Ketep Pass


Kalau berniat mengunjungi Dieng dan Ketep, sebaiknya nginapnya di Magelang saja.

Blogger Goweser Jogja

“Akhirnya sampai juga kita ke KETEP PASS! Udaranya Sejuk Dingin menyegarkan banget, alhamdulillah…”

Ungkapan syukur itu terasa sangat tulus mengingat lika liku perjalanan ke Ketep Pass yang penuh dengan acara tersesat. Awalnya perjalanan ini dimulai dari semangat Touring memakai sepeda motor ke obyek wisata di Yogya yang bisa dijangkau dengan sepeda motor.

Sehari sebelumnya, kita sudah sukses berwisata ke Parang Tritis, Pantai yang penuh misteri di Yogyakarta selatan, Bantul. Hari ini kita ingin mengulangi perjalanan wisata dengan motor ini ke lokasi yang berbeda, kalau kemarin ke lokasi pantai, maka hari ini arah touringnya ke lokasi pegunungan.

Sayangnya, kita terlalu percaya diri dan tidak melihat dulu lokasi tepatnya tujuan wisata yang akan dituju. Di tengah jalan, baru kita buka peta menuju lokasi Ketep PASS yang ada di Ipad. Melihat arah yang ditunjukkan oleh Google Maps, maka rasanya jalan ke Ketep akan aman-aman saja. Apalagi ada info bahwa petunjuk arah ke…

Lihat pos aslinya 514 kata lagi

Iklan

Jadah Tempe Kaliurang


Mudik dan lewat Jogja? Mampir dulu ke Kaliurang untuk merasakan nikmatnya makan jadah tempe di cuaca yang dingin sejuk.

 

jadah tempe 2

Kupoto Dunia

Kalau ke Kaliurang tidak nyobain jadah tempe pasti terasa ada yang kurang. Dari rumah sampai ke warung ini sekitar 25 km, tetapi begitu cepat kita bisa sampai di sini kalau hati sedang berkeinginan.

Jangan lewatkan kesempatan untuk mencoba jadah tempe kaliurang bila sedang ke Jogjakarta. Tentu wisata lain banyak juga di Kaliurang selain wisata kuliner ini. Lava tour salah satu unggulan acara disini. Tour ini marak setelah kejadian luluh lantaknya desa di seputaran merapi karena letusan gunung Merapi.

Wedhus gembel yang indah difoto sebenarnya sangat dahsyat kekuatan menghancurkannya.

Lihat pos aslinya

Jalan-jalan ke Singapura (4/4)


Tiba di sana
Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ104 yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Changi Singapura, sekitar pukul 11.35 waktu setempat. Kami pun keluar pesawat lewat garbarata menuju bagian dalam gedung bandara internasional yang katanya merupakan salah satu terbaik di Asia ini. Terasa sekali bedanya, dengan bandara Soekarno Hatta, saat memasuki ruangan bandara. Suasananya yang lebih tenang, wajah bangunan dan interiornya yang lebih ceria, serta kesejukan udara AC-nya yang terasa lebih segar. Andra dan Sasha pun turut merasakannya, sambil mereka menengok kiri-kanan memperhatikan semua objek yang terlihat. “Nanti setelah kita naik MRT, lalu pergi ke tengah kota, kita akan melihat lebih banyak beda dengan di Jakarta,” ujar saya kepada mereka.  

 

Tidak ada hambatan sama sekali saat kami melewati pemeriksaan paspor oleh petugas imigrasi. Paspor kita distempel oleh petugas, dan kartu disembarkasi yang tadi kita isi sebelum terbang diambil separuh, sementara separuhnya lagi tetap diselipkan di dalam paspor kita. Di sini, kebanyakan petugasnya orang Melayu, jadi kalau pun kita ajak orangnya bicara bahasa Indonesia, tidak akan masalah. Dari counter imigrasi, kami berjalan ke arah tempat pengambilan bagasi, untuk mengambil koper dan tas kami.

 

Saat berjalan menuju pemeriksaan imigrasi, kami sempat mampir di toilet, dan sesaat di depan toilet saya dan istri pun sempat mengecek hape masing-masing, setelah dihidupkan kembali. BB istri saya langsung mencari jaringan, dan setelah dipilih provider M1, BBnya pun sudah aktif. Mudah2an bener tuh promosinya…tinggal dites BBM dan internetnya. Sementara jam hape pun secara otomatis mengikuti waktu lokal, yang satu jam lebih dulu dari pada Jakarta (jadi nggak ya rencana penyatuan wilayah waktu Indonesia?).

Android saya pun demikian, di-setting network manual, pilih M1, sinyal pun diperoleh. Tapi, apakah koneksi internetnya berfungsi? Saya belum sempat mencobanya. Namun ada sms yang masuk, yang isinya kira-kira “Selamat datang di area coverage XL Axiata bekerja sama dengan M1…anda bisa menggunakan roaming unlimited internet…”. Nah, kayaknya bisa tuh!

 

Dari bandara Changi ini, untuk menuju ke kota, ada beberapa pilihan transportasi: kereta MRT, taxi, maxicab (sejenis minibus untuk 6 orang penumpang), dan bis. Karena dari awal kami sudah berencana menggunakan MRT yang merupakan alat transportasi favorit sekaligus kebanggan warga Singapura, kami langsung mencari arah menuju stasiun MRT. Letak stasiun MRT ini adalah di Terminal 2, tempat kami berada sekarang, karena kebetulan penerbangan Sriwijaya Air menggunakan Terminal 2 untuk kedatangannya di Changi ini. Kami pun turun melalui elevator ke stasiun MRT, dengan tanpa kesulitan mencari-cari karena petunjuk-petunjuk arah di sana amat jelas.

Jika kita tiba di Changi pesawatnya menggunakan Terminal 1, kita perlu terlebih dahulu berpindah dengan menggunakan SkyTrain (kereta monorail khusus bandara) menuju Terminal 2. Gratis kok keretanya, dan tidak ada masinisnya…:)

 

Di Stasiun MRT, sesuai dengan kami baca dari pengalaman orang-orang lain, kami terlebih dahulu membeli tiket terusan yang merupakan tiket khusus pendatang, yang disebut Singapore Tourist Pass (STP merupakan tiket terusan untuk MRT dan bis, penjelasannya baca di sini). Kami membeli yang 3 hari, dengan harga 30 dollar per tiket untuk satu orang. Harga tiketnya sendiri 20 dollar, sementara 10 dollarnya adalah deposit yang bisa kita ambil sesudahnya. Dengan STP ini, kita bisa menggunakan bis dan MRT sepuasnya, tanpa batasan. Jadi berapa kali pun kita naik dan ke tempat manapun, kita tidak akan dipungut lagi ongkos. Sangat memudahkan!

Selain dengan kartu STP, kita pun bisa membeli kartu EZ-LInk yang bisa diisi ulang. Bedanya dengan STP, EZ-Link penggunaannya tergantung nilai uang yang ada di dalamnya (saldo), yang akan berkurang senilai ongkos yang berlaku dari satu tempat ke tempat lain. Harga kartunya adalah 12 dollar, dengan isi (saldo) senilai 7 dollar dan 5 dollarnya adalah harga kartunya. Kartunya sendiri bisa berlaku sampai 5 tahun. Kartu ini umumnya digunakan warga Singapura atau pendatang/wisatawan yang tinggal di sana cukup lama. Praktis, dan nilai uangnya sebanding dengan yang kita pakai, beda dengan STP yang dipakai atau tidak dipakai, nilainya akan hangus jika sudah lewat masa berlakunya. Hanya saja, unlimited-nya itu kelebihannya.

Jika kita tidak menggunakan kartu STP maupun EZ-Link, maka kita bisa membeli kartu tiket yang sekali pakai, di mesin-mesin tiket yang selalu ada di setiap stasiun. Harganya tergantung dari jarak tempuh perjalanan kita (sekitar 1 sampai 3 dollar), plus 1 dollar sebagai deposit yang bisa diuangkan kembali begitu kita tiba di stasiun tujuan.

 

Melewati pintu masuk stasiun, Andra dan Sasha awalnya merasa ragu-ragu menggunakan kartunya, saat men-“tap”kannya ke bagian tap area pintu otomatis yang bergambar kartu juga. Mereka khawatir pintunya tidak terbuka. Namun setelah memperhatikan orang-orang lain yang melintasi pintu dengan santainya, mentapkan kartunya sambil lalu, bahkan ada yang men-tap dompetnya karena kartunya tersimpan di dompet, mereka pun tidak ragu-ragu lagi untuk mencobanya. Begitu kedua sayap pintu keluar, baik Andra maupun Sasha segera bergegas melangkah melewatinya, seperti khawatir pintu akan kembali menutup. Saya dan istri melihat mereka sambil tersenyum-senyum, membiarkan mereka melewati pengalaman pertama mereka. Kayaknya, dulu juga saya seperti mereka…hehehe…

 

Kami naik MRT dari statiun Changi, meluncur menuju Orchard tempat apartemen kami (oh, ya, istri saya sudah menghubungi pemilik apartemen, dan orangnya sudah memberi tahu di lantai berapa dan nomor berapa apartemennya), dengan terlebih dahulu berpindah kereta dua kali di stasiun interchange Tanah Merah dan City Hall. Dua kali pindah, namun karena tidak perlu berjalan jauh hanya tinggal keluar dari kereta lalu berjalan ke jalur sebelahnya untuk menunggu kereta lain datang, dan stasiunnya pun sangat nyaman kondisinya, kita tidak akan merasa repot.

 

Tiba di stasiun Orchard, yang suasananya amat ramai dengan para penumpang maupun pebisnis atau pembelanja karena memang berada di pusat kota dan pusat bisnis, kami berjalan menuju ke luar stasiun bawah tanah tersebut ke arah Lucky Plaza. Lupa-lupa ingat, sempat mencari-cari jalan saat menuju ke sana.Singapura terlalu cepat berubah. Dari ruang utama stasiun, terdapat lorong bawah tanah menyeberang Orchard Road menuju Tang Plaza. Di Singapura memang banyak stasiun yang terintegrasi bangunan dan jalan-jalannya dengan gedung-gedung lain atau fasilitas publik. Di depan Tang Plaza, yang saat itu tengah direnovasi, kami keluar dari bawah tanah ke permukaan jalan. Dilanjutkan berjalan ke gedung sebelahnya, Lucky Plaza. 

 

Naik ke lantai 26 Lucky Tower, kami bertemu dengan perempuan Cina separuh baya, yang merupakan pengurus apartemen yang akan kami tempati. Sialnya, ternyata perempuan tersebut benar-benar Cina totok, yang tidak bisa berbahasa Inggris atau pun Melayu. Terpaksalah kami berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Tarzan. Yang bikin kami kesal, dari harga yang disepakati sebelumnya ternyata berubah naik. Hitungannya per orang menjadi sekitar 30 dollar. Alasan dia, apartemen yang kami booking sebelumnya ada di lantai 24, dan masih ditempati tamu lain sampai besok. Jadi dia menawarkan apartemen di lantai 26 itu dengan harga berbeda, karena kamarnya memiliki kamar mandi di dalam. Saya sempat komplain dengan menelpon kepada si Nyonya penyewa yang kami hubungi sejak masih di Indonesia, namun orangnya secara tidak simpatik kurang merespon komplain kami. Menurutnya, yang ada saat itu ya kamar itu dengan tarif segitu. Titik.

Kesal kami menghadapi kenyataan tersebut, kenapa dia menyatakan OK saat itu sementara kamarnya hari itu masih dipakai orang padahal kami jelas-jelas menyebutkan tanggal check-in kami.

 

Akhirnya dengan pertimbangan kami sudah membayar DP yang nilainya tidak sedikit, juga kami kami sudah malas untuk mencari tempat penginapan lain, karena butuh waktu dan juga harus pergi membawa-bawa barang yang cukup berat, kami pun dengan terpaksa menerima tarif yang dibayarkan. Harus dibayar penuh di muka lagi! Sh*t…

Sudahlah…daripada kesal dan ngedumel terus, lebih baik kita nikmati saja apa yang ada. Anak-anak pun sudah sangat ingin beristirahat. Kami pun masuk apartemen dan langsung menaruh barang-barang yang dari tadi membebani badan kami. Aaaah…nikmati mengaso setelah perjalanan cukup jauh!

 

Apartemennya sendiri memiliki ruang keluarga, dapur dan kamar mandi di dekat dapur. Perlengkapan yang ada: televisi di ruang keluarga, televisi di kamar, AC di ruang keluarga yang ternyata tidak bisa dinyalakan, kipas angin sebagai gantinya, microwave, kompor listrik, ketel pemanas air, mesin cuci dan tempat cuci piring. Di sinilah kita merasa di rumah sendiri, karena kita berhak menggunakannya sendiri, hanya sharing dengan penghuni kamar yang lain.

Jumlah kamarnya 2, dan kamar yang kami tempati memiliki kamar mandi di dalam. Entah kamar yang satunya, yang ditempati orang lain, karena saat itu tertutup. (Belakangan kami tahu bahwa penghuni kamar tersebut adalah orang Indonesia juga, Cina Medan, yang sedang check up kesehatan di Rumah Sakit Mt. Elizabeth yang terkenal itu)

 

Apartemen Lucky Tower berada di atas gedung Lucky Plaza, yang dari lantai basement hingga lantai 8 merupakan kompleks pertokoan. Katanya, di sini ada beberapa apartemen yang dimiliki oleh orang Indonesia, dan banyak yang disewakan. Kebetulan, apartemen yang kami tempati dimiliki oleh orang Singapura. Selain wisatawan, banyak juga penyewa apartemen di situ adalah orang-orang yang sedang berobat atau menunggu keluarganya yang dirawat di RS Mt. Elizabeth tadi. Lokasi rumah sakit tersebut memang sangat dekat, gedungnya bisa dilihat dengan jelas dari jendela kamar kami.

 

Selama di apartemen, kami menikmati seperti layaknya di rumah sendiri. Bisa memasak air untuk minum dan bekal saat jalan-jalan, memasak mie instan, hingga membuat kopi dan minuman lain. Adanya microwave cukup menyenangkan karena kami bisa memanaskan makanan yang kami beli di luar. Juga kita bisa mencuci pakaian sendiri, karena memang disediakan mesin cuci. Menyetrika juga bisa dilakukan, karena tersedia setrikanya.

Colokan listrik? Kami sempat salah kira. Kami pikir stop kontak yang tersedia di apartemen, sesuai dengan standar kelistrikan Singapura yang saya tahu berlubang tiga. Tapi ternyata, stop kontaknya persis sama dengan stop kontak di rumah-rumah kita di Indonesia, dengan dua lubang. Sehingga kita bisa menge-charge hape atau menyalakan alat elekronik lain, tanpa harus menggunakan adapter colokan.

 

Untuk memenuhi kebutuhan makan, di lantai basement Lucky Plaza tersedia foodcourt yang salah satu standnya khusus menyediakan makanan khas Indonesia. Menunya cukup beragam, ada nasi goreng, ada soto ayam, ayam bakar, daging dendeng, dan lain-lain hingga ke mie bakso. Hanya saja harganya paling murah 4 dollar. Cukup mahal buat ukuran kantong Indonesia. Di lantai 4 pun ada 2 toko makanan yang khusus menyediakan menu makanan Indonesia, salah satunya adalah Ayam Penyet Ria yang cukup terkenal di kalangan orang Indonesia di Singapura. Kalau mau murah, memang kita harus mencari hawker centre yang berada di sekitar pemukiman tempat tinggal warga, atau di daerah pinggiran Singapura. Tidak seperti di Orchard ini, yang merupakan pusat kota dan pusat bisnis.

Apartemen di Lantai 26…lumayan lah, kayak di rumah sendiri

Orchard Road…terlihat dari jendela apartemen tempat kami menginap

Ke Merlion Park

Sorenya kami pergi ke Merlion Park, tempat yang wajib dikunjungi oleh pelancong luar negeri, yang berada di Marina Bay.

Dengan menggunakan MRT, dari stasiun Orchard kami cukup menggunakan satu jalur ke stasiun Raffles Place. Di situ kami turun dan berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai menuju arah Marina Bay. Sepanjang jalan, kita disuguhi pemandangan sungai Singapura (Singapore River) yang cantik dan bersih dengan latar belakang gedung-gedung bersejarah dan juga gedung-gedung modern.

Pemerintah Singapura pintar sekali dalam menata wilayah sungai ini menjadi kawasan wisata yang indah dan penuh pesona.

Sasha di tepi Singapore River, sungai yang bersih tidak terlihat sampah sedikitpun mengapung di permukaannya

Berfoto di dekat anak-anak yang sedang terjun ke dalam sungai

Merlion Park, tanpa ke sini berarti tidak pernah ke Singapura 

Haus?…Minum air Merlion saja…:)

Merlion Park terletak di tepi Teluk Marina atau Marina Bay, di mana Singapore River bermuara. Dengan keberadaan patung Merlion, makhluk berbadan ikan berkepala singa yang menjadi kebanggaan sekaligus ikon negara Singapura, kawasan ini menjadi magnet kuat bagi para wisatawan dari berbagai negara untuk datang ke kawasan ini. Ditopang oleh kehadiran di sekitarnya gedung-gedung megah dengan bentuk yang amat modern serta berseni arsitektur tinggi, Marina Bay menjadi kawasan penuh pesona dan punya daya tarik tinggi. Di sini kita kudu mengambil foto kenang-kenangan sebagai bukti sudah berkunjung ke Singapura.

Dari platform di samping Merlion, jika kita melihat pemandangan sekeliling, terasa benar-benar menakjubkan. Gedung Esplanade, yang bentuknya seperti buah durian terbelah, lalu agak jauh  terlihat kincir raksasa Singapore Flyer, kemudian jembatan penghubung yang bagian atasnya melingkar-lingkar yang disebut Helix Bridge. Di depan kita meskipun jauh terdapat bangunan dengan bentuk seperti kelopak bunga yang sedang mekar, yang ternyata adalah Art Museum, dan menjulang tinggi di sebelahnya 3 buah gedung tinggi yang di atasnya tersambung oleh benda mirip perahu. Ya, itulah Marina Bay Sands, hotel dengan taman melayang di atas perahu tersebut. Hotel yang di dalamnya terdapat kasino, dan hotel yang bertarif termahal di dunia (salah satunya).

Di sekitar Marina Bay ini, salah satu jalannya yaitu Esplanade Street yang kami seberangi sewaktu hendak menuju ke Merlion, terletak sirkuit jalan raya di mana dilangsungkan setiap tahun lomba balap mobil paling bergengsi di dunia, GP F1. Istimewanya, balapannya diadakan di malam hari, dengan bantuan lampu-lampu berdaya ribuan watt menerangi jalanan sirkuit. Kalau saja kami ke sini di bulan September sekitar tanggal 20, pasti suasananya akan lain karena ajang lomba balap tersebut sedang berlangsung.

Kapal wisata…dengan latar belakang Singapore Flyer, Helix Bridge dan Art Museum

Suasana matahari yang sedang tenggelam di antara puncak-puncak gedung menambah keindahan pemandangan di sekitar kami. Senja yang eksotis di Marina Bay…

Cahaya merah keemasan di belakang kami perlahan memudar, terganti oleh warna-warni dan kerlap kerlip lampu yang dipancarkan gedung-gedung di sekitar Marina Bay. Antara satu gedung dengan gedung lainnya berharmoni menyusun komposisi warna-warni lampu yang sangat cantik dan memanjakan mata kita.

Membuat kita terlena, enggan untuk pergi dari lokasi. Bagi anda yang hobi fotografi, berfoto-foto di sini akan sungguh menyenangkan.

 

Pokoknya, kalau anda ke Singapura, sempatkanlah untuk berkunjung ke kawasan ini.  

Patung Merlion di malam hari…dengan latar belakang Gedung Marina Bay Sands

Pemandangan malam hari salah satu sudut kota Singapura di tepi Singapore River

(ternyata masih) Bersambung…

Jalan-jalan ke Singapura (3/4)


Merencanakan tempat-tempat yang akan dikunjungi

Supaya selama di sana jelas mau ke mana saja dan tidak menjadi acara luntang-lantung yang tidak jelas, bagaimana dan naik apa ke sananya serta berapa uang yang perlu kita siapkan karena sebagian tempat harus bayar, kita butuh merencanakan tempat-tempat yang akan kita kunjungi. Nah, rencana kami yang utama adalah mengunjungi Merlion Park di Marina Bay, di mana terdapat patung Merlion (makhluk berbadan ikan berkepala singa) yang menjadi ikon Singapura, Singapore Science Centre (SSC) atas permintaan Andra, Sentosa Island tempat wisata hiburan sejenis Ancol kalau di Jakarta, dan juga Andra punya keinginan untuk berkunjung ke KBRI Singapura, atau kalau tidak, salah satu museum di sana. Ke Bugis Junction juga untuk cuci mata dan sedikit belanja. Selebihnya…tergantung di sana alias kumaha engke…hehehe…

Ada satu objek wisata yang terhitung masih gres dan sangat bergengsi, yaitu Universal Studio Singapore (USS) di kawasan Sentosa Island. Namun mengingat tiket masuk per orangnya  cukup mahal (sekitar 66 dollar Singapura, atau sekitar 500 ribu rupiah), untuk kali ini kami belum berencana ke sana. Aduh, bisa nggak makan nanti selama di sana…hehehe…

Pada malamnya hari keberangkatan, kami melakukan pengemasan pakaian, barang-barang kecil yang diperlukan, makanan-makanan kecil termasuk mie instan, tempat minum, dan makanan oleh-oleh buat “saudara” kami di sana. Kamera? Tentu saja…karena ini mah barang yang amat wajib dibawa, untuk mengabadikan kenang-kenangan selama kami di sana. Tempat minum sangat perlu, karena berdasarkan cerita orang-orang, tempat minum itu sangat menghemat pengeluaran untuk minum selama jalan-jalan di sana. Nanti bisa diisi air minum di tempat kita menginap, atau di tempat-tempat tertentu di mana tersedia kran air minum gratis.

Kalau beli air minum di sana, satu botol bisa 1,5 sampai 2 dollar Singapura. Atau sekitar 10 ribu hingga 15 ribu. Wedeww…mahal banget ya, cuma buat minum air putih doang!

Bagaimana dengan fasilitas telekomunikasi selama di sana? Perlu disiapkan juga lho, buat menghubungi pemilik apartemen, menghubungi beberapat teman  di sana, lalu untuk selalu update keadaan di tanah air. Juga supaya tetap tersambung dengan keluarga maupun teman-teman, termasuk milis Cikarang Baru…J

Beruntunglah istri saya yang menggunakan kartu XL di BB-nya. Ternyata ada promo dari provider tersebut berupa BIS gratis selama tiga hari di sana. Jadi untuk internetan, BBM, facebook-an akan gratis selama di sana. Hanya saja, untuk menelpon dan sms, tarif yang dikenakan adalah 3500 rupiah per menit menelpon atau sekali SMS. SMS-nya kok mahal ya?

Saya yang menggunakan kartu Halo untuk android saya, harus siap-siap gigit jari. Telkomsel ternyata tidak banyak membantu. Ada program dari telkomsel untuk roaming data secara unlimited selama di sana, hanya saja tarifnya 100 ribu per hari. Muahal, Om!..Masak buat “always connected” selama di sana kita harus keluar 400 ribu rupiah?

Akhirnya istri saya membelikan kartu perdana XL untuk saya, yang memiliki fitur internet roaming data unlimited dengan biaya “hanya” 25 ribu rupiah per hari, dengan syarat jaringan harus di-setting ke operator setempat, M1, tidak ke yang lain. Lumayaan…XL memang sangat membantu!

Keberangkatan

Hari Sabtu pagi itu kami berangkat ke Bandara Soetta menggunakan Bis Damri dari depan Plaza JB. Beruntunglah kita warga Cikarang Baru yang dipermudah oleh keberadaan bis bandara ini, dan mudah-mudahan dipertahankan terus oleh pihak Jababeka dan Damri.

Dengan keberangkatan pesawat kami yang jam 9.00, sebenarnya ada dua waktu keberangkatan bis yang bisa dipilih, jam 4.00 atau jam 5.00 pagi. Kami memilih yang jam 4.00, dengan perhitungan kami akan tiba di bandara Soekarno Hatta sekitar jam 5.30. Terlalu pagi memang dan tentunya kami akan menunggu cukup lama hingga jam 9.00. Namun, jika kami menggunakan bis yang berangkat jam 5.00, bisa jadi kami tiba jam 7 atau lebih, karena sudah siang yang pastinya jalanan sudah penuh dengan kendaraan meskipun hari itu hari Sabtu. Kami tidak mau ambil resiko terlambat tiba di bandara dan terlambat pula untuk check-in.

Bis Damri yang berukuran 3/4 itu berangkat pukul pada pukul 4.01. Lumayan, cukup commit juga bis tersebut terhadap jadwal keberangkatannya. Perjalanan cukup lancar dengan kondisi jalan yang masih agak kosong, dan bis sempat keluar di pintu tol Grenwis entah untuk apa, apakah untuk menaikkan penumpang juga di sana padahal bis sudah penuh atau hanya sekedar untuk si sopir yang tanpa ditemani kondektur bisa berhenti meminta ongkos kepada para penumpang (sebenarnya kan bisa juga di rest area). Tiga puluh ribu rupiah per orang ongkosnya. Cukup murah daripada menggunakan taksi.

Sesuai perhitungan, bis Damri yang kami tumpangi tiba di Cengkareng Terminal 2E sekitar pukul 5.30. Waktu yang memang masih sangat lama untuk keberangkatan pesawat, namun itu lebih baik. Kita bisa ke toilet, sholat, sarapan, dan lain-lain terlebih dahulu, bahkan tidur lagi…hehehe…karena masih mengantuk!

Jam 6.30 kami check-in di counter Sriwijaya Air. Terasa sepi, hanya ada satu orang penumpang lain di luar kami yang terlihat check-in. Penumpang yang lain ke mana ya? Apa belum pada datang ya?

Koper-koper kami serahkan ke petugas untuk dimasukkan ke bagasi pesawat…masih banyak sisa jatahnya setelah ditimbang. Seperti saya utarakan sebelumnya, karena Sriwijaya Air ini bukan low cost airlines, jatah bagasi per penumpang tetap standar, 20 kg per orang.

Di counter ini, kita akan diminta juga membayar airport tax yang besarnya 150 ribu rupiah per orang. Di samping boarding pass yang kita terima, terdapat pula kartu disembarkasi dari imigrasi negara yang menjadi tujuan kita, yang harus kita isi datanya. Sementara kartu embarkasi dari imigrasi Indonesia, sudah tidak diberikan lagi. Pajak fiskal? Tidak lagi layauww…2,5 juta rupiah bagi bukan pemilik NPWP sungguh merupakan uang yang banyak. Beruntunglah sudah tidak berlaku lagi sejak awal tahun 2011.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi, kami berjalan ke arah gate keberangkatan sesuai yang tertera pada boarding pass kami. Masih banyak waktu, sehingga kami masih sempat mampir dan melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko-toko sepanjang perjalanan menuju Gate yang dituju. Andra dan Sasha sesekali bercanda satu sama lain. Mereka terlihat sumringah sekaligus sedikit nervous karena kali itu adalah kali pertama mereka akan naik pesawat terbang sekaligus pergi ke negeri orang.

Satu catatan saya, saat menjelang masuk boarding gate, saat melewati pintu pemeriksaan terhadap barang bawaan kita. Semua minuman akan diminta atau paling tidak dikosongkan isinya. Barang-barang berupa cairan seperti obat gosok atau kosmetik, yang volumenya lebih dari 100 ml juga akan diminta (disita) petugas. Jadinya, sebelum tiba di pintu pemeriksaan, minuman air mineral yang dari tadi dibawa, kami habiskan dulu. Sayang…hehehe…

Barang-barang seperti gunting, juga tidak boleh dibawa masuk ke dalam pesawat. Beberapa waktu sebelumnya, saya pernah bicara kepada anak-anak, bahwa kalau membawa gunting tidak boleh ditaruh di tas yang dibawa ke kabin. Namun sayang, saat pemeriksaan, ternyata Sasha diketahui membawa gunting di dalam tas ranselnya. Dia memang membawa tempat pensil, dan di dalamnya selalu terdapat gunting. Jadilah gunting yang biasa dipakainya untuk keperluan sekolah diambil petugas. Dan ternyata, di dekat pintu pemeriksaan terdapat kotak kaca yang di dalamnya sudah banyak terisi gunting-gunting dan sebangsanya, sitaan dari penumpang. Waduh…ni nantinya barang-barang ini dikemanakan ya?…;)

Dek, lain kali kalau mau bawa gunting, guntingnya ditaro di koper yang masuk bagasi pesawat yakh!

Sementara, Andra yang dari tadi khawatir gunting kukunya diambil petugas, bisa bernapas lega karena gunting kukunya ternyata tidak ikut diambil. Mungkin tidak begitu terlihat di layar kamera sinar X petugas. Atau memang diperbolehkan ya?

Setelah memasuki gate yang dituju, kami menunggu sekitar 1 jam di ruang tunggu. Di sini kami menyadari bahwa penumpang pesawat Sriwijaya Air ini cukup banyak. Hingga akhirnya ada pengumuman untuk keluar ke arah pesawat. Kami pun berbaris ke arah pintu ke luar. Namun, kami diarahkan bukan melalui garbarata (belalai) untuk kemudian langsung masuk pesawat, namun turun ke luar dan diminta untuk naik bis, menuju pesawat yang sudah menunggu di satu tempat. Ooo…pesawatnya tidak di dekat ruang tunggu tho…!

Menunggu keberangkatan pesawat

Kami pun naik menggunakan tangga pesawat, dan mencari tempat duduk sesuai nomor pada boarding pass. Andra duduk di dekat jendela, supaya dia bisa melihat ke luar, melihat seperti apa langit dari dalam pesawat dan seperti apa bumi serta laut dilihat dari udara. Sementara Sasha saya minta duduk di tepi gang (aisle), supaya tidak berdekatan dengan Andra. Habis, mereka suka berantem sih kalau deketan!

Beberapa saat, pesawat pun terbang. Welcome on board, Andra and Sasha!

Membaca doa perjalanan

Mengalami pertama kali terbang, anak-anak terlihat sangat menikmati perjalanan mereka. Apalagi saat pramugari yang langsing-langsing (saya belum pernah menjumpai pramugari yang gendut…hehehe…) membagikan makan untuk penumpang, Andra langsung girang. Sarapan di bandara tadi belum mengenyangkan perutnya.

Bersambung…

Jalan-jalan ke Singapura (2/4)


Mencari tiket penerbangan
Modal kedua adalah tiket penerbangan. Awalnya kami mencari tiket dari penerbangan budget, dengan prioritas Air Asia yang paling populer. Harapannya kami bisa mendapatkan tiket yang paling murah untuk tanggal keberangkatan yang kami tentukan. Di internet, tinggal masuk ke situsnya, kita bisa mengetahui ketersediaan tiket untuk tanggal tertentu dan tarifnya. Cukup isikan tanggal berangkat, jenis tiket (satu arah atau pulang pergi), serta berapa orang pada menu yang tersedia, kita akan disajikan beberapa pilihan waktu penerbangan plus harga tiketnya. Catatan penting di sini adalah bahwa harga tiket baru merupakan harga dasarnya. Ada beberapa komponen biaya lain yang akan muncul saat kita memproses perhitungannya, setelah kita mengisikan beberapa opsi, misalnya akan atau tidak akan memanfaatkan bagasi, mau makan atau tidak, lalu memesan nomor tempat duduk atau tidak, yang akan menambah harga tiket yang kita pesan. Juga pajak ini itu yang sesudah ditotal semuanya menjadi harga tiket yang harus kita bayarkan.
Cukup mudah, namun tidak selalu tiket dari penerbangan budget atau disebut pula low cost carrier tersebut lebih murah daripada tiket dari maskapai penerbangan biasa. Kunci untuk mendapatkan tiket yang benar-benar murah adalah kita harus memesan jauh-jauh hari sebelum waktu keberangkatan dan juga musti rajin-rajin mengecek ketersediaannya. Bisa beruntung bisa juga tidak.
Air Asia, salah satu pilihan penerbangan budget yang tidak selalu murah (sumber gambar dari sini)
Selain Air Asia, terdapat pula penerbangan lain seperti Tiger Air (milik Singapura) dan Jetstar (milik Australia) yang cara-caranya serupa.
 
Untuk tanggal keberangkatan yang kami rencanakan, tiket yang harganya murah ada di waktu yang kurang pas. Berangkat malam dan pulangnya juga terlalu malam. Sementara untuk yang berangkatnya pagi dan pulangnya sore, harga tiket sudah tidak murah. Secara jadwal, kami memang susun keberangkatan di Sabtu pagi, berangkat sekitar jam 9.00 – 10.00 supaya tiba di Singapura masih siang. Berangkat bisa nyubuh dari Cikarang dan di sana kami check-in penginapan setelah jam 12.00 namun tidak terlalu sore. Masih banyak waktu yang bisa dimanfaatkan, juga tidak terlalu sayang membayar sewa penginapannya dibanding kalau tiba di sana malam.
Sementara kepulangan dari sana di Selasa siang, supaya tiba di Jakarta masih sore. Kalau terlalu malam, kami khawatir kesulitan mencari angkutan ke Cikarang.
Karena harga tiket untuk waktu yang kami inginkan tidak memuaskan (alias mahal untuk ukuran budget airliner), akhirnya kami mencari-cari alternatif lain. Sempat terpikir untuk menggunakan dua airline, pergi menggunakan Tiger dan pulangnya Air Asia. Oh, ya…di Changi bandara Singapura nantinya jika menggunakan penerbangan budget tersebut, kita akan turun dan naik pesawat di terminal khusus untuk penerbangan budget. Sesuai dengan yang kita bayar…hahaha…bayar murah terminalnya pun yang murah!
Setelah beberapa hari bahkan beberapa minggu memantau dan mencari-cari, diperolehlah tiket lewat Santafi, agen tiket yang berlokasi di Ruko Capitol. Penerbangan yang kami dapatkan bukan tipe budget melainkan yang biasa, yaitu keberangkatan menggunakan Sriwijaya Air sedangkan pulangnya memakai Batavia Air. Berapa harga tiketnya? Sekitar 900 rupiah PP total per orang. Cukup murahlah, dengan kita tetap mendapatkan jatah makan di pesawat dan bagasi 20 kg per orang sebagaimana layaknya penerbangan biasa. Mantab bukan?
Sriwijaya Air, salah satu pilihan penerbangan ke Singapura milik dalam negeri (sumber gambar dari sini)
Selain itu, waktunya pun pas sesuai dengan keinginan. Berangkat dari Bandara Soetta Sabtu pagi jam 9.00, dan pulang dari bandara Changi Selasa sore jam 15.30. Cuocokk!
Dua dari tiga modal utama sudah beres. Tinggal mencari penginapan yang cocok.
Mencari tempat menginap
Modal ketiga adalah mencari penginapan, di mana kita bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman.
Karena Singapura negara kaya sekaligus biaya hidup di sana termasuk yang tertinggi di Asia, tarif atau harga segala sesuatu mengikuti standar kehidupan di sana. Namun untungnya, perekonomian Singapura yang ditopang oleh sektor pariwisata ini menyediakan tempat penginapan yang berlimpah untuk para pengunjung negara tersebut dengan bermacam-macam tingkatan kelas dan tarif, mulai dari hotel dengan kamar-kamar supermewah bertarif per malam supermahal, hingga ke kamar-kamar penginapan yang bertarif relatif murah untuk ukuran di sana. Bahkan penginapan yang di sana disebut hostel, ada yang hanya menyediakan tempat tidur saja, yang artinya satu kamar diisi oleh beberapa pengunjung yang berbeda. Wah, kayak di mess tuh!…Pakai ranjang tingkat lagi…
Seperti halnya penerbangan, yang kita cari yang murah kalau tidak yang termurah, kami mencari penginapan yang murah pula, karena biaya ditanggung sendiri bukan dibayari perusahaan. Penginapan yang murah, ya tadi itu, hostel. Hostel sering diidentikkan dengan wisatawan backpacker, karena murah tarif sewanya namun tidak memberikan fasilitas banyak. Di beberapa wilayah Singapura bertebaran hostel dengan dengan fasilitas yang tidak jauh berbeda, dengan harga sewa per malam berkisar 10 hingga 50 dollar Singapura. Ada yang satu kamar buat satu orang, ada yang buat dua orang, bahkan satu kamar untuk berenam pun ada. Dengan pilihan kamar mandi di dalam, atau kamar mandi di luar. Bagi yang tidak terbiasa satu kamar dengan orang lain yang tidak kenal, tentu akan tidak nyaman menginap di hostel.
Ada hostel yang dekat dengan stasiun MRT ada pula yang jauh. Lokasi yang dekat dengan stasiun MRT menjadi nilai plus bagi sebuah hostel, karena pengunjung akan lebih mudah mengaksesnya. Selain itu, keberadaan tempat-tempat makan, food court atau hawker centre (istilah untuk sejenis pujasera di sana) di sekitar harus diperhitungkan pula, supaya kita tidak kesulitan mencari makan. Oh,ya…ada sebagian hostel murah yang berada di lokasi lampu merah Geylang, jadi kita harus hati-hati kalau membawa anak-anak.
Membooking hostel di Singapura bisa dilakukan secara online. Cukup kita ketikkan hostel Singapore di google, sederet link akan membantu kita untuk mendapatkan hostel yang kita cari. Umumnya dikelola oleh jaringan hostel di Singapura, bahkan ada yang jaringan hostel seluruh dunia. Contohnya adalah Hostelworld, TripAdvisor, Hostelbookers, dan Agoda. Kalau sudah memilih salah satu hostel, isikan tanggal berapa kita akan check-in dan check-out, lalu pilih tipe kamar, dan berapa kamar kita akan booking. Nanti akan keluar berapa biaya total yang harus kita bayar selama sekian hari tersebut. Jika kita proses terus, kita akan diminta untuk mengisi nomor kartu kredit untuk membayar DP-nya.
Kami tadinya mencari hostel juga, mendapatkan ada yang per malamnya hanya 13 dollar Singapore di daerah Aljunied. Lokasinya tidak jauh dari stasiun MRT dan juga di sekitarnya banyak pilihan tempat makan. Hanya saja, belakangan istri saya meminta agar kami menggunakan apartemen saja. Pertimbangannya adalah, lokasi berada di pusat kota, yang barang tentu ke tempat belanja maupun ke tempat makan dekat, tarifnya tidak jauh beda dengan hostel, dan secara privasi lebih bisa didapatkan, karena yang disewa adalah kamar, bukan tempat tidur seperti di hostel. Jumlah kamarnya pun, paling 2 hingga 4 kamar.
Apartemen yang disewa harian (saya kurang tahu resmi atau tidak penyewaannya, tapi sepertinya tidak resmi) ini, menjadi alternatif lain selain hostel, untuk penginapan murah. Ada beberapa apartemen di sekitar Orchard, daerah yang menjadi pusat wisata belanja Singapura, yang disewakan kepada para wisatawan. Salah satu yang terkenal adalah apartemen Lucky Tower, di atasnya Lucky Plaza, sebuah kompleks pertokoan di Orchard. Dan memang, berdasarkan info teman yang belum lama ke sana, kami menghubungi sebuah nomor telepon (ternyata ada juga iklannya di harian Kompas) yang menyewakan apartemen. Setelah beberapa kali berkomunikasi dengan penyewanya, lewat sms dan telepon langsung, akhirnya kami jadi deal untuk menyewa apartemen di Lucky Plaza. Sewa kamarnya relatif murah pula, jatuhnya per orang 25 dollar. Yakh tidak terlalu mahallah.

Lucky Plaza, pertokoan yang selalu ramai, yang di atasnya terdapat banyak kamar apartemen yang disewakan (sumber gambar dari sini)
DP yang harus dibayar sebesar harga sewa satu malam, dan kami transfer seminggu sebelum keberangkatan, lewat Western Union.
Kelar sudah menyiapkan modal ketiga.

Jalan-jalan ke Singapura (1/4)


Diambil dari tulisan pak Ceppi di milis Cikarang baru. Dimuat disini karena banyak isinya yang bermanfaat untuk diketahui semua orang yang ingin berjalan-jalan ke Singapura atau ke luar negeri. Terima kasih sudah mengijinkan dimuat disini pak Ceppi.

Agak malu sih cerita yang beginian, tapi tak apalah. Daripada hanya ditulis di buku harian dan disimpan di lemari…

Pergi ke luar negeri bagi sebagian teman-teman yang bekerja di perusahaan PMA adalah sesuatu yang tidak asing. Apalagi anda yang di tempat kerjanya menyandang satu jabatan penting atau tugasnya di bagian tertentu, pergi ke luar negeri dengan seluruh biaya ditanggung perusahaan tempat kerja, untuk urusan dinas, training atau sekedar mengunjungi pameran pasti sudah sering. Teman-teman yang berpenghasilan lebih, yang mungkin di tempat kerjanya punya jabatan tinggi atau seorang pengusaha mapan, apalagi. Ke luar negeri untuk berlibur, meskipun tidak ada pihak lain yang membiayai, sudah menjadi hal biasa, tak jauh beda dengan orang kebanyakan pergi ke luar kota.

Nah, bagaimana kita yang tidak punya jabatan di perusahaan tempat kerja dan juga berpenghasilan pas-pasan, mau juga pergi ke luar negeri? Untuk berlibur bersama anak-anak atau sekedar ingin tahu bagaimana rasanya ke luar negeri dan melihat seperti apa di sana. Jawabannya ada dalam cerita saya ini.

Berangkat ke luar negeri atas keinginan sendiri dan tentunya seluruh biaya ditanggung sendiri juga tentu sangat berbeda dengan jika kita berangkat atas tugas dari perusahaan tempat kita bekerja. Kita harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Dengan modal yang tidak begitu banyak (yang dikumpulkan sekian lama), kita harus memilih semua hal yang dibutuhkan untuk kepergian tersebut yang murah, ekonomis, dan kalau perlu gratis. Tiket pesawat, penginapan, makan dan transportasi selama di sana serta untuk sedikit oleh-oleh…hehehe…cari yang paling murah!

Untuk saya dan istri, rencana pergi ke luar negeri lebih karena bermaksud mengajak anak-anak mengisi waktu liburan mereka, sekaligus memberikan pengalaman baru kepada mereka. Nilai pengalamannya tentu akan berbeda dibandingkan jika kami pergi ke tempat-tempat lain di dalam negeri, meskipun itu belum pernah mereka kunjungi.   

Ke luar negeri, ke mana?

Ke Singapura saja dulu. Selain karena paling dekat, juga saya dan istri sudah pernah ke sana sehingga tidak akan terlalu asing di sana. Karena dekat, biaya tranportasi PP ke Singapura tidak begitu mahal. Pula, negara tersebut memiliki objek-objek wisata yang menarik yang terpusat dalam satu kota karena memang luas wilayah negaranya kecil, di samping terkenal dengan pusat-pusat perbelanjaannya. (Tidak heran, jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana tiap tahunnya jauh lebih besar dibanding yang berkunjung ke Indonesia, yang jauh lebih luas wilayahnya. Ironisnya, negara penyumbang wisatawan ke sana terbanyak salah satunya adalah Indonesia… )

Negara kota yang jaraknya dari Jakarta lebih dekat daripada Medan ini memang amat layak dikunjungi oleh kita yang ingin tahu seperti apa negara maju, modern dan kaya. Sehingga, kita pun berharap anak-anak yang kita ajak bisa melihatnya, juga bisa membandingkannya dengan negara kita tercinta.

Dengan melihat dan membandingkan seperti itu…, mata mereka, termasuk Andra dan Sasha, dapat lebih terbuka dan wawasan mereka berkembang dengan mengamati langsung bagaimana bangsa Singapuramengelola negaranya. Mengapa negara Singapura bisa maju dan kaya, serta mengapa Indonesia belum bisa?

Dari situ, mudah-mudahan tumbuh kesadaran serta motivasi dalam diri anak-anak untuk punya keinginan membangun dan memperbaiki negara ini, supaya dapat menyusul ketertinggalan negara kita dari negara tetangga itu.

Sebelum berangkat, kami melakukan persiapan sebaik-baiknya agar rencana perjalanan berjalan lancar. Meskipun sudah beberapa kali ke sana sebelumnya, tetap menurut saya persiapan itu perlu dilakukan. Terutama yang menyangkut anggaran biaya, serta bagaimana memanfaatkan waktu sesuai rencana, total 4 hari 3 malam, bisa berkesan. Singapura kini tentunya telah banyak berubah, dibandingkan dengan terakhir saya ke sana.

Khususnya untuk menyesuaikan dengan budget, kami mempelajari pengalaman-pengalaman wisatawan backpacker yang berwisata ke Singapura, bagaimana berwisata seekonomis mungkin. Sumber infonya dari mana lagi kalau bukan dari internet. Dengan googling di internet kita bisa mendapatkan banyak petunjuk yang dapat membantu kita dalam berkunjung ke sana. Selain itu, kita juga dapat membaca-baca buku panduan berwisata ke Singapura, yang banyak dijual di toko buku sekelas Gramedia.  

Ada 3 hal penting yang kami siapkan sebelum berangkat, yaitu membuat paspor, mencari tiket pesawat, dan mem-booking tempat penginapan di sana. Untuk teman-teman yang biasa tahu beres, karena selalu diurus oleh pihak perusahaan tempat bekerja, prosedur ini tentunya harus dilakukan.

Membuat Paspor

Modal pertama untuk berangkat ke luar negeri dan memasuki negara lain adalah memiliki paspor. Kalau belum punya, tentu kita harus membuatnya terlebih dahulu, di kantor Imigrasi. Katanya, membuat paspor sekarang bisa di Kantor Imigrasi manapun, tidak tergantung tempat tinggal kita. Namun, untuk kita orang Cikarang ini, pilihan terbaik adalah di Kantor Imigrasi Karawang. Tidak terlalu jauh, dan juga jalan menuju ke sana tidak melalui jalur berlalu lintas macet.

Karena paspor saya sudah habis masa berlakunya, saya pun harus membuat baru. Apalagi istri, lebih lama lagi sudah kadaluwarsa. Jadinya, plus anak-anak, kami membuat 4 buah paspor. Dengan biaya sekitar 300 ribu per orang (berapa persisnya istri saya yang tahu), dan dengan menyisihkan sedikit waktu, kami mengurus sendiri tanpa harus menggunakan agen atau biro jasa. Yang penting lengkap persyaratan yang dibutuhkan, seperti KTP, KK, akte kelahiran atau ijazah terakhir. Bagi yang pernah memiliki paspor, paspor lama pun harus diserahkan. Untuk yang berstatus karyawan seperti saya, diminta juga surat rekomendasi/keterangan dari tempat bekerja sebagai kelengkapan bagi pembuatan paspor tersebut. Jadi itu harus disiapkan sebelumnya.

Tiga kali dibutuhkan kita untuk datang ke sana, yaitu kedatangan pertama untuk membeli formulir, mengisi data-data yang diperlukan dan menyerahkan dokumen-dokumen yang menjadi persyaratan. Kedatangan pertama kita bisa juga, berdasarkan informasi, diganti dengan pendaftaran online di situshttp://www.imigrasi.go.id. Kedatangan kedua adalah untuk pemotretan, pengambilan sidik jari dan pembubuhan tanda tangan. Kedatangan yang ketiga sekaligus terakhir adalah untuk mengambil paspor yang sudah jadi.

Kedatangan pertama dan ketiga, hanya istri saya yang berangkat ke Karawang diantar temannya. Sementara untuk kedatangan yang kedua, kami sekeluarga berempat pergi bersama-sama. Namanya juga mau dipotret dan diambil sidik jari, tentu tidak bisa diwakilkan.

Yang menjadi catatan saat kedatangan kedua, kami harus menunggu sampai hampir 3 jam untuk mendapatkan giliran dipanggil masuk ruang pemotretan. Kami datang terlalu pagi, jam 8 kurang sudah ada di sana dan kantor Imigrasi belum buka), sementara pemotretan dimulai dari jam 10.30. Itu pun, anehnya (tidak aneh sih), yang pertama kali masuk ke ruangan pemotretan adalah satu rombongan dengan diantar seseorang yang kami perkiraan agen (calo tepatnya). Padahal mereka datang setelah jam 9.30, jauh terlambat dibanding kami. Capeek deh kita yang sudah nunggu dari sejak kantor belum buka…! Untungnya setelah rombongan tersebut selesai, kamilah yang mendapatkan giliran masuk ke ruangan pemotretan sekaligus interview.

Ada yang sedikit membuat saya dan istri geli. Waktu menunggu, kami memperhatikan ada seorang bapak berpenampilan parlente bagaikan seorang pejabat dengan perut agak buncit keluar masuk ruang pemotretan. Kami pikir sebelumnya dia adalah seorang bos di kantor ini. Ternyata eh ternyata, saat kami berada di dalam ruangan, kami lihat bapak yang tadi adalah petugas yang memotret kami. Lho?…Instansi pemerintah gitu loh…Jadilah kami diambil foto oleh bapak berpenampilan necis tersebut. 

Proses pemotretan disambung dengan pengambilan sidik jari secara digital. Semua sidik jari discan dan direkam datanya. Setelah itu adalah interview. Saya yang duluan dipanggil, setelah itu Andra, Sasha, dan terakhir istri saya. Yang mewawancara kami, orangnya masih muda dan ganteng. Saya jadi teringat dengan Pak David milis Cikbar, agak mirip sih. (memangnya Pak David ganteng?…hehehe…)

Weew…masih muda begini sudah punya jabatan di kantor imigrasi ini…

Dalam wawancara oleh pejabat imigrasi tersebut, kami hanya ditanya tujuan membuat paspor. Ya, tinggal dijawab sesuai tujuan kita. Mau berlibur sekeluarga. Selesai.

Prosesnya paling sekitar 15 menit untuk kami semua. Jauh lebih singkat dibandingkan masa penantian kami yang dari pagi….

Tinggal menunggu beberapa hari paspor siap untuk diambil.

(Bersambung)

Pantai Misteri di Yogya “PARANG TRITIS”


“Yuk ke Paris!”

“Paris? Jauh Banget?”

“Hehehehe… ini seperti kata Jerman yang artinya jejer kauman. Kalau Paris ya pasti Parang Tritis!”

Bagi orang Yogya, maka Paris memang dikenal sebagai kependekan dari wisata Pantai Parang Tritis. Inilah pantai legendaris di Yogyakarta, karena penuh dengan cerita legenda yang misterius dari berbagai sumber. Tokoh Ratu Laut Selatan selalu dihubungkan dengan lokasi ini, sebagai pintu masuk kerajaan Laut Selatan yang dipimpin oleh seorang Ratu Cantik tapi sangat menakutkan.

Nyi Roro Kidul, sebuah nama seram yang membuat kita langsung membayangkan sebuah wajah yang cantik, anggun tapi penuh dengan tebaran ancaman maut di sekelilingnya.

Bagi yang takut dengan tebaran ancaman maut itu, memang sebaiknya tidak usah datang mengunjungi Paris. Lebih baik memilih lokasi wisata  yang lain, misalnya Candi Prambanan, Borobudur ataupun Ketep Pass yang dingin sejuk di samping Gunung Merapi.

Pantai Paris mempunyai keunikan yang membuat wisatawan, domestik maupun asing, selalu ingin datang lagi ke lokasi ini. Yang pertama tentu ombaknya yang sangat menawan, ditambah tebing bukit yang membuat kita merasa sedikit aneh ketika merasakan deburan ombak di dekat bukit karang itu. Suasananya sangat menghanyutkan.

Parang tritis (14)

Cuaca yang panas juga tidak begitu terasa di pantai ini. Sangat beda dengan pantai Samas yang letaknya bersebelahan dengan Paris. Disamping ombak pantai Samas lebih ganas, cuaca panas juga terasa menyengat di Samas.

Pemandian air hangat juga tersedia di Parang Wedang. Sudah dibuatkan beberapa kamar mandi yang disitu kita bisa mandi sepuasnya dengan air panas yang asli dari sumbernya.

Pas disamping terminal utama ada sebuah kolam renang yang airnya sangat jernih dan tawar (bukan air asin). Kalau kita mau sedikit bercapek naik bukit, maka dari kolam renang ini kita bisa naik sedikit ke puncak bukit dan merasakan indahnya suasana di bukit itu. Jaman dahulu, konon ceritanya, Pangeran Diponegoro suka sekali duduk di atas bukit itu memandang ombak pantai yang selalu berkejaran tak kenal berhenti.

Sultan Yogyakarta memang selalu dikaitkan dengan sang Penguasa Laut Selatan, begitu juga sang Pangeran Diponegoro, pangeran kecintaan warga Yogyakarta. Sekarang sudah banyak bangunan di bukit itu, sehingga sedikit mengurangi suasana eksotis di bukit, tetapi bagi yang bisa mengabaikannya, maka suasana di bukit itu pasti akan tetap nyaman dinikmati.

Kuda di Parang tritis (8)

Seperti tempat wisata di Yogya yang lain, maka kuda Bendi dan Kuda tunggang jinak juga ada di lokasi. Biaya sewanya sama dengan yang ada di Prambanan, 20.000 sekali putaran. Bedanya, kalau di Prambanan, kudanya sebagian adalah kuda dari Kopeng, maka di Paris, kudanya dari warga Bantul sendiri.

Kuda di Paris terlihat lebih besar dan lebih gagah dibanding kuda di Prambanan.

Sambil naik kuda, maka pemilik kuda akan bercerita tentang apa saja yang kita sukai, terutama tentang Paris, baik di jaman ini maupun di jaman dulu. Cerita-cerita mistis bisa keluar kalau memang kita menginginkannya.

Guidenya pawang Kuda di Parang tritis (10)

Disamping itu, sang pawang kuda ini juga berjalan di samping kita sambil memberi pelajaran singkat tentang cara mengendalikan kuda. Mulai dari cara belok, ke kanan, ke kiri, berhenti, maju lagi, setengah berlari dan segala macam yang ingin kita tahu tentang kuda. Jika kita berani dan bisa, maka kekang akan diberikan pada kita 100%

Kalau sudah memegang kekang kuda, maka rasanya kita jadi pahlawan berkuda di jaman dulu. Berjalan santai di samping deburan ombak pantai Selatan dan berpapasan atau mendahului para pejalan kaki yang ada di sepanjang bibir laut selatan.

Souvenir di Paris juga kelihatannya sudah dipasok oleh beberapa pedagang yang juga memasok di seluruh lokasi Wisata Yogya. Harganya sama dan seragam. Selisih akan kita dapat kalau kita memang penduduk Yogya asli dan terus menawar sampai harga dasarnya. Aku sendiri memilih tidak menawar, karena harganya memang sudah murah dan hitung-hitung berderma untuk mereka yang mau merawat lokasi pantai yang indah ini.

Prajurit Yogya di Parang tritis (12)

Pulang dari Parang Tritis, kalau suka buah-buahan, terutama buah Naga, bisa mampir di dekat pintu masuk Parang Tritis. Kalau dari arah Paris, maka kebun ini ada di sebelah kiri. Silahkan petik sendiri dan bayar langsung dengan harga yang sangat murah. Sebaiknya juga ditawar, tapi kalau tidak dikasih ya sudah, harganya sudah sangat murah. Hanya 20.000 per kg.

Kebun Buah Naga di Parang tritis (1)

Selamat berlibur di tempat wisata kota Yogyakarta Berhati Nyaman. Salam sehati

Previous Older Entries

Explore Pati

...menjemput keindahan alam, blusukan ke pelosok desa

Cerita Vakansi

a family travel blog

Bersepeda itu indah

Memulai Bersepeda bersama dan sampai finish bersama

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Denina Boos's diary

Coretan Denina

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry, Samsung

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's Life Journal

Berbagi inspirasi dan hal-hal positif dalam hidup

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda