Monumen Yogya Kembali


Ke Yogya?

Jangan lupa mampir ke Monjali alias Monumen Jogja kembali. Monumen/museum Jogja Kembali terletak di sebelah utara kota Yogyakarta, tepatnya di pinggir Ring Road utara, tepat di sebelah timur perempatan jalan Magelang dengan Ring Road utara.

Monumen yang indah ini ternyata memang sangat layak untuk dikunjungi, terutama mereka yang cinta akan Indonesia dan ingn mengharagai pahlawannya. Di museum ini serasa kita berhadapan langsung dengan peristiwa Yogya kembali beberapa puluh tahun silam.

Tidak hanya suara merdu yang menjelaskan suasana saat itu tetapi penampilan patung-patung yang sangat mirip aslinya membuat suasana makin terbentuk. Kita bisa melihat patung presiden Soekarno yang legendaris, Sudirman yang kharismatik maupun Sultan HB IX yang penuh wibawa meskipun wajahnya terlihat sangat muda.

Bagi penduduk kota Yogyakarta tentu lebih berkesan lagi, karena bisa melihat suasana stasiun tugu, hotel tugu di masa puluhan tahun lalu dalam bentuk yang sangat mirip Pemeliharaan ruangan oleh para “janitor” juga membuat kaca yang membatasi penonton dan ruangan patung seolah tanpa kaca pembatas.

Setelah puas menyaksikan beberapa ragkaian peristiwa di sekitar tahun 1949 itu, maka ada satu ruangan lagi yang perlu dilihat, itulah ruang sunyi, ruang untuk berdoa. Sayangnya ruang ini jadi kurang bermakna karena banyaknya pengunjung yang berbicara di ruangan itu. Gema yang terpantulkan oleh dinding ruangan membuat ruangan itu kelihatannya tidak akan pernah sunyi akan suara.

Di lantai 1, di bawah ruangan patung, kita dapat melihat secara langsung tandu yang sangat lengendaris, yang dipakai Sang Jenderal Besar Sudirman. Itulah tandu darurat yang sebenarnya adalah sebuah kursi rotan biasa yang diikat dengan beberapa kayu tambahan agar yang duduk di kursi itu dapat menikmati perjalanan tanpa terganggu cuaca panas dan jalan yang berbatu.

Bila hujan tiba, tentu Pak Dirman tetap akan kehujanan dan kita bisa membayangkan betapa patriotiknya para pejuang kita di jaman dulu. Sudirman memang fenomenal dan kharismanya tetap tidak luntur sampai saat ini.

Banyak sekali barang-barang tempoe doeloe yang ada di museum ini dan semuanya dipajang dengan komposisi dan posisi yang cukup nyaman untuk dilihat. Yang sudah lupa pada wujud senthir (lampu minyak) jaman dulu, bisa melihatnya di museum ini.

Cindera mata yang murah meriah juga ada di museum ini, sehingga sangat memadai untuk oleh-oleh teman-teman yang tidak bisa diajak ikut serta. Soal kualitas memang tidak bisa dibandingkan dengan barang yang bermerk, tetapi sebagai ujud cindera mata sudah cukup memadai.

Kuliner yang ada di museum ini juga beraneka ragam dan dikemas dengan model stand-stand mini di berbagai pojok ruangan, di pinggir kolam maupun yang di luar lokasi museum. Yang berada di sekitar museum hampir semuanya berupa makanan ringan sampai makanan semi berat. Di luar pagar museum barulah kita bis amenikmati makanan berat dengan berbagai macam seleranya.

Lebih ke timur sedikit ada resto besar yang mempunyai tempat parkir cukup luas, sehingga museum ini sangat cocok untuk mereka yang berasal dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Yang tidak nyaman duduk di bawah tenda dengan naungan pohon rindang, bisa memilih makan di resto besar di dekat museum. Bagi yang ingin berhemat bisa masuk ke tenda dan makan sepuasnya dengan biaya yang khas Yogya, murah meriah.

Permainan di museum ini dulu cukup lengkap, ada balon udara, ATF, dll, tapi saat ini kedua mainan ini sudah tidak terlihat di museum ini. Yang masih bisa dinikmati oleh para pengunjung adalah olah raga air (kapal kayuh), flying fox, sepeda tandem dan becak.

Pengunjung dipacu adrenalinnya dengan menaiki menara yang cukup tinggi sebelum dapat meluncur dengan santai melalui kolam dan pintu masuk museum.

Becak mini yang disewa 15.000 untuk dua kali putaran juga terlihat laris manis digemari para pengunjung. Tidak terlihat becak nganggur di lokasi parkirnya. Begitu selesai disewa, sudah ada penyewa lain yang antri untuk mencoba nikmatnya naik becak. Jadi ingat kaset Basiyo mBecak yang sangat fenomenal di tahun 70-an dulu.

Kalau ada kekurangan di museum ini, maka adalah panasnya lokasi saat matahari berada di atas kepala kita. Mungkin bisa dipikirkan tambahan shelter pelindung untuk mereka yang ingin menyaksikan keluarganya bermain becak, flying fox atau sekedar jajan makanan kecil.

2 Komentar (+add yours?)

  1. eko magelang
    Jan 27, 2011 @ 15:39:57

    salam kenal mas, wah..acara mudik jadi sangat berati ya mas…apalagi seperti kita yang sdh merantau jauh dari tanah kelahiran….hm..akan menjadi sangat berarti.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ekspedisi ALam Liar

...menjemput keindahan alam, blusukan ke pelosok desa

Ardian Kusuma

bike more eat more

Bersepeda itu indah

Memulai Bersepeda bersama dan sampai finish bersama

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Coretan Denina

Kezia and Stephan

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry, Samsung

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's Life Journal

Berbagi inspirasi dan hal-hal positif dalam hidup

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda