi Geno adalah salah satu legenda bakmi jawa di Jogja, mulai berjualan pada tahun 1952 dan sejak September 1988 digantikan oleh anak tertuanya Pak Harjo Geno karena Pak Geno meninggal dunia. Salah satu pelanggan Pak Geno adalah Pak Harto, presiden RI yang kedua.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/09/29/napak-tilas-pak-harto-di-bakmi-geno/
17. Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan, Warung Bakmi Pak Rebo, Jalan Brigjen Katamso 167, selatan SD Kintelan, Yogyakarta telpon 0274-417442
Bakmi Pak Rebo dirintis oleh Pak Rebo pada tahun 1945 dan berjualan di depan SD Kintelan. Pak Rebo merupakan kakak ipar dari Pak Atmo Wiyono perintis bakmi mBah Mo. Sejak beliau meninggal usahanya diteruskan istrinya. Istri Pak Rebo dibantu dengan beberapa orang kerabatnya kemudian memindahkan tempat jualannya di tempat permanen di selatan SD Kintelan sampai saat ini.
http://kulineronline.net/2010/03/04/menikmati-bakmi-jawa-pak-rebo-kintelan/
18. Bakmi Jawa mBah Hadi Terban, Utara Pom Bensin Terban (Ex Terminal Terban), Jln C Simanjuntak, Terban, Yogyakarta, Telpon 08122737778 / 08122721670
Bakmi di sini dimasak satu persatu menggunakan anglo berbahan bakar arang. Penggunaan anglo dan cara memasak satu persatu ini diyakini untuk menjaga citarasa bakmi Jawa, meskipun membuat calon pembeli mesti menunggu agak lama. Bakmi mbah Hadi mengoperasikan dua anglo yang masing-masing dioperasikan oleh 2 orang, satu orang khusus mengipasi anglo dan lainnya meracik bahan bakmi dan memasaknya.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/13/menikmati-bakmi-jawa-mbah-hadi-terban/
19. Mangut Lele Bu Is Jetis, RM Mangut Lele Bu Is, Jln Imogiri Barat km 12, Bulus, Sumberagung, Jetis, Bantul. Telpon 087839175888
Warung mangut Bu Is mulai berjualan tahun 1979. Menu utama di warung ini ada mangut lele dan lele goreng yang disajikan bersama dengan urap/ trancam, sambal gongso dan sambal terasi. Urap/ trancamnya terdiri dari daun papaya, bayam, kecambah, ket imun dan daun puyang yang ditemani bumbu parutan kelapa dengan cabai dan gula jawa.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/13/mangut-lele-bu-is-jetis/
20. Mangut Welut di Pasar Godean, Seberang Gerbang Pasar Godean, Jln Godean Km 15 Yogyakarta
Warung mangut welut ini menyajikan mangut welut dengan bumbu mangut yang lebih pedas karena menggunakan laos. Sedangkan menu tambahan lainnya berupa gudeg, sayur daun singkong, sambal krecek, lele goring, lauk pauk baceman, telur, wader dan krupuk. Minumannya hanya menyediakan teh. Jam buka warung dari jam 6 sore sampai 10 malam.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/03/31/menikmati-mangut-welut-di-pasar-godean/
21. Brongkos Warung Ijo Bu Padmo – Pasar Tempel, bawah Jembatan Krasak , Tempel, Sleman.
Warung Ijo Bu Padmo, meskipun tempatnya nyempil di Pasar Tempel dan di bawah jembatan Krasak [sekitar 20 km dari Jogja arah Magelang, layak untuk dikunjungi karena citarasa brongkosnya yang nyamleng, harganya yang reasonable dan menmpunyai sejarah yang panjang dalam memanjakan lidah pecinta brongkos.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2009/04/02/brongkos-warung-ijo/
tomo
Lima Tempat Wisata Kuliner di Solo
03 Sep 2010 2 Komentar
in kuliner Tag:bebek Bio, Bebek Goreng, Bebek Goreng H Slamet, Bestik Harjo, Dawet Bu Watik, Dawet Selasih, Galabo, Kartosuro, Kuliner Solo, Pasar Gede, Sate Bejo, Sega Liwet, solo, Timlo, Timlo Balong, Timlo Sastro
Buat Rekans yang akan mudik ke Solo,
Berikut ini 5 lokasi tempat wisata kuliner di Solo yang siap menguji kecerdasan lidah Anda. Rata-rata makanan Solo uenak dan harganya affordable.
1. RM Timlo Sastro, Jln Pasar Gede Timur 1-2, Balong, Solo telpon 0271654820
Timlo Balong dirintis pertama kali oleh Pak Sastro yang mulai berjualan pada tahun 1948 dengan menggelar dagangan di perempatan Pasar Gede. Dan sejak tahun 1958 pindah ke tempat yang sekarang di jln Pasar Gede Timur 1-2 Balong. Pada tahun 2002, timlo balong membuka satu- satunya cabang di jalan Dr Supomo Solo, dan sampai saat ini belum membuka cabang di kota lain karena khawatir rasanya akan berubah.
Selengkapnya ada di http://kulineronline.net/2010/01/13/nyamlengnya-timlo-sastro-balong-solo/
2. Gudeg Cakar Bu Kasno, Jln Wolter Monginsidi (depan GKJ Maryoyudan) Solo
Gudeg Bu Kasno atau juga dikenal gudeg Margoyudan terletak di jalan Wolter Monginsidi depan GKJ Margoyudan. Bu Kasmorejo (Bu Kasno) – 65 tahun- berjualan gudeg sejak tahun 1970 bersama dengan karyawan yang masih kerabatnya.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/12/sarapan-kepagian-di-gudeg-cakar-bu-kusno-margoyudan/
3. GALABO, sebelah timur bundaran Gladag, JL. Mayor Sunaryo depan Beteng Trade Center dan Pusat Grosir Solo.
Galabo merupakan singkatan dari Gladag Langen Bogan. Galabo diresmikan pada hari Minggu 13 April 2008, sebagai salah satu tempat wisata kuliner malam hari di kota Solo. Lokasi ini berada di sebelah timur bundaran Gladag, tepatnya di jalan Mayor Sunaryo di depan Pusat Grosir Solo dan Beteng Trade Center.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/12/menikmati-makan-malam-di-galabo-solo/
4. Dawet Selasih Bu Watik, Pasar Gede, Solo
Dawet Bu Watik, merupakan salah satu dawet selasih yang sudah lama berjualan di Pasar Gede. Bu Watik, meneruskan usaha ini dari Ibunya [mBah Mantri] sejak 15 tahun yang lalu. mBah Mantri meninggal 1 bulan yang lalu. Dalam sehari, dawet Bu Watik habis 50-60 mangkok perhari kalau sepi sekali, sedangkan kalau ramai bisa sampai 1000 mangkok. Salah satu Manten Presiden RI, Bu Mega pernah menikmati dawet ini ketika sedang berkampanye di Solo.
Selengkapnya silahkan baca di
http://kulineronline.net/2010/01/12/melepas-dahaga-dengan-dawet-selasih-bu-watik/
5. Warung Bebek Goreng H.Slamet Sedahromo Lor RT 01 RW 07, Kartasuro, Sukoharjo
Warung bebek goreng Pak Slamet terletak di Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro. Pak Slamet mulai berjualan bebek goreng pada tahun 1986 di pinggir jalan Solo-Jogja, dan sejak tahun 1992 pindah ke dalam kampung Sedahromo Lor karena terkena pelebaran jalan.
Selengkapnya silahkan baca di http://kulineronline.net/2010/01/12/nyamlengnya-bebek-goreng-h-slamet-kartosuro/
salam,
tomo
http://kulineronline.net
Peta Mudik dari PC Media
02 Sep 2010 6 Komentar
in tips Tag:bali, jakarta, jawa, mudik, peta, sumatera
Dalam edisi 10/2010 majalah PC Media tidak hanya mengeluarkan Antivirus PCMAV 4.0 Ragnarok 2 yang sakti, tetapi juga memberikan hadiah Peta Mudik gratis pada para pembacanya.
Bagi yang tertarik mengunduh dipersilahkan milih peta di bawah ini :
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (7 – Habis): Cikamurang
02 Sep 2010 1 Komentar
in lalu lintas, tips Tag:Cijelag, Cikamurang, mudik, Subang
Tulisan ini diperuntukan bagi para pemudik yang ragu untuk menjajal Pantura dan memilih jalur alternatif: Cikarang – Cikampek – Sadang – Subang – Cikamurang – Cijelag – Kadipaten – Cirebon.
Pada H-19 saya menyusuri jalur ini secara terbaik, yaitu dari Cirebon ke Cikarang. Photo-photo yang saya ambil akan mengarah ke arah Cikarang, sesuai posisi kendaraan yang saya tumpangi. Sisi kanan pada photo, akan menjadi sisi kiri bila kita mudik ke arah kampung halaman menggunakan jalur ini.
Tidak banyak hambatan pada infrasruktur jalan dari mulai Cikarang sampai Subang, begitu pula lepas dari Subang menuju Cikamurang, jalan yang tahun lalu hancur sepanjang 1 KM di kawasan Cinangsi (3 KM arah timur Kota Subang), sekarang sudah muluuuussss dibeton.
Sebenarnya rute ini cukup asyik ditempuh, terutama buat yang suka alam dan perkebunan, apalagi saat musim buah. Dari mulai Kalijati (10 KM arah barat kota Subang) kita sudah ketemu dengan perkebunan karet yang sekarang sedang ada proyek peremajaan pohon. Di pemukiman penduduk banyak terdapat pohon rambutan dan petai. Di sekitar kota Subang kita juga akan banyak ketemu dengan Nanas Subang dan Nanas si Madu yang dipanen dari perkebunan sekitar. Lepas dari Subang kita akan ketemu dengan perkebunan Coklat di sekitaran Cibogo. Beberapa KM dari situ kita akan ketemu perkebunan Kayu Jati di mana jalan yang kita lewati menjadi bekelok-kelok, kita juga ketemu dengan kantor perhutani dan penimbunan kayu gelondongannya. Di sekitaran Bantarwaru kita akan ketemu dengan perkebunan Eucalyptus alias Kayu Putih. Saya dengar produksi minyak kayu putih dari kebun di sekitar ini menghasilkan produk dengan kualitas terbaik. Salah satu merek terkenal dan terlama minyak kayu putih mengambil bahan nya dari kebun di sini.
Meninggalkan semua perkebunan itu, barulah tantangan dimulai, di wilayah Sanca, kita akan menikmati jalan yang baru selesai diperbaiki, sebuah jalan lurus sepanjang 10 KM dengan kontur yang sedikit naik turun, saat jalan ini masih berupa jalan Aspal mulus dan sepi, kita bisa melaju dengan kecepatan di atas 120 KM/jam dengan sensasi khusus karen jalannya sempit, diapit pepohonan, dan dengan kontur yang membuat serasa kita melaju jauh lebih cepat dan melayang. Catatan: sekarang tidak dianjurkan untuk melaju lebih dari 60 KM/ Jam, karena kondisi sudah ramai, beton jalan cenderung bergelombang, sambungan cor-coran yang tidak rata, apalagi kalau ketemu dengan jembatan sungai kecil, perbedaan ketinggian jalan sangat terasa, dan sering ada orang tua pengemis di beberapa jembatan yang mengulurkan topi meminta sedekah.
Hati – hati di beberapa pertigaan (setidaknya ada 3) yang menghubungkan Subang – Indramayu – Cijelag/Kadipaten, karena kita harus berbelok sementara lebar jalan cukup kecil dan biasanya jalan dibatasi dengan cone atau blokade kayu, yang membuat makin parah adalah adanya petugas Dishub yang mengambil pungutan pada kendaraan komersial yang lewat (sepertinya mereka yang memasang pembatas jalan).
Di sisi timur arah Cikamurang – Cikawung betonan belum selesai sehingga pelintas harus bergantian, penjaga partikelir siap membantu kelancaran lalu lintas lengkap dengan ember cash nya.
Dan mendekati Ujung Jaya, jalan malah hilang, semoga nanti saat musim mudik, jalan ini sudah mulai diperbaiki.
Sekitar 1 KM dari jalan yang rusaj ini, kita akan ketemu dengan jalan mulus yang baru diperbaiki. Di tahun-tahun yang lalu, jalan mulus ini adalah jaln yang selalu kasar aspal kerikilnya, dan yang membuat saya mengingat jalan ini adalah bahwa di sisi jalan berjajar berpuluh (ratus) pohon Asem besar, ukuran pohon bisa sebesar perut kerbau, saat musim berbuah banyak sekali buah Asem yang jatuh ke jalan. Sayang seribu sayang seiring perbaikan jalan, pohon Asem itu sebagian ditebang habis dan sebagian di pangkas disisakan setinggi 2 meter-an, mungkin untuk menjaga jajan supaya tetap mulus, menjaga supaya tetesan air hujan yang tersisa di daun asem tidak membuat jalan selalu kasar seperti sebelumnya, sebuah pengorbanan yang tidak kecil
Setelah mencapai pertigaan jalan antara Subang-Cirebon-Sumedang (photo diambil dari arah Cirebon), maka kita akan bertemu dengan jalan yang awalnya dibangun oleh Daendels (Herman Willem Daendels), jalan Bandung – Sumedang – Cirebon. Di jalan yang sudah sangat mature ini, kondisi jalan jauh lebih baik dari jalan sebelumnya sampai Subang.
Semoga semua pekerjaan pembetonan bisa segera selesai, sehingga jalur ini bisa menjadi jalur alternatif yang baik bagi pemudik yang lebih memilih melakukan perjalanan yang lebih santai, tidak banyak ketemu dengan bis dan truk besar, melewati jalan kecil yang berbelok dan berkontur ditambah pemandangan pepohonan dan perkebunan.
Selamat mudik selamat.
(Selesai)
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (6): Pantura – Marka Baru
02 Sep 2010 1 Komentar
in lalu lintas Tag:mudik, Pantura, Rambu
Ada yang baru saat kami melintas di H-20 dari Cikarang menuju Cirebon. Di jalur Pantura yang masuk ke wilayah kabupaten Subang, sebagian besar jalan sudah memilki median pembatas jalan, dan di atas median jalan ini, saya melihat marka yang baru saja di pasang, sepasang patok dengan 2 warna berbeda di masing-masing patok pada arah pandang yang berbeda dan dipasang dengan dua warna yang berbeda menghadap ke satu arah.
Ada ratusan pasang jumlah patok – patok rambu tersebut di tanam di atas median jalan. Coba kita perhatikan lebih dekat. Rupanya patok tersebut memiliki dua warna yang berbeda untuk sisi depan dan belakan, dan dihadapkan berbeda warna ke arah yang sama dengan warna Kuning di sisi kiri dan warna Merah di sisi kanan. Sepertinya patok ini diwarnai dengan material fluorescent yang akan menyala terang bila terkena cahaya langsung pada keadaan gelap.
Hal ini mungkin adalah sebuah langkah koreksi dari Dishub/Lantas/PU untuk menghindarkan pengguna jalan melanggar/menabrak median jalan saat keadaan gelap atau malah menyebrang ke lajur arah berlawanan, karena median jalan cukup rendah dan kurang terlihat. Selain itu adanya beberapa ruas jalan yang belum memiliki median jalan kadang bisa menyesatkan pengguna jalan apakah ruas yang sedang dilewati memiliki median atau tidak.
Sebuah langkah yang baik untuk memastikan pengendara melihat median jalan, mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan. Sebuah refleksi dari keseriusan dan perhatian jawatan yang bertanggung jawab pada infrastruktur jalan atas keutamaan keselamatan lalu lintas, terutama di musim mudik yang akan sangat ramai nanti.
Bravo!
(bersambung)
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (5): Rest Area Gubuk Kelapa Muda
02 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in kuliner, lalu lintas, Oleh-oleh, tips Tag:kuliner, mudik
Dalam cara pandang yang kasar dan sporadis, musim mudik, tak pelak telah selalu menggenjot transaksi mikro menjadi 100% lebih tinggi. Dana tambahan yang berputar tak lain datang dari THR yang rata-rata nilainya 1 bulan gaji bagi umumnya karyawan. Bagaimana dengan non – karyawan? tentunya juga menerima peningkatan omzet yang datang dari imbas THR itu tadi. Selain omzet yang naik dari bisnis yang sudah jalan, kadang justru usaha yang dijalankan benar-benar baru dan hanya untuk menyambut musim mudik ini.
Salah satunya adalah usaha gubuk istirahat pemudik dengan menyediakan minuman rehidrasi bagi para pemudik yang membutuhkan.
Istirahat adalah sangat penting untuk menjaga kondisi tetap prima, konsentrasi di perjalanan dan pada akhirnya akan mencegah kecelakaan. Bagi pemudik yang menggunakan kendaraan roda 2, istirahat secara berkala adalah vital, karena jarak dan waktu yang ditempuh tidaklah sama dengan kebiasaan perjalanan sehari-hari dari kantor ke rumah, karena tak jarang pemudik harus menempuh lebih dari 500 KM atau lebih dari 10 jam perjalanan yang menuntut konsentrasi dan kondisi prima. Maka ketersediaan Gubuk Istirahat menjadi penolong bagi mereka, selain tentunya menjadi rizki bagi pemiliknya.
Memasuki bulan suci Ramadhan, para pengusaha gubuk istirahat mulai membangun gubuknya. Mencari di lokasi yang strategis, biasanya di kawasan yang jarang rumah penduduknya, di pinggiran pesawahan atau kebun, yang menyediakan lahan yang cukup luas untuk parkir kendaraan, utamanya roda dua. Jumlah gubuk istirahat ini, dalam pengamatan saya bisa berjumlah ratusan, bahkan ribuan yang tersebar sepanjang jalur mudik.
Bila anda melewati kawasan Indramayu menuju Palimanan, maka dari mulai Lohbener (Celeng) sampai Kertasmaya, akan sering juga didapati gubuk penjual buah mangga dan ikan asin. Gubuk-gubuk ini memang bukan gubuk dadakan, mereka buka sepanjang tahun, terutama saat musim buah mangga datang.
Mangga yang dijajakan tidak lagi hanya mangga Indramayu (lokal: Cengkir), atau mangga Arumanis, namun sekarang dilengkapi dengan primadona baru varietas mangga budidaya yaitu mangga Gedong Ginchu.
Sayangnya, musim mudik kali ini, sepertinya kurang bertepatan dengan musim mangga, sehingga harga mangga masih belum bisa murah, dan para pemudik harus berpikir 2 kali bila mau membeli mangga dalam jumlah banyak untuk dibawa sebagai tambahan oleh-oleh untuk keluarga yang dituju.
Selamat mudik selamat.
(bersambung)
Kuliner Solo
31 Agu 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in kuliner Tag:kuliner, mudik, solo
Bernostalgia dengan aneka makanan khas Solo yang otentik
(dari milis kuliner Bangomania)
Rindu kampung halaman di Solo ketika Anda berada di Jakarta? Adalah satu keberuntungan Anda berada di kota yang punya seribu kuliner seperti Jakarta. Karena segala macam makanan mulai dari tradisional sampai mancanegara tumpah ruah di sini, termasuk makanan Solo yang otentik. Simak liputan yang berikut.
Ketika mendengan kata Surakarta mungkin Anda tak akan terlalu familiar dibanding dengan Solo. Ya, siapa yang tak kenal kota indah yang dialiri sungai Bengawan Solo ini. Awalnya, kota ini bernama Surakarta namun nama Sala atau Solo mulai populer di masyarakat sejak Belanda memberlakukan struktur pemerintahan dobel di Surakarta akibat perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti ini membuat pemerintahan Surakarta terpecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Daerah Kasunanan Surakarta inilah yang akhirnya berkembang menjadi kota Solo. Nama ini diambil dari nama desa tempat berdirinya Keraton Surakarta yaitu Desa Sala.
Hampir semua orang, pastinya mengidentikkan makanan Solo memiliki citarasa makanan yang cenderung manis. “Pada dasarnya, makanan khas Solo memiliki citarasa yang variatif, termasuk gurih. Namun, rasa manis lebih mendominasi,” ungkap William Wongso, pakar kuliner makanan Nusantara. Hanya saja, yang masih terlihat sangat dominan dan menjadi ciri khas makanan Solo adalah adanya penggunaan santan dan gula jawa, serta aneka bumbu lain seperti daun salam, dan serai. Banyaknya desa-desa di kota Solo membuat citarasa dan jenis makanan tradisional semakin variatif.
Akulturasi Budaya.
Variasi rasa masakan khas Solo rupanya juga dipengaruhi oleh sentuhan kuliner Belanda. Salah satu makanan khas Solo yang juga mendapatkan sentuhan kuliner Belanda adalah Bestik Solo. Bestik sendiri merupakan hasil pelafalan lidah pribumi dari bahasa Belanda Biefstuk yaitu masakan yang terbuat dari daging dan sayuran dengan saus sejenis steak. Bestik Jawa merupakan akulturasi masakan Eropa yang disesuaikan dengan lidah lokal. Hasil silang rasa itu telah turun-temurun dan disajikan sebagai menu yang kemudian diklaim sebagai masakan khas Solo.
Salah satu rumah makan yang menyajikan kenikmatan citarasa Bestik Solo adalahWarung Tenda Harjo Bestik di Solo. Menu yang menjadi unggulan di tempat ini adalah Bestik Lidah Sapi. Bestik ini terbuat dari lidah sapi yang dipotong kecil, dan direbus dengan menggunakan kaldu ayam selama 3-4 jam sampai matang. Ketika akan disajikan, Bestik Lidah ini pun disajikan dengan siraman saus yang mirip dengan Brown Sauce.
Jenis makanan lain yang juga menjadi makanan khas kota bengawan ini adalah Sop Timlo. Sop ini merupakan jenis sop berkuah bening dengan bumbu yang minimalis. Dan uniknya, ke dalam sop ini ditambahkan kecap manis sebagai ‘pewarna’ kuah sop. Beberapa orang mungkin lebih familiar dengan sebutan Kimlo, dan nyaris menyamakan kedua jenis Sop ini. Namun, ternyata kedua jenis sop ini berbeda, meski nyaris mirip. Perbedaan yang paling jelas terlihat pada salah satu bahan isian sop ini. Sop Timlo berisi jamur kuping, wortel, bunga sedap malam, soun, dan irisan sosis solo, dan Sop Kimlo tak berisi Sosis Solo tapi Kekian.
“Timlo adalah versi asli Sop khas Solo, sedangkan Kimlo sudah ada campuran aliran Chinese,” tambah William. Jika kebetulan bertandang ke Kota Solo, maka cobalah mampir ke Timlo Sastro di Pasar Gede. Semangkok Timlo Solo yang bening terasa sangat nikmat dengan aneka isian jamur dan wortel yang renyah. Harumnya bunga sedap malam, rupanya menebar aroma tersendiri dalam kuah Timlo ini sedikit berbeda dari Timlo lainnya karena tak menggunakan soun sebagai campurannya.
Populer di Jakarta.
Makanan Solo termasuk jenis makanan yang populer di Jakarta. Beragam makanan tradisional seperti Tengkleng, Tongseng, dan Nasi Liwet, pastinya sudah tak asing lagi di telinga masyarakat Jakarta. Rasanya yang gurih, dan unik membuat aneka menu makanan ini pas di lidah setiap orang.
Tengkleng adalah jenis makanan khas Solo yang tak hanya disukai warga Solo saja, tapi juga penduduk kota lainnya termasuk Jakarta. Tengkleng pada versi original Solo merupakan makanan yang tak bersantan, sedangkan Gule menggunakan campuran santan pada kuahnya. “Tengkleng yang asli Solo itu tak bersantan, yang bersantan itu Gule,” beber William.
Penjual Tengkleng yang paling populer di Solo adalah Tengkleng Bu Edi di Pasar Klewer. Tapi untuk bisa menyantap Tengkleng dan makanan lainnya seperti Soto Nggading, Serabi Notosuman, Nasi Liwet, Kimlo, Oseng-Oseng Mercon, Sosis Solo, Selat Solo, Gado-Gado Solo Anda tak harus jauh-jauh ke Solo. Hampir semua jenis makanan ini sudah bisa didapatkan di Jakarta. Nah, jika tertarik mencicip makanan Solo yang otentik simak beberapa rekomendasi tim Info Kuliner berikut ini ya…
(Ina)
Person quoted: William Wongso (pakar kuliner Nusantara)
* Daftar Rekomendasi Tempat Makan Khas Solo
* Jabodetabek
- Pawon Solo
Jl. Kemang Raya No. 75B, Jakarta Selatan
Telp. (021) 7179 0450
Menu Favorit: Salat Solo, Nasi Liwet, Wedang Tape
Harga: Rp 20 ribu-Rp 30 ribu
Buka: 10.00-20.00 WIB
- Waroeng Solo
Jl. Madrasah No. 14, Jeruk Purut, Jakarta Selatan
Telp. (021) 7884 3144
Menu Favorit: Nasi Liwet, Garang Asem, Ketan Juhur, Wedang Jahe
Harga: Rp 5 ribu-Rp 20 ribu
Buka: 09.00-22.00 WIB
- Dapur Solo
Jl. Danau Sunter Utara R 35, Jakarta Utara
Telp. (021) 640 5812 / 6530 2870
Menu Favorit: Nasi Langgi, Selat Solo, Kue Serabi
Harga: Rp 5 ribu-Rp 30 ribu
Buka: 09.00-22.00 WIB
- Tohjoyo Solo
Belakang Wisma Bakrie, Kuningan Jakarta Selatan
Telp. (021) 884 7102
Menu Favorit: Bebek Khas Solo, Sayur Asem, Ayam Goreng
Harga: Rp 5 ribu-Rp 20 ribu
Buka: 10.00-15.00 WIB
- Resto Solo Gallery dan Rumah Komik
Jl. Pajajaran Indah V, No. R-5, Bogor Jawa Barat (dekat dengan Bogor Medical Center)
Telp. (0251) 375151
Menu Favorit: Nasi Liwet Komplit, Nasi Gudeg Komplit, Selat Solo, Garang Asem
Harga: Rp 10 ribu-Rp 25 ribu
Buka: 10.00-21.00 WIB
- Angkringan Hik Solo Kasirun Solo
Jl. Dermaga Raya 322, Duren Sawit, Jakarta Timur
Hp. 0817 490 7066
Menu Favorit: Nasi Kucing, Ikan Bandeng, Sate Ati Ampela
Harga: Rp 2 ribu-Rp 5 ribu
Buka: 18.00-01.00 WIB
- Tongseng Pak Naryo
Jl. Raya Serpong Km 8, Tangerang
Telp. (021) 5396535
Menu Favorit: Tongseng Kambing, Gule Kambing, Nasi Goreng Kambing
Harga: Rp 12 ribu-Rp 16 ribu
Buka: 08.00-22.30 WIB
- Warung Pak Dadi Solo
Jl. TB. Simatupang, Pasar Rebo Jakarta Timur
Jl. Ciputat Raya Depan Pasar Gintung, Jakarta Selatan
Telp. (021) 8779 6919, 8778 2049, 749 5730
Menu Favorit: Sate Solo, Tongseng dan Tengkleng
Harga: Rp 8 ribu-Rp 12 ribu
Buka: 09.00-21.00 WIB
- Nasi Liwet Solo
Jl. Cendrawasih 7a (dekat perempatan Arteri Pondok Indah),
Telp. (021) 7230 8528
Menu Favorit: Nasi Liwet dan Selat Solo
Harga: Rp 8 ribu-Rp 15 ribu
Buka: 17.00-21.00 WIB
- Rm Bengawan Solo
Ruko Perum Permata Hijau
Telp. (021) 7027 7208
Menu Favorit: Ayam Bakar khas Solo
Harga: Rp 12 ribu
Buka: 10.00-22.00 WIB
- “Pondol”, Podok Es Cendol
Jl. Tanah Abang II No. 109 C-D, Jakarta Pusat
Jl. Muwardi 1/23 Grogol, Jakarta Barat
Telp. (021) 386 1382, 563 4358
Menu Favorit: Nasi Liwet, Gudeg, Selat Solo, Kupat Tahu
Harga: Rp 13 ribu-Rp 20 ribu
Buka: 09.00-21.00 WIB kecuali Minggu s/d 17.00 (Rabu Tutup)
- Rumah Makan Solo
Gading Food City Kelapa Gading, Jakarta Utara
Telp. 0817 788489
Menu Favorit: Gurame Bakar Madu, Tongseng Kambing
Harga: Rp 25 ribu-Rp 75 ribu
Buka: 15.00-24.00 WIB
- Warung Sate Solo “Sumber”
Jl. Ampera Raya (samping IIP)
Jl. Madrasah Raya (Samping Lampu Merah Sawo), Cilandak, Jaksel
Telp. (021) 7884 3832, Hp. 0813 8708 9953
Menu Favorit: Sate Kambing, Sate Ayam, Sop Gule, Tongseng, Nasi Goreng
Harga: Rp 11 ribu-Rp 18 ribu
Buka: 08.00-21.30 WIB
- Warung Anglo
Jl. Bulungan 26, Kebayoran Jakarta Selatan
Telp. (021) 7722 0891
Menu Favorit: Ayam Lombok Rawit dan Sambel Bledeg
Harga: Rp 10 ribu-Rp 55 ribu
Buka: 10.00-22.00 WIB
- RM Madukoro
Jl. Raya Pondok Gede no. 7 A, Halim Perdana Kusuma
Telp. (021) 800 6640, 801 6009
Menu Favorit: Ayam Goreng, Selat Solo, Sambel Krecek dan Sayur Asem
Harga: Rp 1,5 ribu-Rp 80 ribu
Buka: 10.00-21.00 WIB
- Resto 30 “Omah Solo”
Jl. TB. Simatupang
Telp. (021) 9811 3333
Menu Favorit: Oseng-Oseng Mercon, Tengkleng Solo dan Pecel Sego Abang
Harga: Rp 10 ribu-Rp 35 ribu
Buka: 10.00-21.00 WIB
- Sindoro Restoran
Jl. Tanah Abang II No. 13, Jakarta
Telp. (021) 384 9260
Menu Favorit: Bistik Jawa Uraban, Tempe Bacem dan Kering Ikan Kalapan
Harga: Rp 4 ribu-Rp 25 ribu
Buka: 09.00-15.00 WIB
- Pendopo Kemang
Jl. Kemang Selatan no.111
Telp. (021) 718 3731
Menu Favorit: Nasi Langgi, Nasi Gurih
Harga: Rp 5 ribu-Rp 60 ribu
Buka: 10.00-22.00 WIB
- Serabi Notosuman
Ruko Pasar Modern R 72 Pintu Timur BSD City, Tangerang
Telp. (021) 5315 8472
Menu Favorit: Serabi aneka topping
Harga: Rp 2,5 ribu
Buka: 10.00-22.00 WIB
* Solo
- Warung Pecel Ndeso Solo
Jl. Dr. Soepomo 55 Solo
Telp. (0271) 737379
Menu Favorit: Lontong Opor, Pecel Solo, Nasi Liwet
Harga: Rp 8 ribu-Rp 15 ribu
Buka: 07.00-16.00 WIB
- Timlo Sastro
Pasar Gede Timur no. 1 Solo
Telp. (0271) 654820, 736025
Menu Favorit: Nasi Timlo
Harga: Rp 8 ribu-Rp 15 ribu
Buka: 06.30-15.30 WIB
- Warung Makan Tenda Harjo Bestik
Jl. Dr. Radjiman Pasar Kembang
Telp. 0818 0454 4472
Menu Favorit: Bistik Lidah, Bestik Dadar Lidah, Bestik Daging
Harga: Rp 10 ribu-Rp 15 ribu
Buka: 18.00-00.30 WIB
- Nasi Liwet Yu Sani
Jl. Solo Baru, dekat pos polisi Bacem, sebelum pertigaan Solo Baru, Gading
Telp. 0817 441 618
Menu Favorit: Nasi Liwet
Harga: Rp 5 ribu-Rp 12 ribu
Buka: 17.00-23.00 WIB
- Sate Buntel Tambak Segaran
Jl. Sutan Syahrir No. 149, Solo
Telp. (0271) 702 5006, 0852 9341 8580
Menu Favorit: Sate Buntel
Harga: Rp 28 ribu
Buka: 12.00-22.00 WIB
- Tengkleng Bu Edi
Depan Pasar Klewer (dibawah Gapura Pasar Klewer)
Telp. (0271) 651 552
Menu Favorit: Tengkleng
Harga: Rp 15 ribu
Buka: 13.30-16.00 WIB
Info Kuliner – 13-26 Agustus 2010
Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare
4sq: http://foursquare.com/user/mediacare
Seputar Kuliner di Jogja
31 Agu 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in kuliner Tag:ayam, gudeg, jogja, kuliner, mie, sate, sehati, soto
Bagi yang berlebaran atau mudik di Jogja, berikut ini saya lampirkan 17 tempat wisata kuliner yang pernah saya kunjungi, untuk detil dari masing-masing warung makannya, bisa dibaca di masing-masing link.
1. Sega Geneng ,
2. Jejamuran Resto,
6. Soto Sulung Pak Malik Stasiun Tugu Yogya,
7. Gudeg Bu Hj Amad,
11. Bakmi mBah Mo,
12. Bakmi Kadin,
13. Bakmi Geno,
14. Bakmi Jawa Pak Rebo Kintelan,
16. Sate Goreng Ringin Kronggahan,
17. Bakmi Jawa mBah Hadi Terban,
Sumber :
kulineronline.net
~tomo~
+++
Warung Mie Sehati “EMIA” baru buka tanggal 12 September 2010.
+++
Contoh makanan berkolesterol yang menggoda.
sumber gambar disini
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (4): Pantura – Pasar Tumpah
30 Agu 2010 2 Komentar
in lalu lintas, tips
Kegiatan pasar tradisional di daerah biasanya sudah mulai aktif sejak Dinihari, sangat ramai pada pagi hari, dan mulai mencair ketika hari menjelang siang. Namun hati-hati dengan pasar sandang, mereka kadang ramai hingga menjelang sore bila tepat pada ‘hari pasar’ di tempat itu.
Sepanjang jalur mudik Cikampek – Cirebon, ada beberapa pasar yang rawan bikin macet, yaitu: Pasar Ciasem, Patrol, kemudian Tegalgubug (bila memilih jalur Palimanan) dan Pasar Karangampel juga Celancang (bila memilih jalur pesisir).
Selain kegiatan pasar, di Patrol, lalu lintas juga terhambat becak dan antrian kendaraan umum jenis ‘elf’ yang menunggu penumpang menuju Indramayu.
Di Patrol, sudah sering terjadi kecelakaan, hal ini bisa dimungkinkan karena sebelum titik ini dari arah Jakarta jalan begitu lebar dan mulus, kemudian pas di tepi barat pasar ini ada jembatan kecil yang membuat jalan agak meninggi sehingga kemungkinan pelintas yang sedang ngebut luput untuk memperhatikan kerumunan di jalanan yang hendak dilaluinya. Dalam keadaan macet, sepertinya titik ini malah lebih aman.
Selanjutnya pasar Tegalgubug, Cirebon. Pasar ini adalah pasar sandang yang sangat sibuk pada hari pasar. Hari pasar dari pasar ini ada 2 kali dalam 1 minggu, yaitu hari Selasa dan hari Sabtu. Setiap hari pasar, keramaian sudah dimulai sejak jam 22:00 malam sebelumnya, dan akan mulai mencair menjelang tengah hari.
Di hari pasar tersebut, dapat dipastikan lalu lintas akan macet sepanjang lebih dari 1 kilometer, Dishub setempat sudah siaga untuk selalu mengalihkan lalulintas berputar menembus jalan desa yang sempit untuk mengurangi kemacetan. Hal itu dilakukan setiap hari pasar, bukan hanya saat ramai pemudik melintas.
Pada hari pasar, maka pinggiran jalan akan penuh dengan bangku dan lapak pedagang K5, setengah badan jalan akan penuh dengan becak mengangkut berkarung-karung pakaian. Berhati-hatilah bila anda berencana melewati pasar ini pada hari Selasa atau Sabtu.
Di jalur pesisir, bila pemudik memilih jalur Indramayu – Karangampel – Cirebon, maka pasar Karangampel di Karangampel, Indramayu dan Pasar Celancang di Cirebon akan membuat lalulintas macet setiap pagi hari.
(bersambung)
Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (3): Pantura – Pos Amal Jariyah
30 Agu 2010 1 Komentar
in lalu lintas, tips
Seri yang ini juga bukan mengenai tips n trik di jalur pantura, namun tetap ada hubungan keselamatan dan kelancaran berkendara selama mudik melalui jalur pantura.
Seperti sudah saya informasikan sebelumnya, saya pernah melewati jalur Cikampek – Indramayu ini dengan menyetir sendiri kendaraan yang dibawa lebih dari 100 kali (kayak supir bis aja ya hehehe), dan dari sekian ratus kali saya lewat, hampir dipastikan ada pemandangan seperti di bawah ini bila kita lewat masih agak siang.
Coba perhatikan:
Yap betul, mereka menutup salah 1 dari 2 lajur yang tersedia di masing-masing arah. Tak jarang saya harus menginjak rem sekuat tenaga untuk memperlambat kendaraan yang sedang asyik melaju kencang dan tiba-tiba di depan sana kita ketemu dengan blokade seperti itu, dan kita harus segera berpindah ke lajur yang ‘dibolehkan’.
Hemat saya, ini sangat berbahaya, baik bagi kita pengendara, maupun mereka yang berdiri di tengah jalan.
Harapan saya, menjelang lebaran dan sesudahnya, Dishub dan Polri suah mau membersihkan jalur dari kehadiran mereka, sehingga bahaya rem mendadak, pindah lajur dan menabrak bisa dihilangkan.
Saya tidak tahu apakah kegiatan seperti ini di-sah-kan menurut peraturan lalu-lintas/ perhubungan? kemudian benarkah secara agama apa yang mereka lakukan? benarkah semua uang yang terkumpul disalurkan kepada proyek yang menjadi proposal mereka meminta pungutan kepada pelintas? saya tidak begitu paham.
Faktanya, pos amal sodakoh (tertulis demikian) pada photo kedua telah memulai aktipitasnya sejak awal tahun 2004 saat saya memulai perjalanan seminggu sekali antara Cikarang – Indramayu selama hampir 2 tahun. Kalau dihitung hingga saat ini, maka mereka sudah ada di situ setidaknya hampir (atau mungkin lebih dari) 7 tahun!
Untuk para pemudik yang melakukan perjalanan agak jauh dari hari H, ada kemungkinan jalur belum steril dari kehadiran pos seperti itu, maka berhati-hatilah bila misalnya sedang memacu kendaraan, siapa tahu beberapa puluh meter di depan lajur anda ditutup untuk dialihkan ke lajur penerimaan sumbangan.
(bersambung)























