Jalan-jalan ke Singapura (4/4)


Tiba di sana
Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ104 yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Changi Singapura, sekitar pukul 11.35 waktu setempat. Kami pun keluar pesawat lewat garbarata menuju bagian dalam gedung bandara internasional yang katanya merupakan salah satu terbaik di Asia ini. Terasa sekali bedanya, dengan bandara Soekarno Hatta, saat memasuki ruangan bandara. Suasananya yang lebih tenang, wajah bangunan dan interiornya yang lebih ceria, serta kesejukan udara AC-nya yang terasa lebih segar. Andra dan Sasha pun turut merasakannya, sambil mereka menengok kiri-kanan memperhatikan semua objek yang terlihat. “Nanti setelah kita naik MRT, lalu pergi ke tengah kota, kita akan melihat lebih banyak beda dengan di Jakarta,” ujar saya kepada mereka.  

 

Tidak ada hambatan sama sekali saat kami melewati pemeriksaan paspor oleh petugas imigrasi. Paspor kita distempel oleh petugas, dan kartu disembarkasi yang tadi kita isi sebelum terbang diambil separuh, sementara separuhnya lagi tetap diselipkan di dalam paspor kita. Di sini, kebanyakan petugasnya orang Melayu, jadi kalau pun kita ajak orangnya bicara bahasa Indonesia, tidak akan masalah. Dari counter imigrasi, kami berjalan ke arah tempat pengambilan bagasi, untuk mengambil koper dan tas kami.

 

Saat berjalan menuju pemeriksaan imigrasi, kami sempat mampir di toilet, dan sesaat di depan toilet saya dan istri pun sempat mengecek hape masing-masing, setelah dihidupkan kembali. BB istri saya langsung mencari jaringan, dan setelah dipilih provider M1, BBnya pun sudah aktif. Mudah2an bener tuh promosinya…tinggal dites BBM dan internetnya. Sementara jam hape pun secara otomatis mengikuti waktu lokal, yang satu jam lebih dulu dari pada Jakarta (jadi nggak ya rencana penyatuan wilayah waktu Indonesia?).

Android saya pun demikian, di-setting network manual, pilih M1, sinyal pun diperoleh. Tapi, apakah koneksi internetnya berfungsi? Saya belum sempat mencobanya. Namun ada sms yang masuk, yang isinya kira-kira “Selamat datang di area coverage XL Axiata bekerja sama dengan M1…anda bisa menggunakan roaming unlimited internet…”. Nah, kayaknya bisa tuh!

 

Dari bandara Changi ini, untuk menuju ke kota, ada beberapa pilihan transportasi: kereta MRT, taxi, maxicab (sejenis minibus untuk 6 orang penumpang), dan bis. Karena dari awal kami sudah berencana menggunakan MRT yang merupakan alat transportasi favorit sekaligus kebanggan warga Singapura, kami langsung mencari arah menuju stasiun MRT. Letak stasiun MRT ini adalah di Terminal 2, tempat kami berada sekarang, karena kebetulan penerbangan Sriwijaya Air menggunakan Terminal 2 untuk kedatangannya di Changi ini. Kami pun turun melalui elevator ke stasiun MRT, dengan tanpa kesulitan mencari-cari karena petunjuk-petunjuk arah di sana amat jelas.

Jika kita tiba di Changi pesawatnya menggunakan Terminal 1, kita perlu terlebih dahulu berpindah dengan menggunakan SkyTrain (kereta monorail khusus bandara) menuju Terminal 2. Gratis kok keretanya, dan tidak ada masinisnya…:)

 

Di Stasiun MRT, sesuai dengan kami baca dari pengalaman orang-orang lain, kami terlebih dahulu membeli tiket terusan yang merupakan tiket khusus pendatang, yang disebut Singapore Tourist Pass (STP merupakan tiket terusan untuk MRT dan bis, penjelasannya baca di sini). Kami membeli yang 3 hari, dengan harga 30 dollar per tiket untuk satu orang. Harga tiketnya sendiri 20 dollar, sementara 10 dollarnya adalah deposit yang bisa kita ambil sesudahnya. Dengan STP ini, kita bisa menggunakan bis dan MRT sepuasnya, tanpa batasan. Jadi berapa kali pun kita naik dan ke tempat manapun, kita tidak akan dipungut lagi ongkos. Sangat memudahkan!

Selain dengan kartu STP, kita pun bisa membeli kartu EZ-LInk yang bisa diisi ulang. Bedanya dengan STP, EZ-Link penggunaannya tergantung nilai uang yang ada di dalamnya (saldo), yang akan berkurang senilai ongkos yang berlaku dari satu tempat ke tempat lain. Harga kartunya adalah 12 dollar, dengan isi (saldo) senilai 7 dollar dan 5 dollarnya adalah harga kartunya. Kartunya sendiri bisa berlaku sampai 5 tahun. Kartu ini umumnya digunakan warga Singapura atau pendatang/wisatawan yang tinggal di sana cukup lama. Praktis, dan nilai uangnya sebanding dengan yang kita pakai, beda dengan STP yang dipakai atau tidak dipakai, nilainya akan hangus jika sudah lewat masa berlakunya. Hanya saja, unlimited-nya itu kelebihannya.

Jika kita tidak menggunakan kartu STP maupun EZ-Link, maka kita bisa membeli kartu tiket yang sekali pakai, di mesin-mesin tiket yang selalu ada di setiap stasiun. Harganya tergantung dari jarak tempuh perjalanan kita (sekitar 1 sampai 3 dollar), plus 1 dollar sebagai deposit yang bisa diuangkan kembali begitu kita tiba di stasiun tujuan.

 

Melewati pintu masuk stasiun, Andra dan Sasha awalnya merasa ragu-ragu menggunakan kartunya, saat men-“tap”kannya ke bagian tap area pintu otomatis yang bergambar kartu juga. Mereka khawatir pintunya tidak terbuka. Namun setelah memperhatikan orang-orang lain yang melintasi pintu dengan santainya, mentapkan kartunya sambil lalu, bahkan ada yang men-tap dompetnya karena kartunya tersimpan di dompet, mereka pun tidak ragu-ragu lagi untuk mencobanya. Begitu kedua sayap pintu keluar, baik Andra maupun Sasha segera bergegas melangkah melewatinya, seperti khawatir pintu akan kembali menutup. Saya dan istri melihat mereka sambil tersenyum-senyum, membiarkan mereka melewati pengalaman pertama mereka. Kayaknya, dulu juga saya seperti mereka…hehehe…

 

Kami naik MRT dari statiun Changi, meluncur menuju Orchard tempat apartemen kami (oh, ya, istri saya sudah menghubungi pemilik apartemen, dan orangnya sudah memberi tahu di lantai berapa dan nomor berapa apartemennya), dengan terlebih dahulu berpindah kereta dua kali di stasiun interchange Tanah Merah dan City Hall. Dua kali pindah, namun karena tidak perlu berjalan jauh hanya tinggal keluar dari kereta lalu berjalan ke jalur sebelahnya untuk menunggu kereta lain datang, dan stasiunnya pun sangat nyaman kondisinya, kita tidak akan merasa repot.

 

Tiba di stasiun Orchard, yang suasananya amat ramai dengan para penumpang maupun pebisnis atau pembelanja karena memang berada di pusat kota dan pusat bisnis, kami berjalan menuju ke luar stasiun bawah tanah tersebut ke arah Lucky Plaza. Lupa-lupa ingat, sempat mencari-cari jalan saat menuju ke sana.Singapura terlalu cepat berubah. Dari ruang utama stasiun, terdapat lorong bawah tanah menyeberang Orchard Road menuju Tang Plaza. Di Singapura memang banyak stasiun yang terintegrasi bangunan dan jalan-jalannya dengan gedung-gedung lain atau fasilitas publik. Di depan Tang Plaza, yang saat itu tengah direnovasi, kami keluar dari bawah tanah ke permukaan jalan. Dilanjutkan berjalan ke gedung sebelahnya, Lucky Plaza. 

 

Naik ke lantai 26 Lucky Tower, kami bertemu dengan perempuan Cina separuh baya, yang merupakan pengurus apartemen yang akan kami tempati. Sialnya, ternyata perempuan tersebut benar-benar Cina totok, yang tidak bisa berbahasa Inggris atau pun Melayu. Terpaksalah kami berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Tarzan. Yang bikin kami kesal, dari harga yang disepakati sebelumnya ternyata berubah naik. Hitungannya per orang menjadi sekitar 30 dollar. Alasan dia, apartemen yang kami booking sebelumnya ada di lantai 24, dan masih ditempati tamu lain sampai besok. Jadi dia menawarkan apartemen di lantai 26 itu dengan harga berbeda, karena kamarnya memiliki kamar mandi di dalam. Saya sempat komplain dengan menelpon kepada si Nyonya penyewa yang kami hubungi sejak masih di Indonesia, namun orangnya secara tidak simpatik kurang merespon komplain kami. Menurutnya, yang ada saat itu ya kamar itu dengan tarif segitu. Titik.

Kesal kami menghadapi kenyataan tersebut, kenapa dia menyatakan OK saat itu sementara kamarnya hari itu masih dipakai orang padahal kami jelas-jelas menyebutkan tanggal check-in kami.

 

Akhirnya dengan pertimbangan kami sudah membayar DP yang nilainya tidak sedikit, juga kami kami sudah malas untuk mencari tempat penginapan lain, karena butuh waktu dan juga harus pergi membawa-bawa barang yang cukup berat, kami pun dengan terpaksa menerima tarif yang dibayarkan. Harus dibayar penuh di muka lagi! Sh*t…

Sudahlah…daripada kesal dan ngedumel terus, lebih baik kita nikmati saja apa yang ada. Anak-anak pun sudah sangat ingin beristirahat. Kami pun masuk apartemen dan langsung menaruh barang-barang yang dari tadi membebani badan kami. Aaaah…nikmati mengaso setelah perjalanan cukup jauh!

 

Apartemennya sendiri memiliki ruang keluarga, dapur dan kamar mandi di dekat dapur. Perlengkapan yang ada: televisi di ruang keluarga, televisi di kamar, AC di ruang keluarga yang ternyata tidak bisa dinyalakan, kipas angin sebagai gantinya, microwave, kompor listrik, ketel pemanas air, mesin cuci dan tempat cuci piring. Di sinilah kita merasa di rumah sendiri, karena kita berhak menggunakannya sendiri, hanya sharing dengan penghuni kamar yang lain.

Jumlah kamarnya 2, dan kamar yang kami tempati memiliki kamar mandi di dalam. Entah kamar yang satunya, yang ditempati orang lain, karena saat itu tertutup. (Belakangan kami tahu bahwa penghuni kamar tersebut adalah orang Indonesia juga, Cina Medan, yang sedang check up kesehatan di Rumah Sakit Mt. Elizabeth yang terkenal itu)

 

Apartemen Lucky Tower berada di atas gedung Lucky Plaza, yang dari lantai basement hingga lantai 8 merupakan kompleks pertokoan. Katanya, di sini ada beberapa apartemen yang dimiliki oleh orang Indonesia, dan banyak yang disewakan. Kebetulan, apartemen yang kami tempati dimiliki oleh orang Singapura. Selain wisatawan, banyak juga penyewa apartemen di situ adalah orang-orang yang sedang berobat atau menunggu keluarganya yang dirawat di RS Mt. Elizabeth tadi. Lokasi rumah sakit tersebut memang sangat dekat, gedungnya bisa dilihat dengan jelas dari jendela kamar kami.

 

Selama di apartemen, kami menikmati seperti layaknya di rumah sendiri. Bisa memasak air untuk minum dan bekal saat jalan-jalan, memasak mie instan, hingga membuat kopi dan minuman lain. Adanya microwave cukup menyenangkan karena kami bisa memanaskan makanan yang kami beli di luar. Juga kita bisa mencuci pakaian sendiri, karena memang disediakan mesin cuci. Menyetrika juga bisa dilakukan, karena tersedia setrikanya.

Colokan listrik? Kami sempat salah kira. Kami pikir stop kontak yang tersedia di apartemen, sesuai dengan standar kelistrikan Singapura yang saya tahu berlubang tiga. Tapi ternyata, stop kontaknya persis sama dengan stop kontak di rumah-rumah kita di Indonesia, dengan dua lubang. Sehingga kita bisa menge-charge hape atau menyalakan alat elekronik lain, tanpa harus menggunakan adapter colokan.

 

Untuk memenuhi kebutuhan makan, di lantai basement Lucky Plaza tersedia foodcourt yang salah satu standnya khusus menyediakan makanan khas Indonesia. Menunya cukup beragam, ada nasi goreng, ada soto ayam, ayam bakar, daging dendeng, dan lain-lain hingga ke mie bakso. Hanya saja harganya paling murah 4 dollar. Cukup mahal buat ukuran kantong Indonesia. Di lantai 4 pun ada 2 toko makanan yang khusus menyediakan menu makanan Indonesia, salah satunya adalah Ayam Penyet Ria yang cukup terkenal di kalangan orang Indonesia di Singapura. Kalau mau murah, memang kita harus mencari hawker centre yang berada di sekitar pemukiman tempat tinggal warga, atau di daerah pinggiran Singapura. Tidak seperti di Orchard ini, yang merupakan pusat kota dan pusat bisnis.

Apartemen di Lantai 26…lumayan lah, kayak di rumah sendiri

Orchard Road…terlihat dari jendela apartemen tempat kami menginap

Ke Merlion Park

Sorenya kami pergi ke Merlion Park, tempat yang wajib dikunjungi oleh pelancong luar negeri, yang berada di Marina Bay.

Dengan menggunakan MRT, dari stasiun Orchard kami cukup menggunakan satu jalur ke stasiun Raffles Place. Di situ kami turun dan berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai menuju arah Marina Bay. Sepanjang jalan, kita disuguhi pemandangan sungai Singapura (Singapore River) yang cantik dan bersih dengan latar belakang gedung-gedung bersejarah dan juga gedung-gedung modern.

Pemerintah Singapura pintar sekali dalam menata wilayah sungai ini menjadi kawasan wisata yang indah dan penuh pesona.

Sasha di tepi Singapore River, sungai yang bersih tidak terlihat sampah sedikitpun mengapung di permukaannya

Berfoto di dekat anak-anak yang sedang terjun ke dalam sungai

Merlion Park, tanpa ke sini berarti tidak pernah ke Singapura 

Haus?…Minum air Merlion saja…:)

Merlion Park terletak di tepi Teluk Marina atau Marina Bay, di mana Singapore River bermuara. Dengan keberadaan patung Merlion, makhluk berbadan ikan berkepala singa yang menjadi kebanggaan sekaligus ikon negara Singapura, kawasan ini menjadi magnet kuat bagi para wisatawan dari berbagai negara untuk datang ke kawasan ini. Ditopang oleh kehadiran di sekitarnya gedung-gedung megah dengan bentuk yang amat modern serta berseni arsitektur tinggi, Marina Bay menjadi kawasan penuh pesona dan punya daya tarik tinggi. Di sini kita kudu mengambil foto kenang-kenangan sebagai bukti sudah berkunjung ke Singapura.

Dari platform di samping Merlion, jika kita melihat pemandangan sekeliling, terasa benar-benar menakjubkan. Gedung Esplanade, yang bentuknya seperti buah durian terbelah, lalu agak jauh  terlihat kincir raksasa Singapore Flyer, kemudian jembatan penghubung yang bagian atasnya melingkar-lingkar yang disebut Helix Bridge. Di depan kita meskipun jauh terdapat bangunan dengan bentuk seperti kelopak bunga yang sedang mekar, yang ternyata adalah Art Museum, dan menjulang tinggi di sebelahnya 3 buah gedung tinggi yang di atasnya tersambung oleh benda mirip perahu. Ya, itulah Marina Bay Sands, hotel dengan taman melayang di atas perahu tersebut. Hotel yang di dalamnya terdapat kasino, dan hotel yang bertarif termahal di dunia (salah satunya).

Di sekitar Marina Bay ini, salah satu jalannya yaitu Esplanade Street yang kami seberangi sewaktu hendak menuju ke Merlion, terletak sirkuit jalan raya di mana dilangsungkan setiap tahun lomba balap mobil paling bergengsi di dunia, GP F1. Istimewanya, balapannya diadakan di malam hari, dengan bantuan lampu-lampu berdaya ribuan watt menerangi jalanan sirkuit. Kalau saja kami ke sini di bulan September sekitar tanggal 20, pasti suasananya akan lain karena ajang lomba balap tersebut sedang berlangsung.

Kapal wisata…dengan latar belakang Singapore Flyer, Helix Bridge dan Art Museum

Suasana matahari yang sedang tenggelam di antara puncak-puncak gedung menambah keindahan pemandangan di sekitar kami. Senja yang eksotis di Marina Bay…

Cahaya merah keemasan di belakang kami perlahan memudar, terganti oleh warna-warni dan kerlap kerlip lampu yang dipancarkan gedung-gedung di sekitar Marina Bay. Antara satu gedung dengan gedung lainnya berharmoni menyusun komposisi warna-warni lampu yang sangat cantik dan memanjakan mata kita.

Membuat kita terlena, enggan untuk pergi dari lokasi. Bagi anda yang hobi fotografi, berfoto-foto di sini akan sungguh menyenangkan.

 

Pokoknya, kalau anda ke Singapura, sempatkanlah untuk berkunjung ke kawasan ini.  

Patung Merlion di malam hari…dengan latar belakang Gedung Marina Bay Sands

Pemandangan malam hari salah satu sudut kota Singapura di tepi Singapore River

(ternyata masih) Bersambung…

3 Komentar (+add yours?)

  1. wirien
    Jun 30, 2013 @ 06:52:54

    Kalo dr indonesia kan dikasih kartu embarkasi, klo menginapnya di apartemen, nulis apa ya di kartu embarkasi? Anak2 isi kartu embarkasi juga ga?
    Trus kalo misalnya nginap di hotel, apa klo mau kembali ke indonesia, petugas imigrasi mnta bukti menginap di hotel??
    Satu lg, pak, kalo misalnya kita blm tau mau nginap dmana (blm booking hotel/apartemen) goshow aja di singapura, isi kartu embarkasi dgn jwb pertanyaan petugas imigrasi gimana ya?

    Balas

    • Eko Sutrisno HP
      Jun 30, 2013 @ 11:02:49

      Salam @Wirien

      Kalo dr indonesia kan dikasih kartu embarkasi, klo menginapnya di apartemen, nulis apa ya di kartu embarkasi?
      >> tulis sesuai nama saja

      Anak2 isi kartu embarkasi juga ga?
      >> setahuku tidak

      Trus kalo misalnya nginap di hotel, apa klo mau kembali ke indonesia, petugas imigrasi mnta bukti menginap di hotel??
      >> biasanya tidak pernah

      Satu lg, pak, kalo misalnya kita blm tau mau nginap dmana (blm booking hotel/apartemen) goshow aja di singapura, isi kartu embarkasi dgn jwb pertanyaan petugas imigrasi gimana ya?
      >> kayaknya harus ditulis deh, tapi tidak akan dicek apakah beneran tinggal disitu

      Mungkin ada teman yang bisa bantu jawab yang lebih oke, silahkan

      salam sehati

      Balas

  2. ceppi
    Jul 01, 2013 @ 09:46:54

    Mas/Mbak @Wirien:
    Saya bantu Pak Eko menjawab pertanyaan anda.

    Sewaktu check-in di counter maskapai penerbangan, selain boarding pass kita akan pula diberikan kartu disembarkasi
    yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi Singapura. Sementara itu kartu embarkasi keluaran Kantor Imigrasi Indonesia, sejak tahun
    2012 sudah tidak diberikan lagi, sehingga kita hanya perlu mengisi kartu disembarkasi/kedatangan ke Singapura.

    Untuk pengisiannya, kita tulis saja alamat apartemen atau hotel yang akan menjadi tempat kita menginap. Kalau kita punya
    teman atau kenalan di Singapura sana, lebih bagus kalau kita pakai alamat tempat tinggalnya, termasuk kalau kita tidak
    belum tahu mau menginap di mana. Kalau tidak ada teman atau kenalan di sana, kita tuliskan saja ancer-ancer hotel yang
    akan kita pakai di sana.

    Pengalaman saya beberapa berkunjung ke negeri singa tersebut, tidak pernah sekalipun ditanyakan perihal alamat yang tertulis
    di kartu embarkasi tersebut. Tapi selama itu, saya selalu menuliskan alamat kenalan saya, meskipun saya tidak menginap di sana.

    Semoga membantu.

    Oh, ya. Anak-anak diberikan juga kartu disembarkasi ini, karena sekarang mereka kan pegang paspor sendiri (tidak seperti dulu
    waktu paspornya ikut orang tua). Tentu saja yang mengisinya kita.

    Salam,
    CP

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ekspedisi ALam Liar

...menjemput keindahan alam, blusukan ke pelosok desa

Ardian Kusuma

bike more eat more

Bersepeda itu indah

Memulai Bersepeda bersama dan sampai finish bersama

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Coretan Denina

Kezia and Stephan

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry, Samsung

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's Life Journal

Berbagi inspirasi dan hal-hal positif dalam hidup

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda