Jalan-jalan ke Singapura (3/4)


Merencanakan tempat-tempat yang akan dikunjungi

Supaya selama di sana jelas mau ke mana saja dan tidak menjadi acara luntang-lantung yang tidak jelas, bagaimana dan naik apa ke sananya serta berapa uang yang perlu kita siapkan karena sebagian tempat harus bayar, kita butuh merencanakan tempat-tempat yang akan kita kunjungi. Nah, rencana kami yang utama adalah mengunjungi Merlion Park di Marina Bay, di mana terdapat patung Merlion (makhluk berbadan ikan berkepala singa) yang menjadi ikon Singapura, Singapore Science Centre (SSC) atas permintaan Andra, Sentosa Island tempat wisata hiburan sejenis Ancol kalau di Jakarta, dan juga Andra punya keinginan untuk berkunjung ke KBRI Singapura, atau kalau tidak, salah satu museum di sana. Ke Bugis Junction juga untuk cuci mata dan sedikit belanja. Selebihnya…tergantung di sana alias kumaha engke…hehehe…

Ada satu objek wisata yang terhitung masih gres dan sangat bergengsi, yaitu Universal Studio Singapore (USS) di kawasan Sentosa Island. Namun mengingat tiket masuk per orangnya  cukup mahal (sekitar 66 dollar Singapura, atau sekitar 500 ribu rupiah), untuk kali ini kami belum berencana ke sana. Aduh, bisa nggak makan nanti selama di sana…hehehe…

Pada malamnya hari keberangkatan, kami melakukan pengemasan pakaian, barang-barang kecil yang diperlukan, makanan-makanan kecil termasuk mie instan, tempat minum, dan makanan oleh-oleh buat “saudara” kami di sana. Kamera? Tentu saja…karena ini mah barang yang amat wajib dibawa, untuk mengabadikan kenang-kenangan selama kami di sana. Tempat minum sangat perlu, karena berdasarkan cerita orang-orang, tempat minum itu sangat menghemat pengeluaran untuk minum selama jalan-jalan di sana. Nanti bisa diisi air minum di tempat kita menginap, atau di tempat-tempat tertentu di mana tersedia kran air minum gratis.

Kalau beli air minum di sana, satu botol bisa 1,5 sampai 2 dollar Singapura. Atau sekitar 10 ribu hingga 15 ribu. Wedeww…mahal banget ya, cuma buat minum air putih doang!

Bagaimana dengan fasilitas telekomunikasi selama di sana? Perlu disiapkan juga lho, buat menghubungi pemilik apartemen, menghubungi beberapat teman  di sana, lalu untuk selalu update keadaan di tanah air. Juga supaya tetap tersambung dengan keluarga maupun teman-teman, termasuk milis Cikarang Baru…J

Beruntunglah istri saya yang menggunakan kartu XL di BB-nya. Ternyata ada promo dari provider tersebut berupa BIS gratis selama tiga hari di sana. Jadi untuk internetan, BBM, facebook-an akan gratis selama di sana. Hanya saja, untuk menelpon dan sms, tarif yang dikenakan adalah 3500 rupiah per menit menelpon atau sekali SMS. SMS-nya kok mahal ya?

Saya yang menggunakan kartu Halo untuk android saya, harus siap-siap gigit jari. Telkomsel ternyata tidak banyak membantu. Ada program dari telkomsel untuk roaming data secara unlimited selama di sana, hanya saja tarifnya 100 ribu per hari. Muahal, Om!..Masak buat “always connected” selama di sana kita harus keluar 400 ribu rupiah?

Akhirnya istri saya membelikan kartu perdana XL untuk saya, yang memiliki fitur internet roaming data unlimited dengan biaya “hanya” 25 ribu rupiah per hari, dengan syarat jaringan harus di-setting ke operator setempat, M1, tidak ke yang lain. Lumayaan…XL memang sangat membantu!

Keberangkatan

Hari Sabtu pagi itu kami berangkat ke Bandara Soetta menggunakan Bis Damri dari depan Plaza JB. Beruntunglah kita warga Cikarang Baru yang dipermudah oleh keberadaan bis bandara ini, dan mudah-mudahan dipertahankan terus oleh pihak Jababeka dan Damri.

Dengan keberangkatan pesawat kami yang jam 9.00, sebenarnya ada dua waktu keberangkatan bis yang bisa dipilih, jam 4.00 atau jam 5.00 pagi. Kami memilih yang jam 4.00, dengan perhitungan kami akan tiba di bandara Soekarno Hatta sekitar jam 5.30. Terlalu pagi memang dan tentunya kami akan menunggu cukup lama hingga jam 9.00. Namun, jika kami menggunakan bis yang berangkat jam 5.00, bisa jadi kami tiba jam 7 atau lebih, karena sudah siang yang pastinya jalanan sudah penuh dengan kendaraan meskipun hari itu hari Sabtu. Kami tidak mau ambil resiko terlambat tiba di bandara dan terlambat pula untuk check-in.

Bis Damri yang berukuran 3/4 itu berangkat pukul pada pukul 4.01. Lumayan, cukup commit juga bis tersebut terhadap jadwal keberangkatannya. Perjalanan cukup lancar dengan kondisi jalan yang masih agak kosong, dan bis sempat keluar di pintu tol Grenwis entah untuk apa, apakah untuk menaikkan penumpang juga di sana padahal bis sudah penuh atau hanya sekedar untuk si sopir yang tanpa ditemani kondektur bisa berhenti meminta ongkos kepada para penumpang (sebenarnya kan bisa juga di rest area). Tiga puluh ribu rupiah per orang ongkosnya. Cukup murah daripada menggunakan taksi.

Sesuai perhitungan, bis Damri yang kami tumpangi tiba di Cengkareng Terminal 2E sekitar pukul 5.30. Waktu yang memang masih sangat lama untuk keberangkatan pesawat, namun itu lebih baik. Kita bisa ke toilet, sholat, sarapan, dan lain-lain terlebih dahulu, bahkan tidur lagi…hehehe…karena masih mengantuk!

Jam 6.30 kami check-in di counter Sriwijaya Air. Terasa sepi, hanya ada satu orang penumpang lain di luar kami yang terlihat check-in. Penumpang yang lain ke mana ya? Apa belum pada datang ya?

Koper-koper kami serahkan ke petugas untuk dimasukkan ke bagasi pesawat…masih banyak sisa jatahnya setelah ditimbang. Seperti saya utarakan sebelumnya, karena Sriwijaya Air ini bukan low cost airlines, jatah bagasi per penumpang tetap standar, 20 kg per orang.

Di counter ini, kita akan diminta juga membayar airport tax yang besarnya 150 ribu rupiah per orang. Di samping boarding pass yang kita terima, terdapat pula kartu disembarkasi dari imigrasi negara yang menjadi tujuan kita, yang harus kita isi datanya. Sementara kartu embarkasi dari imigrasi Indonesia, sudah tidak diberikan lagi. Pajak fiskal? Tidak lagi layauww…2,5 juta rupiah bagi bukan pemilik NPWP sungguh merupakan uang yang banyak. Beruntunglah sudah tidak berlaku lagi sejak awal tahun 2011.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, kami berjalan ke arah gate keberangkatan sesuai yang tertera pada boarding pass kami. Masih banyak waktu, sehingga kami masih sempat mampir dan melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko-toko sepanjang perjalanan menuju Gate yang dituju. Andra dan Sasha sesekali bercanda satu sama lain. Mereka terlihat sumringah sekaligus sedikit nervous karena kali itu adalah kali pertama mereka akan naik pesawat terbang sekaligus pergi ke negeri orang.

Satu catatan saya, saat menjelang masuk boarding gate, saat melewati pintu pemeriksaan terhadap barang bawaan kita. Semua minuman akan diminta atau paling tidak dikosongkan isinya. Barang-barang berupa cairan seperti obat gosok atau kosmetik, yang volumenya lebih dari 100 ml juga akan diminta (disita) petugas. Jadinya, sebelum tiba di pintu pemeriksaan, minuman air mineral yang dari tadi dibawa, kami habiskan dulu. Sayang…hehehe…

Barang-barang seperti gunting, juga tidak boleh dibawa masuk ke dalam pesawat. Beberapa waktu sebelumnya, saya pernah bicara kepada anak-anak, bahwa kalau membawa gunting tidak boleh ditaruh di tas yang dibawa ke kabin. Namun sayang, saat pemeriksaan, ternyata Sasha diketahui membawa gunting di dalam tas ranselnya. Dia memang membawa tempat pensil, dan di dalamnya selalu terdapat gunting. Jadilah gunting yang biasa dipakainya untuk keperluan sekolah diambil petugas. Dan ternyata, di dekat pintu pemeriksaan terdapat kotak kaca yang di dalamnya sudah banyak terisi gunting-gunting dan sebangsanya, sitaan dari penumpang. Waduh…ni nantinya barang-barang ini dikemanakan ya?…;)

Dek, lain kali kalau mau bawa gunting, guntingnya ditaro di koper yang masuk bagasi pesawat yakh!

Sementara, Andra yang dari tadi khawatir gunting kukunya diambil petugas, bisa bernapas lega karena gunting kukunya ternyata tidak ikut diambil. Mungkin tidak begitu terlihat di layar kamera sinar X petugas. Atau memang diperbolehkan ya?

Setelah memasuki gate yang dituju, kami menunggu sekitar 1 jam di ruang tunggu. Di sini kami menyadari bahwa penumpang pesawat Sriwijaya Air ini cukup banyak. Hingga akhirnya ada pengumuman untuk keluar ke arah pesawat. Kami pun berbaris ke arah pintu ke luar. Namun, kami diarahkan bukan melalui garbarata (belalai) untuk kemudian langsung masuk pesawat, namun turun ke luar dan diminta untuk naik bis, menuju pesawat yang sudah menunggu di satu tempat. Ooo…pesawatnya tidak di dekat ruang tunggu tho…!

Menunggu keberangkatan pesawat

Kami pun naik menggunakan tangga pesawat, dan mencari tempat duduk sesuai nomor pada boarding pass. Andra duduk di dekat jendela, supaya dia bisa melihat ke luar, melihat seperti apa langit dari dalam pesawat dan seperti apa bumi serta laut dilihat dari udara. Sementara Sasha saya minta duduk di tepi gang (aisle), supaya tidak berdekatan dengan Andra. Habis, mereka suka berantem sih kalau deketan!

Beberapa saat, pesawat pun terbang. Welcome on board, Andra and Sasha!

Membaca doa perjalanan

Mengalami pertama kali terbang, anak-anak terlihat sangat menikmati perjalanan mereka. Apalagi saat pramugari yang langsing-langsing (saya belum pernah menjumpai pramugari yang gendut…hehehe…) membagikan makan untuk penumpang, Andra langsung girang. Sarapan di bandara tadi belum mengenyangkan perutnya.

Bersambung…

Iklan

Jalan-jalan ke Singapura (2/4)


Mencari tiket penerbangan
Modal kedua adalah tiket penerbangan. Awalnya kami mencari tiket dari penerbangan budget, dengan prioritas Air Asia yang paling populer. Harapannya kami bisa mendapatkan tiket yang paling murah untuk tanggal keberangkatan yang kami tentukan. Di internet, tinggal masuk ke situsnya, kita bisa mengetahui ketersediaan tiket untuk tanggal tertentu dan tarifnya. Cukup isikan tanggal berangkat, jenis tiket (satu arah atau pulang pergi), serta berapa orang pada menu yang tersedia, kita akan disajikan beberapa pilihan waktu penerbangan plus harga tiketnya. Catatan penting di sini adalah bahwa harga tiket baru merupakan harga dasarnya. Ada beberapa komponen biaya lain yang akan muncul saat kita memproses perhitungannya, setelah kita mengisikan beberapa opsi, misalnya akan atau tidak akan memanfaatkan bagasi, mau makan atau tidak, lalu memesan nomor tempat duduk atau tidak, yang akan menambah harga tiket yang kita pesan. Juga pajak ini itu yang sesudah ditotal semuanya menjadi harga tiket yang harus kita bayarkan.
Cukup mudah, namun tidak selalu tiket dari penerbangan budget atau disebut pula low cost carrier tersebut lebih murah daripada tiket dari maskapai penerbangan biasa. Kunci untuk mendapatkan tiket yang benar-benar murah adalah kita harus memesan jauh-jauh hari sebelum waktu keberangkatan dan juga musti rajin-rajin mengecek ketersediaannya. Bisa beruntung bisa juga tidak.
Air Asia, salah satu pilihan penerbangan budget yang tidak selalu murah (sumber gambar dari sini)
Selain Air Asia, terdapat pula penerbangan lain seperti Tiger Air (milik Singapura) dan Jetstar (milik Australia) yang cara-caranya serupa.
 
Untuk tanggal keberangkatan yang kami rencanakan, tiket yang harganya murah ada di waktu yang kurang pas. Berangkat malam dan pulangnya juga terlalu malam. Sementara untuk yang berangkatnya pagi dan pulangnya sore, harga tiket sudah tidak murah. Secara jadwal, kami memang susun keberangkatan di Sabtu pagi, berangkat sekitar jam 9.00 – 10.00 supaya tiba di Singapura masih siang. Berangkat bisa nyubuh dari Cikarang dan di sana kami check-in penginapan setelah jam 12.00 namun tidak terlalu sore. Masih banyak waktu yang bisa dimanfaatkan, juga tidak terlalu sayang membayar sewa penginapannya dibanding kalau tiba di sana malam.
Sementara kepulangan dari sana di Selasa siang, supaya tiba di Jakarta masih sore. Kalau terlalu malam, kami khawatir kesulitan mencari angkutan ke Cikarang.
Karena harga tiket untuk waktu yang kami inginkan tidak memuaskan (alias mahal untuk ukuran budget airliner), akhirnya kami mencari-cari alternatif lain. Sempat terpikir untuk menggunakan dua airline, pergi menggunakan Tiger dan pulangnya Air Asia. Oh, ya…di Changi bandara Singapura nantinya jika menggunakan penerbangan budget tersebut, kita akan turun dan naik pesawat di terminal khusus untuk penerbangan budget. Sesuai dengan yang kita bayar…hahaha…bayar murah terminalnya pun yang murah!
Setelah beberapa hari bahkan beberapa minggu memantau dan mencari-cari, diperolehlah tiket lewat Santafi, agen tiket yang berlokasi di Ruko Capitol. Penerbangan yang kami dapatkan bukan tipe budget melainkan yang biasa, yaitu keberangkatan menggunakan Sriwijaya Air sedangkan pulangnya memakai Batavia Air. Berapa harga tiketnya? Sekitar 900 rupiah PP total per orang. Cukup murahlah, dengan kita tetap mendapatkan jatah makan di pesawat dan bagasi 20 kg per orang sebagaimana layaknya penerbangan biasa. Mantab bukan?
Sriwijaya Air, salah satu pilihan penerbangan ke Singapura milik dalam negeri (sumber gambar dari sini)
Selain itu, waktunya pun pas sesuai dengan keinginan. Berangkat dari Bandara Soetta Sabtu pagi jam 9.00, dan pulang dari bandara Changi Selasa sore jam 15.30. Cuocokk!
Dua dari tiga modal utama sudah beres. Tinggal mencari penginapan yang cocok.
Mencari tempat menginap
Modal ketiga adalah mencari penginapan, di mana kita bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman.
Karena Singapura negara kaya sekaligus biaya hidup di sana termasuk yang tertinggi di Asia, tarif atau harga segala sesuatu mengikuti standar kehidupan di sana. Namun untungnya, perekonomian Singapura yang ditopang oleh sektor pariwisata ini menyediakan tempat penginapan yang berlimpah untuk para pengunjung negara tersebut dengan bermacam-macam tingkatan kelas dan tarif, mulai dari hotel dengan kamar-kamar supermewah bertarif per malam supermahal, hingga ke kamar-kamar penginapan yang bertarif relatif murah untuk ukuran di sana. Bahkan penginapan yang di sana disebut hostel, ada yang hanya menyediakan tempat tidur saja, yang artinya satu kamar diisi oleh beberapa pengunjung yang berbeda. Wah, kayak di mess tuh!…Pakai ranjang tingkat lagi…
Seperti halnya penerbangan, yang kita cari yang murah kalau tidak yang termurah, kami mencari penginapan yang murah pula, karena biaya ditanggung sendiri bukan dibayari perusahaan. Penginapan yang murah, ya tadi itu, hostel. Hostel sering diidentikkan dengan wisatawan backpacker, karena murah tarif sewanya namun tidak memberikan fasilitas banyak. Di beberapa wilayah Singapura bertebaran hostel dengan dengan fasilitas yang tidak jauh berbeda, dengan harga sewa per malam berkisar 10 hingga 50 dollar Singapura. Ada yang satu kamar buat satu orang, ada yang buat dua orang, bahkan satu kamar untuk berenam pun ada. Dengan pilihan kamar mandi di dalam, atau kamar mandi di luar. Bagi yang tidak terbiasa satu kamar dengan orang lain yang tidak kenal, tentu akan tidak nyaman menginap di hostel.
Ada hostel yang dekat dengan stasiun MRT ada pula yang jauh. Lokasi yang dekat dengan stasiun MRT menjadi nilai plus bagi sebuah hostel, karena pengunjung akan lebih mudah mengaksesnya. Selain itu, keberadaan tempat-tempat makan, food court atau hawker centre (istilah untuk sejenis pujasera di sana) di sekitar harus diperhitungkan pula, supaya kita tidak kesulitan mencari makan. Oh,ya…ada sebagian hostel murah yang berada di lokasi lampu merah Geylang, jadi kita harus hati-hati kalau membawa anak-anak.
Membooking hostel di Singapura bisa dilakukan secara online. Cukup kita ketikkan hostel Singapore di google, sederet link akan membantu kita untuk mendapatkan hostel yang kita cari. Umumnya dikelola oleh jaringan hostel di Singapura, bahkan ada yang jaringan hostel seluruh dunia. Contohnya adalah Hostelworld, TripAdvisor, Hostelbookers, dan Agoda. Kalau sudah memilih salah satu hostel, isikan tanggal berapa kita akan check-in dan check-out, lalu pilih tipe kamar, dan berapa kamar kita akan booking. Nanti akan keluar berapa biaya total yang harus kita bayar selama sekian hari tersebut. Jika kita proses terus, kita akan diminta untuk mengisi nomor kartu kredit untuk membayar DP-nya.
Kami tadinya mencari hostel juga, mendapatkan ada yang per malamnya hanya 13 dollar Singapore di daerah Aljunied. Lokasinya tidak jauh dari stasiun MRT dan juga di sekitarnya banyak pilihan tempat makan. Hanya saja, belakangan istri saya meminta agar kami menggunakan apartemen saja. Pertimbangannya adalah, lokasi berada di pusat kota, yang barang tentu ke tempat belanja maupun ke tempat makan dekat, tarifnya tidak jauh beda dengan hostel, dan secara privasi lebih bisa didapatkan, karena yang disewa adalah kamar, bukan tempat tidur seperti di hostel. Jumlah kamarnya pun, paling 2 hingga 4 kamar.
Apartemen yang disewa harian (saya kurang tahu resmi atau tidak penyewaannya, tapi sepertinya tidak resmi) ini, menjadi alternatif lain selain hostel, untuk penginapan murah. Ada beberapa apartemen di sekitar Orchard, daerah yang menjadi pusat wisata belanja Singapura, yang disewakan kepada para wisatawan. Salah satu yang terkenal adalah apartemen Lucky Tower, di atasnya Lucky Plaza, sebuah kompleks pertokoan di Orchard. Dan memang, berdasarkan info teman yang belum lama ke sana, kami menghubungi sebuah nomor telepon (ternyata ada juga iklannya di harian Kompas) yang menyewakan apartemen. Setelah beberapa kali berkomunikasi dengan penyewanya, lewat sms dan telepon langsung, akhirnya kami jadi deal untuk menyewa apartemen di Lucky Plaza. Sewa kamarnya relatif murah pula, jatuhnya per orang 25 dollar. Yakh tidak terlalu mahallah.

Lucky Plaza, pertokoan yang selalu ramai, yang di atasnya terdapat banyak kamar apartemen yang disewakan (sumber gambar dari sini)
DP yang harus dibayar sebesar harga sewa satu malam, dan kami transfer seminggu sebelum keberangkatan, lewat Western Union.
Kelar sudah menyiapkan modal ketiga.

Pesan tiket kereta api H-90


Tanpa terasa bulan puasa sudah muncul di depan mata kita. Artinya setelah puasa, maka akan ada kegiatan akbar yang membuat dunia transportasi sangat menggeliat bahkan cenderung meronta. Harga tiket akan melambung tinggi tak terkendali, bahkan kadang nyaris tidak masuk akal.

“Harganya tidak segini mas. Lihat saja pengumuman yang ada di TV, ada harga maksimalnya tuh, tidak begini caranya menaikkan harga tiket dengan semena-mena..”

“Mas, kalau mau beli tiket murah beli saja di TV, segala jurusan ada dan murah-murah”

Kalau sudah mendapat jawaban seperti itu, maka sang pembeli tiket pasti hanya bisa jengkel di dalam hati tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tiket semahal apapaun kadang terpaksa harus dibeli demi menunjang acara mudik ke kampung halaman yang telah lama ditinggalkan.

tiket mudik

Saat ini tiket kereta api sudah bisa dipesan H-90, sehingga kalau ingin aman dan nyaman bepergian, mulailah mengantri tiket dari sekarang. Sayangnya, tiket ke Jogja dari Jakarta untuk tanggal 16 Agustus 2012 sudah habis terjual. Aku masih untung dapat satu tiket BIMA dengan harga 550 ribu (540 ribu plus fee 10 ribu).

Perburuan terus berlanjut dan aku akhirnya dapat tiket pesawat ke Jakarta seharga 918 ribu. Aku yakin harga tiket ini akan segera melambung tinggi begitu permintaan pembelian tiket mulai naik. Bahkan untuk dua minggu dari sekarang tiket ke Jogja/Jakarta sudah menipis. Semua kursi “A” sudah habis terjual, yang ada hanya selain A (B,C dan D).

Bagi yang ingin merasakan naik kendaraan umum, lebih baik mulai sekarang sudah mencari jalur untuk mendapatkan tiket yang harganya terjangkau.

Selamat berburu tiket mulai sekarang atau mau antri menjelang hari H?

Salam sehati.

bandara

Mudik Bareng untuk Jabodetabek


Salam Ramadhan,

Bapak/Ibu,
Jika ada yang ingin mudik bareng tujuan Jateng dan Jatim menggunakan bus ac pada tanggal 7,8,9 September 2010 dapat menghubungi saya

SUSANTO di 081283997227 / 087886462266/02193671673

Wassalam
+++

Foto diambil dari sini
Penawaran diambil dari milis Cikarang baru, kiriman dari Yoke Susanto <yoke_susanto@yahoo.com

Explore Pati

...menjemput keindahan alam, blusukan ke pelosok desa

Cerita Vakansi

a family travel blog

Bersepeda itu indah

Memulai Bersepeda bersama dan sampai finish bersama

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Denina Boos's diary

Coretan Denina

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry, Samsung

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's Life Journal

Berbagi inspirasi dan hal-hal positif dalam hidup

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda