Tips setelah Mudik


Tips setelah Mudik

Blogger Goweser Jogja

Tips mudik sudah banyak dimuat di berbagai situs internet. Yang mungkin dilupakan adalah tips setelah selesai mudik dan kembali ke kota lagi.

Aku pernah mendapati rumahku kebanjiran saat ditinggal mudik ke Jogja dan semua barang beraroma luar biasa “pesing”, busuk dan juga sampah ada dimana-mana, karena terbawa banjir.

Kondisi semacam itu kudapati waktu aku sampai di Surabaya menjelang sore hari, sehingga aku hanya bisa membersihkan seperlunya saja. Aku tidak sanggup membersihkan semua kekacau balauan rumahku. Pertama karena kecapekan sehabis nyetir seharian, yang kedua waktu sudah menjelang maghrib dan sudah tidak nyaman untuk bersih-bersih di malam hari. Yang penting aku bisa tidur dan besok pagi siap-siap untuk kerja bakti.

Apa jadinya kalau kondisi seperti itu kita dapati saat malam sudah menjelang? Badan capek pingin istirahat dan kondisi rumah tidak memungkinkan untuk istirahat. jadi sangat penting untuk merencanakan saat kita kembali dari mudik menuju kota lagi.

Ini tipsnya bila ingin setelah mudik…

Lihat pos aslinya 1.134 kata lagi

Iklan

Mampukah kita mencintai istri kita tanpa syarat..


Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo (?), Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal Dan Investment, Beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.

Silahkan baca Dan dihayati.

*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* – – – sebuah perenungan

Buat para suami baca ya….. Istri & calon istri juga boleh..
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah Senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi Dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah Istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan, itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap Hari Pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Ru tini tas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal is bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu Hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ‘ Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak Ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak……. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu’ . Dengan air Mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya ‘sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian’..

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.’Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah….. .tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… Kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.’

Sejenak meledaklah tangis anak2 Pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk Mata ibu Suyatno.. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi Nara sumber Dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno “Kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2… Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita. ‘Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam
Perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, Pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, Dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati Dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta Kita bersama..Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari Penggantinya apalagi dia sakit,,,’

BILA ANDA MERASA BAHAN RENUNGAN INI SANGAT BERMANFAAT BAGI
ANDA DAN BAGI ORANG LAIN,
MOHON KIRIM EMAIL INI KE TEMAN, FAMILY DAN KERABAT ANDA LAINNYA
SEMOGA BERMANFAAT

Kisah Mudik 2010 (2): Terhalang Banjir dan Derita Macet Sepanjang Malam


Dari Garut, kendaraan kami melaju kencang menyusuri pebukitan yang teduh namun minim penerangan lampu jalan. Pak Heru mengendarai kendaraannya dengan hati-hati. Dibelakang, Alya terbatuk-batuk tak bisa tidur. Rupanya radang tenggorokannya sejak kemarin belum sembuh juga. Mungkin karena udara dingin menyebabkan alergi batuknya kambuh. Di Singaparna, kami mampir sejenak di apotik Kimia Farma membeli obat batuk untuk Alya.

Setelah minum obat, Alya tertidur pulas. Rizky memilih untuk tidur di pangkuan saya, di kursi depan samping Pak Heru. Jalanan yang meliak-liuk tak urung membuat saya mengantuk. Sudah pukul 20.30 malam saat itu. Saya pamit mau tidur sebentar ke Pak Heru yang masih terus waspada mengemudikan mobil.

Saya terbangun ketika malam mendekati pucuknya. Kami lantas singgah sejenak di Rest Area SPBU Jatilawang Wangon yang luas. Di tempat parkir kendaraan terlihat begitu padat, kami agak susah mencari tempat parkir.

Kami lalu turun dan masuk ke area restoran untuk minum teh hangat. Saya dan istri menuju ke Mushalla SPBU Jatilawang untuk menunaikan sholat Isya.

Kami terkejut, lantai Mushalla sudah penuh orang yang tidur tergeletak. Nampaknya mereka kebanyakan adalah pemudik sepeda motor yang letih dan ingin beristirahat. Dengan susah payah, sambil “nyempil-nyempil” kami berhasil menunaikan sholat Isya.

Setelah minum teh, kami melanjutkan perjalanan. Yogya masih 160 km lagi. Kalau dihitung-hitung sih, bisa ditempuh –bila kondisi normal hanya 3-4 jam saja. Saya agak tenang, sebentar lagi kami akan sampai. Tapi lagi-lagi dugaan saya meleset. Hanya sekitar 2 km dari tempat kami beristirahat tadi, mobil kami terjebak macet sangat panjang. Ternyata didepan kami ada banjir sedalam kurang lebih satu meter di daerah Sumpiuh. Lagi-lagi saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal dan Pak Heru menggaruk-garuk jenggotnya.

“Aduuh…bagaimana ini ya?” saya mengeluh tak sabar. Pak Heru angkat bahu. Sama bingungnya.

“Kita coba jalan memutar bagaimana pak? Tapi agak jauh,” kata Pak Heru menyodorkan alternatif.

“Yuk, kita memutar saja, walaupun jauh, apa boleh buat,” saya memutuskan.

Mobil kami akhirnya memutar arah dan melewati jalan memutar yang saya tak tahu kemana. Menurut pak Heru sih arah ke Wonosobo, tapi nanti tetap akan turun dan ketemu di titik pangkal banjir di Sumpiuh tadi.

Jalan alternatif memutar yang kami tempuh lumayan lancar. Beberapa kendaraan mengikuti dibelakang kami. Alhasil, sekitar 2 jam kemudian (karena sempat nyasar, pak Heru lupa jalannya), kami tiba di titik pangkal kemacetan tadi. Syukurlah, banjir sudah surut. Meskipun begitu, tetap saja, kami terjebak macet panjang (walau tak terlalu parah seperti sebelumnya). Setidaknya kami “parkir gratis” dijalan karena macet sekitar 2 jam.

“Sepertinya, kita bakal tiba di Yogya besok pagi deh Mas kalau begini situasinya,” kata Pak Heru seraya tersenyum kecut.

“Ya, beginilah resikonya, pak. Kita hadapi dan nikmati saja,” seperti biasa istri saya menimpali dari belakang dengan nada bijak.

Saya menggigit bibir. Handphone yang saya pegang sudah “tewas” kehabisan daya baterai sejak tadi. Saya tak bisa update status dan mengecek status teman-teman @pulkam lainnya di Twitter.

Dan, begitulah, dengan susah payah, kami akhirnya masuk di perbatasan Yogya sekitar pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk tidak berpuasa hari itu, karena badan begitu letih digeber macet panjang dan perjalanan yang sangat melelahkan. Kami mampir sejenak untuk sarapan di Restoran Ambar Ketawang, kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah mertua saya di Kuncen, Tegaltirto, Kecamatan Berbah Sleman.

Pukul 09.00 pagi, tanggal 9 September 2010, kami akhirnya tiba di tempat tujuan. Rasa letih langsung hilang menyaksikan sambutan hangat ayah dan ibu mertua serta adik ipar saya, Ahmad di beranda rumah.

Bersambung…

Kisah Mudik 2010 (1) : Menikmati Perjalanan Dengan Tabah dan Ceria


Bersiap berangkat mudik ke Yogya bersama Toyota Rush, Rabu,8 September 2010

Ujian kesabaran benar-benar kami sekeluarga alami dalam perjalanan mudik Lebaran 2010 ke kampung halaman istri saya di Yogyakarta, tanggal 8 September 2010 lalu. Kami menempuh waktu 24 jam untuk mencapai Kota Gudeg tersebut dari kediaman kami di Cikarang (“normal”-nya hanya dibutuhkan kurang lebih 11 jam dari Cikarang menuju Yogya). Berangkat dari Cikarang, jam 08.00 pagi tanggal 8 September 2010 dan baru tiba di tempat tujuan keesokan harinya jam 09.00 pagi. Sungguh sangat melelahkan.

Rombongan kami ada 5 orang. Selain saya, istri dan kedua anak saya (Rizky dan Alya), juga ikut Nia, keponakan perempuan saya (anak kakak ipar, yang kebetulan baru dapat cuti dari kantornya mulai hari itu). Kami menumpang mobil sewaan Toyota Rush yang dikendarai oleh Pak Heru. Sejak “lepas landas” dari Cikarang, kendaraan mulai “memadat” di sekujur jalan tol Jakarta-Cikampek.

Saya terus melakukan update status di Twitter @pulkam untuk berbagi kabar kepada kawan-kawan pemudik lain, meski terkadang harus berebutan dengan Rizky yang ingin main game di Handphone saya. Kami memutuskan lewat Jalur Selatan, setelah dapat informasi bahwa jalur Pantura, sangat rentan kemacetan. “Kalaupun macet di Nagreg, kita masih “sedikit terhibur” oleh teduh dan rindangnya pepohonan disana,” kata Pak Heru.

Memasuki tol Cipularang, kami sempat tersendat oleh antrian kendaraan, namun untunglah beberapa saat kemudian, kamipun bisa bergerak dan kendaraan bisa dipacu hingga mendekati tol Cileunyi. Didepan tol Cileunyi, tanda-tanda “keadaan bakal memburuk” mulai terlihat. Macet terjadi hingga sekitar 4 km menjelang pintu tol. Kami baru mencapai pintu tol sekitar setengah jam kemudian. Dibelakang, anak-anak masih tetap ceria sembari menyantap ayam KFC yang kami beli di rest area tol Karawang Timur tadi. Kursi tengah mobil yang kami pakai ini memang sengaja dikeluarkan dan disitu dihamparkan tikar kasur dan bantal agar kedua anak saya bisa tidur selonjoran. Kursi belakang tetap dibiarkan untuk tempat duduk istri saya dan Nia.

Memasuki wilayah Nagreg, setelah mampir sebentar Sholat Dhuhur di rest area sebuah SPBU, antrian makin panjang. Laju kendaraan berjalan sangat pelan. Saya mulai garuk-garuk kepala yang tidak gatal, Pak Heru juga mulai garuk-garuk jenggotnya. Rasa kesal mulai melanda.

Antrean Kendaraan di Tikungan ke arah Tanjakan Nagreg

“Pelajaran sabar dimulai, pokoknya tetap tenang,” kata Istri saya dibangku belakang.

“Iya bu, perjalanan masih panjang, dan kita mesti punya stok sabar yang banyak ya?” sahut Pak Heru sambil tersenyum pahit.

Saya hanya manggut-manggut prihatin seraya memasang status terbaru di Twitter untuk @pulkam soal kemacetan ini.

Sekitar 2 jam lebih kendaraan kami beringsut, hingga akhirnya mencapai persimpangan Tasikmalaya dan Garut pada jalan turunan Nagreg. Sejumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor ikut “meramaikan” kemacetan yang terjadi. Sembari mengelus dada prihatin saya melihat seorang pemudik sepeda motor membawa sang anak diboncengan dan terpaksa dibaringkan diatas pangkuan sang istri karena si anak tertidur dan letih.

Pemudik Sepeda Motor, dengan anak yang tertidur di pangkuan ibunya. Memprihatinkan!

“Kasihan banget ya anaknya,” komentar si sulung Rizky saat saya mengabadikan adegan tersebut lewat kamera digital yang saya bawa.

“Seharusnya,” kata Pak Heru,”Pemerintah mesti bikin satu bagian khusus di Departemen Perhubungan khusus yang melayani mudik tahunan ini. Sama dengan ritual haji yang dilaksanakan tiap tahun, mudik yang juga rutin diadakan tiap tahun ini, mesti ditangani secara khusus dan serius karena ini menyangkut hak rakyat juga mendapatkan keamanan dan kenyamanan transportasi pulang ke kampung halaman”.

Saya mengangguk setuju. Kami berdua lantas berdiskusi panjang soal “wacana” bagian khusus mudik di Dephub itu.

“Kalau tidak seperti itu,” lanjut Pak Heru lagi,”kondisinya akan begini terus, mulai dari macet panjang, susahnya mendapat tiket transportasi mudik, hingga meningkatnya kecelakaan di jalan raya khususnya yang dialami pemudik bersepeda motor. Kalau ada transportasi massal yang nyaman dan bisa melayani pemudik serta dikelola profesional oleh bagian spesial mudik tersebut, tentu ritual mudik ini menjadi lebih menyenangkan”.

Diskusi kami tertunda sejenak, ketika akan memutuskan apakah kita akan lewat Tasikmalaya atau Garut ketika melihat antrian panjang kendaraan di depan, pada jalan turunan Nagreg.

“Bagaimana nih Mas? Kalau kita terus lewat Tasikmalaya, kita akan hadapi macet panjang seperti yang ada didepan, kalau lewat Garut relatif kosong dan lancar meski sedikit lebih jauh,” tanya Pak Heru.

Saya menghela nafas panjang.

“Kita lewat Garut aja pak Heru, moga-moga saja lancar sampai didepan,” saya memutuskan, akhirnya.

Macet menjelang turunan Nagreg, didepan persimpangan arah Tasikmalaya dan Garut

Macet menjelang turunan Nagreg, didepan persimpangan arah Tasikmalaya dan Garut

Dan begitulah, kami akhirnya lewat Garut.

Pada awalnya, jalan yang kami lewati lancar. Dalam hati saya berdoa semoga terus begini sampai ke Garut.

Sayangnya, perkiraan salah. Hanya kurang lebih 2 km dari persimpangan Tasikmalaya – Garut di Nagreg, mobil kami terpaksa terhenti karena antrian panjang kendaraan di depan. Saya menepuk jidat dengan dongkol. Pak Heru menggigit bibir. “Ya, sudah mari kita hadapi dan nikmati saja,” kata beliau, lagi-lagi sembari tersenyum pahit.

Saya mengangguk pasrah.

Restorant Cibiut Garut

Dan begitulah, kendaraan kami beringsut pelan dan beberapa kali berhenti karena kendaraan didepan kami tidak bergerak. Hampir 3 jam lebih kami terjebak disana. Memasuki kawasan Leles, kemacetan mulai terurai. Tapi situasi lain kembali terjadi. Hujan deras tiba-tiba turun dan membuat Pak Heru mesti hati-hati mengendarai karena terhalang pandangan oleh lebatnya hujan dan licinnya jalan.

Perjalanan kami lancar hingga akhirnya kami memutuskan untuk sholat maghrib dan buka puasa di Restorant Cibiuk yang asri beberapa kilometer sebelum Garut.

Suasana Restoran yang ditata rapi dan eksotik ini membuat rasa “Be-Te” kami dihadang kemacetan tadi sedikit terhibur.

Karena suasana dingin, saya memilih memesan Nasi Goreng Ayam, sementara anak-anak makan sate sedangkan istri saya bersama Nia memilih menyantap Nasi Timbel.

Nasi Timbel ala Resto Cibiut

Wah, sungguh nikmat sekali menyantap makanan di Restorant Cibiuk ini yang konon terkenal dengan sambelnya yang “nendang”.

Keringat mengucur saat sajian nasi goreng yang saya pesan langsung licin tandas.

Anak-anak terlihat lahap menyantap makanan mereka. Alya juga menyukai hidangan otak-otak bakar yang jadi menu khas restoran itu. Pak Heru memesan Nasi Goreng Kambing. “Supaya tetap melek nanti nyupirnya,” selorohnya.

Di Restorant ini, saya juga menyempatkan diri membeli oleh-oleh makanan ringan berupa Lanting (semacam krupuk ketela batang kecil berpilin) dan Kerupuk Kulit.

Seusai maghrib, kami kemudian melanjutkan perjalanan.

Meski hujan sudah reda, tapi udara kian terasa makin dingin menggigit.Mobil kami melaju menembus pekat malam, memasuki Kota Garut.

Bersambung..

” Mau mudik aman, mari beramal dalam santunan TDA Bekasi “


Tidak terasa ibadah puasa memasuki minggu ke-3, kita telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, satu bulan kita telah berhasil menahan lapar dan dahaga dari terbitnya fajar hingga terbenam matahari. Di saat bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan itu telah pergi, hari ini kita dipertemukan dalam momen kegembiraan, yaitu hari raya idul fitri. Kalau kita artikan secara tekstual, bermakna “hari berbuka” atau “hari kembali kepada fitrah”, fase kehidupan manusia yang dianggap suci, bersih dan terbebas dari segala dosa. Sudah menjadi tradisi bagi para perantau melakukan tradisi mudik, bahkan tiket kereta,pesawat, bus sudah mulai kehabisan. Bagi yang menggunakan kendaaran pribadi, umum baik pesawat, kereta api, kapal laut, mobil, maupun motor mudah-mudahan lancar dan lancar sampai tujuan nanti. Nah, bagi rekan-rekan agar perjalanan kita semakin lancar, tentu do’a yang paling utama bukan ? karena semakin banyak do’a yang meggalir, perjalanan kita akan semakin nyaman dan Insya Allah dimudahkan oleh Allah SWT. Nah, sebaiknya  kegembiraan yang akan kita nantikan dengan datangnya Idul Fitri nanti dan bertemu dengan sanak keluarga di tempat kita lahir sana, Ada baiknya kitapun bisa membagi senyum, tawa dan kebahagiaan kita dengan orang lain.

Pada kesempatan kali ini, Komunitas TDA (Tangan Di Atas ) Bekasi mengajak Anda semua untuk beragi kebahagiaan dengan dhuafa dan anak- anak yatim, sebagai wujud rasa syukur kita atas apa yang telah kita rasakan kenikmatan selam ini. Sesungguhnya kebahagian sejati adalah ketika kita bisa membuat bahagia orang lain disekitar kita. Kesempatan untuk saling berbagi secara pribadi dan komunitas TDA  Bekasi, saya ajak juga ke para blogger-bloger mania yang selalu meramaikan dunia maya ini dengan tulisan-tulisannya yang semakin menambah wacana sehari-hari baik informasi,pengalaman, nasehat dan pada intinya kesempatan untuk berbagi juga dengan para pembaca.

Adapun Buka Bersama dan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa TDA Bekasi yang akan dilaksanakan :

Hari/Tanggal         : Sabtu, 4 September 2010
Waktu                       : 13.00 sd 18: 30 WIB
Tempat                     : Gedung Islamic Center Lantai 2
                                   Jalan A. Yani  Bekasi
Acara                        : – Pembukaan
                                  – Pembacaan Al Quran) dan Saritilawah
                                  – Sambutan-Sambutan Dari TDA Pusat dan TDA Bekasi
                                  – Tausyiyah Dai Cilik
                                  – Ceria Bersama Anak-Anak :- Mendongeng Kisah Para Nabi (dengan pertanyaan berhadiah)
                                                                            – Game Educative
                                                                            – Marawis
                                                                            – Badut Lucu dll
                                  –  Launching Infaq Buku dan Majalah oleh TDA Peduli Bekasi
                                  –  Penutup dan Buka Bersama
                                  –  Pembagian Santunan
Mari kita sisihkan sebagian harta kita yang merupakan hak mereka. Paket yang disediakan senilai Rp. 100.000,- (termasuk konsumsi dan santunan). Silahkan mengambil sejumlah paket yang akan disumbangkan pada anak-anak yatim dan untuk konsumsi buka puasa bersama.
Salurkan santunan anda pada rekening :
BCA 680 005 9109 an Irwan Subik atau
Mandiri 101 000 4700 793 an. Irwan Subik

Jika kita bisa membahagiaan merek tentu  adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi kita juga. Kita telah diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk mensucikan jiwa sekaligus mewujudkan rasa peduli terhadap kondisi di sekitar kita.
syukuri. “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ” (Qs. Yunus: 58)
” Mau Mudik Aman, mari  beramal dalam santunan TDA Bekasi “…

Jalur Mudik Cikarang – Cirebon (2): Pantura, Jembatan mBah Sewo


Liputan kali ini bukan mengenai kondisi infrastruktur jalan, namun masih ada hubungannya dengan lalu lintas, keselamatan, mudik, dll.

Kali Sewo, adalah sebuah kali/sungai yang sekaligus menjadi batas wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Indramayu di sekitar jalur pantura. Bila kita melaju di jalur Pantura Jawa Barat dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah, maka setelah melewati Fly-over Pamanukan, pasar Pusaka Nagara, maka beberapa saat kemudian kita melewati jembatan yang cukup besar (sekarang 2 jembatan untuk 2 arah yang berbeda). Di seberang jembatan tersebut adalah wilayah kecamatan Sukra, yang masuk dalam wilayah Kabupaten Indramayu. Nah jembatan inilah yang dikenal dengan Jembatan Sewo, Jembatan Kali Sewo, atau Jembatan mBah Sewo.

Jembatan Kali Sewo

Banyak cerita mengenai jembatan ini, dari mulai setiap tahun selalu ada kecelakaan yang merenggut korban jiwa sampai cerita mistis tentang sebuah kerajaan siluman yang dipimpin seorang raja siluman di sebuah kerajaan megah yang sering mengadakan acara ‘siluman gathering’ yang berasal dari pelbagai pelosok dan sungai di Indonesia,  dan seekor siluman buaya putih yang sering meminta korban.

Berita yang paling akurat adalah tentang tragedi kecelakaan bus yang memakan 67 korban jiwa pada 11 Maret 1974. Syahdan waktu itu adalah masa awal program transmigrasi, ratusan warga Boyolali diangkut dengan Bus menuju tujuan lahan bukaan transmigrasi di wilayah Rumbiya – Sumatera Selatan. Malang tak dapat ditolak, sesampainya di jembatan kali sewo, salah satu dari rombongan bus yang mengangkut ratusan pioneer program transmigrasi tersebut tergelincir ke dalam sungai, kemudian terbakar dan menewaskan 67 orang calon transmigran yang diangkutnya, 3 orang anak selamat dari bus tersebut dan kemudian menjadi anak angkat keluarga besar rombongan transmigran tersebut. (disarikan dari http://www.patrolpost.com/2010/monumen-makam-pionir-transmigrasi-sewo-sukra.html)

Entah berawal dari cerita angker dan ancaman kecelakaan dijembatan tersebut, atau tragedi memilukan pioner transmigran yang tak sampai menggapai angan, kenyataannya sekarang masih banyak orang yang melewati jembatan tersebut melemparkan recehan ke luar kendaraan ke arah jembatan dan sungai entah sebagai apa.

Dari keadaan itu berkembang para pemungut tawur (recehan yang dilempar) yang siaga di sekitar jembatan untuk mengumpulkan uang recehan yang dilemparkan pelintas. Sudah ratusan kali saya melewati jembatan tersebut, pagi-siang atau malam, dan hampir dapat dipastikan selalu ada orang yang siaga di jembatan dengan peralatan khusus di tangan untuk mengais recehan.

Pengais Recehan Jembatan Sewo

Photo yang ini dikutip dari: indramayu-post.blogspot.com

Menjelang Ramadhan dan Hari Raya, jumlah mereka semakin banyak, namun menurut berita, pendapatan mereka justru semakin besar, ada yang bilang bisa mencapai Rp 100.000,– per orang!. Demi melihat jumlah mereka, tak pelak jumlah recehan yang dilempar oleh pelintas jembatan tersebut bisa mencapai di atas Rp 1 Juta per hari di masa ramai.

Adalah menjadi pilihan kita semua untuk tidak melemparkan uang recehan atau justru melemparkan uang recehan, namun kegiatan melemparkan uang recehan tentu membawa bahaya yang tidak ringan, baik bagi pengendara yang mungkin kehilangan konsentrasi ataupun bahaya tertabrak bagi para pengais tersebut dalam berebut uang recehan.

Saya sering memilih melambatkan kendaraan dan tidak melempar uang recehan, mudah-mudahan para pembaca juga melakukan hal yang sama, karena tujuan saya menulis ini bukan untuk mengajak melempar recehan, namun mengajak meningkatkan kesiagaan saat melintas di Jembatan mBah Sewo yang konon sangat angker tersebut. Siaga bukan kepada keangkeran Jembatan, namun bahaya lalu lintas yang ditimbulkan oleh banyaknya orang di atas jembatan yang ramai, terlebih saat mudik.

(bersambung)

Cara berbelok di Tikungan


1. Pelan

lihat posisi tangan saat menurunkan gas, saat memegang kopling, saat menginjak rem, saat menurunkan gigi

kurangi kecepatan sebelum berbelok dengan cara mengurangi gas perlahan, kemudian tekan rem depan dan belakang perlahan (posisi tekan rem depan 60 % belakang 40%) , kemudian turunkan gigi perlahan (butuh latihan)

2. Lihat

perhatikan belokan ke arah yg dituju palingkan cuma kepala, jangan sampai bahu ikut berputar pastikan mata tetap di ketinggian horizon

3. Tekan

 utk berbelok, motor harus dalam keadaan miring utk memiringkan motor, dorong/tekan stang ke arah belokan dorong/tekan pegangan stang kiri – motor miring ke kiri – berbelok ke kiri dorong/tekan pegangan stang kanan – motor miring ke kanan – berbelok ke kanan teknik ini juga sering disebut counter steering ingat, makin tinggi kecepatan atau makin tajam belokan memerlukan kemiringan yg makin besar juga –

3. Putar

 putar lagi gas, pertahankan sepanjang belokan utk menstabilkan suspensi pertahankan kecepatan konstan atau percepat dng perlahan sepanjang belokan ini akan membuat motor makin stabil namun saat berbelok dalam kecepatan rendah di belokan tajam, lakukan counter balance dng memiringkan motor saja dan biarkan tubuh tetap tegak

4. Jalur kiri

pastikan tetap berada dijalur kiri, jika terlalu cepat mengambil ke kanan maka gaya geser ke luar semakin besar, kemungkinan bisa kebablasan yah, mentok .salah-salah batas portal tertabrak.

5. Berboncengan

Posisi pembonceng harus searah dengan pengendara, jangan berlawanan bro!! yang satu ke kanan yang satu ke kiri, bisa berakibat fatal karena pengendara akan sulit menyesuaikan keseimbangan. Jadi jika pengendara rebah ke kanan ikuti rebah ke kanan, jika ke kiri ikuti juga badan kita rebah kiri.

Demikian tips berbelok ditikungan, mudah-mudahan Anda semakin pandai berkendara.Jika Anda paham cara berkendara yang baik, tentu akan meminimalisir terjadinya kecelakaan baik bagi diri sendiri maupun pengendara yang lain. Sampai nanti dengan tips safety riding yang lain…

Previous Older Entries

Explore Pati

...menjemput keindahan alam, blusukan ke pelosok desa

Cerita Vakansi

a family travel blog

Bersepeda itu indah

Memulai Bersepeda bersama dan sampai finish bersama

CATATAN HATI

Torehan Kata Dari Sejuta Asa Tentang Kamu; Cinta

Padepokan Budi Rahardjo

belajar untuk menjadi manusia ...

Denina Boos's diary

Coretan Denina

Info seputar Gadget

Camera, Apple iPhone, Android, Software, Blackberry, Samsung

Anti Miras

Gerakan Nasional Anti Miras < 21 Tahun

Kehidupan Sehari-hari Pemuda/i Kalangan

Dusun Kalangan, Tirtohargo, Kretek, Bantul, Yogyakarta

SUZIE ICUS PERSONAL BLOG

Education is not preparation for life; education is life itself - John Dewey

Alfaris08's Blog

Just another WordPress.com weblog

Ajengkol's Blog

Just another WordPress.com site

Nurcahya Priyonugroho

Ayah Lala dan Lucky, Suami Dyah

ilmanakbar's Life Journal

Berbagi inspirasi dan hal-hal positif dalam hidup

Baca Baja

Baca Saja. Nulis Jarang.

irvankristanto

live and love the life

Labschool Jakarta

Pendidikan Terbaik Putra-Putri Anda