Jalan-jalan ke Singapura (1/4)


Diambil dari tulisan pak Ceppi di milis Cikarang baru. Dimuat disini karena banyak isinya yang bermanfaat untuk diketahui semua orang yang ingin berjalan-jalan ke Singapura atau ke luar negeri. Terima kasih sudah mengijinkan dimuat disini pak Ceppi.

Agak malu sih cerita yang beginian, tapi tak apalah. Daripada hanya ditulis di buku harian dan disimpan di lemari…

Pergi ke luar negeri bagi sebagian teman-teman yang bekerja di perusahaan PMA adalah sesuatu yang tidak asing. Apalagi anda yang di tempat kerjanya menyandang satu jabatan penting atau tugasnya di bagian tertentu, pergi ke luar negeri dengan seluruh biaya ditanggung perusahaan tempat kerja, untuk urusan dinas, training atau sekedar mengunjungi pameran pasti sudah sering. Teman-teman yang berpenghasilan lebih, yang mungkin di tempat kerjanya punya jabatan tinggi atau seorang pengusaha mapan, apalagi. Ke luar negeri untuk berlibur, meskipun tidak ada pihak lain yang membiayai, sudah menjadi hal biasa, tak jauh beda dengan orang kebanyakan pergi ke luar kota.

Nah, bagaimana kita yang tidak punya jabatan di perusahaan tempat kerja dan juga berpenghasilan pas-pasan, mau juga pergi ke luar negeri? Untuk berlibur bersama anak-anak atau sekedar ingin tahu bagaimana rasanya ke luar negeri dan melihat seperti apa di sana. Jawabannya ada dalam cerita saya ini.

Berangkat ke luar negeri atas keinginan sendiri dan tentunya seluruh biaya ditanggung sendiri juga tentu sangat berbeda dengan jika kita berangkat atas tugas dari perusahaan tempat kita bekerja. Kita harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Dengan modal yang tidak begitu banyak (yang dikumpulkan sekian lama), kita harus memilih semua hal yang dibutuhkan untuk kepergian tersebut yang murah, ekonomis, dan kalau perlu gratis. Tiket pesawat, penginapan, makan dan transportasi selama di sana serta untuk sedikit oleh-oleh…hehehe…cari yang paling murah!

Untuk saya dan istri, rencana pergi ke luar negeri lebih karena bermaksud mengajak anak-anak mengisi waktu liburan mereka, sekaligus memberikan pengalaman baru kepada mereka. Nilai pengalamannya tentu akan berbeda dibandingkan jika kami pergi ke tempat-tempat lain di dalam negeri, meskipun itu belum pernah mereka kunjungi.   

Ke luar negeri, ke mana?

Ke Singapura saja dulu. Selain karena paling dekat, juga saya dan istri sudah pernah ke sana sehingga tidak akan terlalu asing di sana. Karena dekat, biaya tranportasi PP ke Singapura tidak begitu mahal. Pula, negara tersebut memiliki objek-objek wisata yang menarik yang terpusat dalam satu kota karena memang luas wilayah negaranya kecil, di samping terkenal dengan pusat-pusat perbelanjaannya. (Tidak heran, jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana tiap tahunnya jauh lebih besar dibanding yang berkunjung ke Indonesia, yang jauh lebih luas wilayahnya. Ironisnya, negara penyumbang wisatawan ke sana terbanyak salah satunya adalah Indonesia… )

Negara kota yang jaraknya dari Jakarta lebih dekat daripada Medan ini memang amat layak dikunjungi oleh kita yang ingin tahu seperti apa negara maju, modern dan kaya. Sehingga, kita pun berharap anak-anak yang kita ajak bisa melihatnya, juga bisa membandingkannya dengan negara kita tercinta.

Dengan melihat dan membandingkan seperti itu…, mata mereka, termasuk Andra dan Sasha, dapat lebih terbuka dan wawasan mereka berkembang dengan mengamati langsung bagaimana bangsa Singapuramengelola negaranya. Mengapa negara Singapura bisa maju dan kaya, serta mengapa Indonesia belum bisa?

Dari situ, mudah-mudahan tumbuh kesadaran serta motivasi dalam diri anak-anak untuk punya keinginan membangun dan memperbaiki negara ini, supaya dapat menyusul ketertinggalan negara kita dari negara tetangga itu.

Sebelum berangkat, kami melakukan persiapan sebaik-baiknya agar rencana perjalanan berjalan lancar. Meskipun sudah beberapa kali ke sana sebelumnya, tetap menurut saya persiapan itu perlu dilakukan. Terutama yang menyangkut anggaran biaya, serta bagaimana memanfaatkan waktu sesuai rencana, total 4 hari 3 malam, bisa berkesan. Singapura kini tentunya telah banyak berubah, dibandingkan dengan terakhir saya ke sana.

Khususnya untuk menyesuaikan dengan budget, kami mempelajari pengalaman-pengalaman wisatawan backpacker yang berwisata ke Singapura, bagaimana berwisata seekonomis mungkin. Sumber infonya dari mana lagi kalau bukan dari internet. Dengan googling di internet kita bisa mendapatkan banyak petunjuk yang dapat membantu kita dalam berkunjung ke sana. Selain itu, kita juga dapat membaca-baca buku panduan berwisata ke Singapura, yang banyak dijual di toko buku sekelas Gramedia.  

Ada 3 hal penting yang kami siapkan sebelum berangkat, yaitu membuat paspor, mencari tiket pesawat, dan mem-booking tempat penginapan di sana. Untuk teman-teman yang biasa tahu beres, karena selalu diurus oleh pihak perusahaan tempat bekerja, prosedur ini tentunya harus dilakukan.

Membuat Paspor

Modal pertama untuk berangkat ke luar negeri dan memasuki negara lain adalah memiliki paspor. Kalau belum punya, tentu kita harus membuatnya terlebih dahulu, di kantor Imigrasi. Katanya, membuat paspor sekarang bisa di Kantor Imigrasi manapun, tidak tergantung tempat tinggal kita. Namun, untuk kita orang Cikarang ini, pilihan terbaik adalah di Kantor Imigrasi Karawang. Tidak terlalu jauh, dan juga jalan menuju ke sana tidak melalui jalur berlalu lintas macet.

Karena paspor saya sudah habis masa berlakunya, saya pun harus membuat baru. Apalagi istri, lebih lama lagi sudah kadaluwarsa. Jadinya, plus anak-anak, kami membuat 4 buah paspor. Dengan biaya sekitar 300 ribu per orang (berapa persisnya istri saya yang tahu), dan dengan menyisihkan sedikit waktu, kami mengurus sendiri tanpa harus menggunakan agen atau biro jasa. Yang penting lengkap persyaratan yang dibutuhkan, seperti KTP, KK, akte kelahiran atau ijazah terakhir. Bagi yang pernah memiliki paspor, paspor lama pun harus diserahkan. Untuk yang berstatus karyawan seperti saya, diminta juga surat rekomendasi/keterangan dari tempat bekerja sebagai kelengkapan bagi pembuatan paspor tersebut. Jadi itu harus disiapkan sebelumnya.

Tiga kali dibutuhkan kita untuk datang ke sana, yaitu kedatangan pertama untuk membeli formulir, mengisi data-data yang diperlukan dan menyerahkan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan. Kedatangan pertama kita bisa juga, berdasarkan informasi, diganti dengan pendaftaran online di situshttp://www.imigrasi.go.id. Kedatangan kedua adalah untuk pemotretan, pengambilan sidik jari dan pembubuhan tanda tangan. Kedatangan yang ketiga sekaligus terakhir adalah untuk mengambil paspor yang sudah jadi.

Kedatangan pertama dan ketiga, hanya istri saya yang berangkat ke Karawang diantar temannya. Sementara untuk kedatangan yang kedua, kami sekeluarga berempat pergi bersama-sama. Namanya juga mau dipotret dan diambil sidik jari, tentu tidak bisa diwakilkan.

Yang menjadi catatan saat kedatangan kedua, kami harus menunggu sampai hampir 3 jam untuk mendapatkan giliran dipanggil masuk ruang pemotretan. Kami datang terlalu pagi, jam 8 kurang sudah ada di sana dan kantor Imigrasi belum buka), sementara pemotretan dimulai dari jam 10.30. Itu pun, anehnya (tidak aneh sih), yang pertama kali masuk ke ruangan pemotretan adalah satu rombongan dengan diantar seseorang yang kami perkiraan agen (calo tepatnya). Padahal mereka datang setelah jam 9.30, jauh terlambat dibanding kami. Capeek deh kita yang sudah nunggu dari sejak kantor belum buka…! Untungnya setelah rombongan tersebut selesai, kamilah yang mendapatkan giliran masuk ke ruangan pemotretan sekaligus interview.

Ada yang sedikit membuat saya dan istri geli. Waktu menunggu, kami memperhatikan ada seorang bapak berpenampilan parlente bagaikan seorang pejabat dengan perut agak buncit keluar masuk ruang pemotretan. Kami pikir sebelumnya dia adalah seorang bos di kantor ini. Ternyata eh ternyata, saat kami berada di dalam ruangan, kami lihat bapak yang tadi adalah petugas yang memotret kami. Lho?…Instansi pemerintah gitu loh…Jadilah kami diambil foto oleh bapak berpenampilan necis tersebut. 

Proses pemotretan disambung dengan pengambilan sidik jari secara digital. Semua sidik jari discan dan direkam datanya. Setelah itu adalah interview. Saya yang duluan dipanggil, setelah itu Andra, Sasha, dan terakhir istri saya. Yang mewawancara kami, orangnya masih muda dan ganteng. Saya jadi teringat dengan Pak David milis Cikbar, agak mirip sih. (memangnya Pak David ganteng?…hehehe…)

Weew…masih muda begini sudah punya jabatan di kantor imigrasi ini…

Dalam wawancara oleh pejabat imigrasi tersebut, kami hanya ditanya tujuan membuat paspor. Ya, tinggal dijawab sesuai tujuan kita. Mau berlibur sekeluarga. Selesai.

Prosesnya paling sekitar 15 menit untuk kami semua. Jauh lebih singkat dibandingkan masa penantian kami yang dari pagi….

Tinggal menunggu beberapa hari paspor siap untuk diambil.

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ekspedisi ALam Liar

...menjemput keindahan alam, blusukan ke pelosok desa

Ardian Kusuma

bike more eat more

Bersepeda itu indah

Memulai Bersepeda bersama dan sampai finish bersama

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Coretan Denina

Kezia and Stephan

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry, Samsung

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's Life Journal

Berbagi inspirasi dan hal-hal positif dalam hidup

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda